Gedung Putih Unggah Video Serangan ke Iran, Diawali Animasi Game Call of Duty

Gedung Putih, Iran, Call of Duty, Gedung Putih Unggah Video Serangan ke Iran, Diawali Animasi Game Call of Duty

Akun resmi Gedung Putih (White House) di media sosial mengunggah video serangan militer Amerika Serikat (AS) ke Iran yang disertai cuplikan animasi dari game Call of Duty: Modern Warfare 3.

Video tersebut berdurasi sekitar satu menit tersebut diunggah pada 4 Maret 2026 waktu setempat AS di platform X (Twitter) lewat akun resmi Gedung Putih dengan handle @WhiteHouse.

Konten ini sejatinya menampilkan sejumlah rekaman serangan militer AS ke berbagai target di Iran. Sekitar lima detik di awal video, pengguna bisa melihat animasi "Killstreak" dari game peperangan Call of Duty: Modern Warfare 3.

Animasi Killstreak ini biasanya muncul ketika pemain Call of Duty melakukan 30 eliminasi tanpa mati dalam game.

Dalam game tersebut, animasi Killstreak akan memanggil bom yang langsung mengakhiri pertandingan.

Pemerintah AS tidak menjelaskan alasan mengapa mereka mengunggah video serangan militer sungguhan yang diawali dengan cuplikan Killstreak dari game Call of Duty: Modern Warfare 3.

Namun yang jelas, mereka mengatakan bahwa video tersebut merupakan “Courtesy of the Red, White & Blue” yang intinya bisa berarti video tersebut dipersembahkan oleh AS (bendera AS berwarna merah, putih, dan biru). 

Pemilik lisensi waralaba (franchise) Call of Duty, Activision, begitu pula perusahaan induknya Xbox, juga belum memberikan pernyataan resmi atas pemakaian animasi game milik mereka di video dokumentasi perang yang melibatkan serangan AS ke Iran. 

Tuai kritikan

Gedung Putih, Iran, Call of Duty, Gedung Putih Unggah Video Serangan ke Iran, Diawali Animasi Game Call of Duty

Ilustrasi unggahan Gedung Putih yang pakai cuplikan video Killstreak dari Call of Duty Modern Warfare 3.

Penggunaan cuplikan animasi Killstreak dari game Call of Duty Modern Warfare 3 dalam dokumentasi perang sungguhan ini ternyata menuai kritikan.

Dalam kolom balasan di posting Gedung Putih di atas, sebagian besar pengguna kecewa lantaran menilai Gedung Putih tidak sensitif dan menganggap serangannya ke Iran sebagai lelucon. 

Adapun konten ini muncul beberapa hari setelah AS bergabung dengan Israel dalam serangan udara ke Iran. Serangan tersebut dilaporkan telah menewaskan ratusan orang.

Salah satu insiden yang disorot adalah serangan rudal yang mengenai sekolah dasar (SD) perempuan Shajareh Tayyebeh di Iran pada 28 Februari 2026. Laporan menyebutkan sejumlah anak termasuk di antara korban tewas.

AS dan Israel belum mengakui bertangung jawab atas serangan tersebut. Namun, Menteri Luar Negeri AS, Marco Rubio, mengatakan pihaknya masih menyelidiki insiden tersebut.

“Yang saya tahu saat ini adalah kami sedang menyelidikinya. Tentu saja kami tidak pernah menargetkan warga sipil, tetapi kami sedang melihat dan menyelidiki kejadian itu,” ujar Rubio.

Bukan pertama kali pakai referensi game

Gedung Putih, Iran, Call of Duty, Gedung Putih Unggah Video Serangan ke Iran, Diawali Animasi Game Call of Duty

Ilustrasi gambar buatan AI yang menggambarkan Trump yang pakai armor dari game Halo: The Master Chief Collection.

Ini bukan pertama kalinya pemerintahan Presiden AS Donald Trump menggunakan elemen budaya video game dalam konten resmi pemerintah.

Pada September 2025 lalu, Departemen Keamanan Dalam Negeri AS (Department of Homeland Security/DHS) pernah mengunggah video penangkapan imigran oleh petugas imigrasi dengan latar musik dari game Pokemon di X.

Di game tersebut, ada slogan populer "Gotta Catch 'Em All" yang merupakan misi pemain untuk mengumpulkan Pokemon (monster) sebanyak mungkin. Slogan ini juga dipakai DHS sebagai caption di posting di atas.

Sebulan kemudian, DHS juga memposting gambar dari game Halo yang menampilkan karakter prajurit "Master Chief" mengendarai kendaraan perang "Warthog" dengan teks “Finishing the fight” dan “Destroy the Flood”.

Ini sejatinya membandingkan imigran di AS dengan makhluk parasit (Flood) yang harus diberantas, sama seperti cerita dalam game Halo: The Master Chief Collection.

Pada bulan yang sama (Oktober 2025), akun resmi Gedung Putih juga sempat mengunggah gambar buatan kecerdasan buatan (AI) yang menampilkan Trump mengenakan armor hijau milik karakter yang ada di Halo: The Master Chief Collection.

Seorang juru bicara DHS sebelumnya mengatakan pemerintah ingin menjangkau masyarakat melalui konten yang dekat dengan budaya populer, termasuk video game.

Namun penggunaan elemen game dalam konteks militer dan politik ini menuai kritik dari sebagian pihak, termasuk dari kalangan industri game.

Salah satu pencipta seri Halo, Marcus Lehto, menyebut penggunaan citra game tersebut sebagai sesuatu yang “sangat menjijikkan”.

"Saya muak sekali game Halo dijadikan referensi dan dipakai dalam konteks seperti ini," kata Marcus, sebagaimana dirangkum KompasTekno dari Kotaku, Senin (9/3/2026). 

*********

KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang