Tantangan Berat Mewujudkan Inklusi di Dunia Kerja

Tantangan Berat Mewujudkan Inklusi di Dunia Kerja

Setiap individu lahir dan tumbuh dengan membawa berbagai identitas yang saling beririsan, mulai dari latar belakang pendidikan hingga pengalaman hidup. Istilahnya adalah interseksionalitas.

Keberagaman identitas inilah yang membentuk perjalanan dan perspektif yang berbeda-beda pada setiap orang, termasuk saat mereka memasuki dunia kerja profesional.

Dalam mewujudkan lingkungan kerja yang suportif, Executive Director Indonesia Business Coalition for Women Empowerment (IBCWE), Wita Krisanti, menuturkan, pemahaman tentang ragam identitas ini menjadi fondasi utama guna menerapkan kebijakan DEI, alias Diversity (Keberagaman), Equity (Kesetaraan), and Inclusion (Inklusi).

"Kenapa DEI ini penting untuk diperhatikan? Bayangkan kalau satu tempat kerja, atau satu komunitas, sama semua (orangnya). Hasilnya juga cuma begitu-begitu saja. Sementara kalau orangnya beragam, kita bisa membuat inovasi sebesar-besarnya," tutur Executive Director Indonesia Business Coalition for Women Empowerment (IBCWE), Wita Krisanti, dalam sesi diskusi bertajuk "Interseksionalitas: Menavigasi Berbagai Lapisan Hambatan dalam Kehidupan Profesional" yang diadakan oleh Uniqlo (4/3/2026).

Apa itu "Diversity, Equity, and Inclusion"?

Diversity atau keberagaman adalah ketika dalam suatu kelompok, atau dalam hal ini perusahaan, orang-orangnya terdiri dari berbagai gender, usia, ras, dan suku. Deretan hal ini dapat dengan mudah dilihat.

Setiap orang juga berbeda dari segi pendidikan, nilai yang dibawa, kesehatan mental, status ekonomi, sudut pandang, agama dan kepercayaan, status pernikahan, keluarga, dan pengalaman hidup.

"Berbagai aspek keberagaman yang terlihat itu hanya fenomena gunung es. Sementara yang lainnya, yang masih banyak yang belum terlihat, cara mengetahuinya adalah dengan proses komunikasi. Pengenalan lebih lanjut," jelas Wita.

Sementara itu, equity atau kesetaraan adalah memberikan hak, kesempatan, dan akses ke setiap orang secara setara sesuai dengan kebutuhan dan latar belakang setiap orang, tanpa memandang perbedaan.

Untuk inclusion atau inklusi, ini adalah ketika setiap orang yang berbeda-beda tersebut merasa "ada", diikutsertakan, dan menjadi bagian dari sebuah tempat kerja, komunitas, atau kelompok.

Tantangan Berat Mewujudkan Inklusi di Dunia Kerja

Ilustrasi karyawan gen Z

Mengapa penting diterapkan di tempat kerja?

Data menunjukkan bahwa penerapan DEI bukan sekadar tren, melainkan mesin penggerak kesuksesan bisnis.

Perusahaan dengan kepemimpinan yang beragam secara gender terbukti 28 persen lebih berpeluang mencapai performa finansial yang unggul, bahkan mampu mencatatkan profit hingga 50 persen lebih tinggi.

Tak hanya soal angka, inklusivitas juga menjadi kunci resiliensi dan kreativitas. Organisasi yang inklusif tercatat 1,7 kali lebih unggul dalam inovasi dan memiliki ketahanan 2,5 kali lebih kuat saat menghadapi masa krisis dibandingkan perusahaan konvensional lainnya.

Bagaimana dengan kondisi di Indonesia?

Di Indonesia, data dari IBCWE menunjukkan bahwa tantangan kesetaraan gender di dunia kerja masih sangat nyata.

"Sebetulnya, nenek moyang kita sudah sangat visioner. 'Bhinnka Tunggal Ika' kan berbeda-beda, tetapi tetap satu. Dan Indonsia sangat beragam. Sayangnya, PR kita masih banyak. Masih ada kesenjangan di tingkat partiipasi angkatan kerja perempuan, contohnya," ucap Wita.

Data mengungkap, partisipasi angkatan kerja perempuan baru mencapai kisaran 54-55 persen, tertinggal jauh dari laki-laki yang sudah menyentuh 84-85 persen.

Padahal, kehadiran perempuan di level strategis memberikan dampak positif nyata. Perbankan dengan jumlah perempuan yang lebih banyak di manajemen senior, terbukti memiliki manajemen risiko dan tingkat kepuasan nasabah yang lebih baik.

Namun, laporan Breaking Barriers dari ILO dan IBCWE mengungkapkan bahwa jalan menuju puncak karier bagi perempuan masih terjal. Dari 493 responden perempuan, mayoritas mengeluhkan beban pengasuhan yang berat, jalur promosi yang tidak transparan, hingga sulitnya akses terhadap mentor.

Hal ini tecermin dari data tahun 2021 yang menunjukkan hanya 15 persen perusahaan yang memiliki keterwakilan perempuan di tingkat eksekutif, bahkan hanya ada delapan CEO perempuan dari 200 perusahaan di Bursa Efek Indonesia (IDX200).

"Apalagi kalau kita ngomongin teman-teman penyandang disabilitas. Meskipun sudah ada aturannya, di Indonesia baru 1,73 persen perusahaan yang mempekerjakan teman-teman disabilitas," tutur Wita.

Oleh karena itu, penting bagi perusahaan untuk memiliki karyawan yang berbeda-beda dari banyak faktor, supaya bisa menghasilkan berbagai inovasi berkat beragam ide yang dicetuskan.

KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang