Pertama Kali Sejak 17 Tahun! Bahlil Blak-blakan Kunci Sukses Liftting Minyak Capai Target APBN
Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM), Bahlil Lahadalia, menyamapiakan bahwa lifting minyak tahun ini sudah mencapai target yang ditetapkan di dalam Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) 2025. Ini merupakan pertama kali lifting minyak nasional bisa mencapai target sejak tahun 2008 silam.
Sepanjang bulan Januari hingga Oktober 2025, produksi minyak bumi, termasuk NGL (Natural Gas Liquids) berada di angka 605,5 ribu barel per hari. Jumlah ini melampaui target APBN yang ditetapkan sebesar 605 ribu barel per hari (bph).
Dengan sisa kurang dari satu bulan menuju tahun 2026, Bahlil optimis lifting minyak akan melampaui target seperti yang termaktud di dalam APBN. Sebagai informasi, produksi minyak bumi mengalami kenaikan mencapai 28,48 ribu bph dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya sebesar 577,02 ribu bph.
“Insyaallah di tahun 2025 ini, lifting kita bisa melampaui dari target APBN itu,” ujar Bahlil dalam acara Arah Bisnis 2026: Menuju Kedaulatan Ekonomi di Jakarta pada Senin, 8 Desember 2025.
Ilustrasi Harga Minyak
Bahlil menegaskan bahwa capaian ini menjadi titik balik penting, mengingat untuk pertama kalinya sejak 2008 lifting minyak Indonesia berhasil menyentuh target APBN. Penerimaan Negara Bukan Pajak (PNBP) sektor migas pun ikut meningkat, tercatat mencapai Rp85,89 triliun.
Dalam kesempatan tersebut, Bahlil membeberkan kenaikan lifting minyak tidak terjadi begitu saja. Ini merupakan hasil penerapan teknologi dan teknik produksi modern seperti fracking, enhanced oil recovery (EOR), hingga horizontal drilling yang dilakukan di lapangan minyak yang sudah ada di dalam negeri.
Selain faktor teknologi, pemerintah juga mempercepat regulasi dan memberikan insentif fiska. Di samping itu, mendorong peningkatan investasi eksplorasi di wilayah frontier untuk menarik minat investor hulu migas.
“Jadi, itu caranya. Teknologi, percepatan regulasi, insentif pemanis, izin-izinnya kami percepat,” ujar Bahlil.
Penyataan Bahlil sekaligus menegaskan bahwa cadangan minyak di Tanah Air masih ada. Hanya saja memerlukan bantuan teknologi agar produksi semakin optimal.
“Minyak kita ini ada, cuma dibutuhkan teknologi," kata Bahlil.
Adapun Ketua Satuan Tugas (Satgas) Percepatan Peningkatan Produksi/Lifting Migas, Nanang Abdul Manaf, turut melaporkan peningkatan lifting minyak dan gas pada 2025 merupakan yang pertama sejak 2016. Menurutnya, kenaikan ini merupakan hasil kontribusi dua proyek pengembangan lapangan migas di Blok B Offshore Natuna Selatan oleh Medco E&P Ltd, yakni Lapangan Forel-Bronang dan Lapangan Terubuk Siput.
“Proyek-proyek ini telah berkontribusi sekitar tambahan 20 ribu barel minyak per hari untuk lifting minyak dan 60 juta kaki kubik gas per hari,” kata Nanang.
Nanang menambahkan, saat ini rata-rata produksi minyak nasional naik menjadi 582 ribu barel per hari dari sebelumnya sebesar 580 ribu barel per hari. Jika diakumulasi dengan NGL (Natural Gas Liquids/cairan gas alam) maka setara 607 ribu barel per hari.
"Menjadikan ini peningkatan produksi pertama sejak 2016,” ujar Nanang. (Ant)