Hambatan yang Dihadapi Ibu Saat Masuk Dunia Kerja Usai Career Break
Bagi sebagian ibu, kembali bekerja setelah mengambil jeda karier bukan hal mudah. Setelah mengambil career break untuk melahirkan dan mengasuh anak, banyak ibu justru menghadapi hambatan saat ingin kembali ke dunia kerja.
Career break tersebut kemudian terbaca sebagai career gap dalam proses rekrutmen. Jeda karier untuk pengasuhan anak ini kerap memunculkan stigma, sehingga ibu menghadapi tantangan tambahan saat ingin kembali bekerja.
Hal ini diungkapkan oleh Chief of Human Resources Officer L’Oreal Indonesia, Victoria Aswien, dalam acara bertajuk Beauty That Moves: L'Oreal Reconnect Program di Jakarta Selatan, Jumat (12/12/2025).
“Kalau kita bicara mengenai challenge yang dihadapi, biasanya adalah pada saat perusahaan mencari calon karyawan, kita itu memang suka mengira kalau ada jeda karier,” ujar Victoria.
Ibu sering dianggap tidak fokus karena mengurus anak
Victoria menjelaskan, career gap pada perempuan kerap langsung dikaitkan dengan peran sebagai ibu. Asumsi yang muncul pun berbeda dibandingkan laki-laki yang mengambil jeda karier.
“Kalau misalnya ada gap untuk perempuan sama laki-laki, perlakuannya beda. Karena dianggapnya perempuan yang mengurusi anak,” kata Victoria.
Ia menuturkan, dari asumsi tersebut kemudian muncul kekhawatiran lanjutan yang tidak selalu relevan dengan kapasitas profesional kandidat. Penilaian kerap bergeser dari pengalaman dan kompetensi menjadi persoalan personal, terutama terkait peran pengasuhan.
Menurut Victoria, pertanyaan yang muncul biasanya berkaitan dengan kemampuan ibu dalam membagi fokus antara pekerjaan dan keluarga. Kekhawatiran ini sering kali muncul bahkan sebelum ibu diberi kesempatan menjelaskan latar belakang jeda kariernya.
“Apakah bisa fokus di kerjaan? Kalau dia harus mengurus anak, nanti bisa enggak ya mengatur waktu, kalau enggak bisa nanti ganggu output,” ungkap Victoria.
Ilustrasi WFH sama hewan peliharaan
Berdasarkan data dari Indonesia Business Coalition for Women Empowerment (IBCWE), saat memasuki fase pernikahan dan berkeluarga, banyak perempuan harus menjalani peran ganda antara pekerjaan dan tanggung jawab di rumah.
Beban yang berjalan bersamaan ini membuat hampir 40 persen perempuan memilih mengambil career break.
Meskipun demikian, keinginan untuk kembali bekerja tetap besar, yaitu sekitar 98 persen di antaranya menyatakan ingin kembali ke dunia kerja.
Rasa percaya diri ibu ikut menurun
Selain stigma dari luar, Victoria menuturkan bahwa ibu juga kerap menghadapi tekanan dari dalam diri.
Perubahan peran dari yang semula pekerja profesional kemudian menjadi ibu membuat sebagian perempuan mengalami penurunan rasa percaya diri..
Kondisi tersebut membuat ibu yang ingin kembali bekerja merasa harus mengejar ketertinggalan dan meragukan kemampuannya sendiri, meski sebenarnya mereka memiliki pengalaman dan kompetensi yang memadai.
Dunia kerja belum sepenuhnya ramah bagi ibu yang ingin kembali dari jeda karier
Victoria menilai tantangan ibu tidak berhenti pada stigma dan kepercayaan diri. Dunia kerja juga belum sepenuhnya menyediakan dukungan yang memadai bagi mereka yang kembali setelah mengambil jeda.
“Enggak semua perusahaan memberikan kesempatan dan juga bimbingan untuk orang-orang yang kembali, sehingga akhirnya ada gap di sana,” ujarnya.
Kurangnya program pendampingan, pelatihan ulang, atau skema kerja fleksibel membuat banyak ibu kesulitan membangun kembali karier.
Padahal, dengan dukungan yang tepat, ibu berpotensi kembali berkontribusi secara optimal di dunia kerja.
Dalam segala situasi, KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih dari lapangan. Kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme. Berikan apresiasi sekarang