Cerita Bahlil Pabrik Lotte Chemical Pernah Mangkrak 6 Tahun, Kini Investasi Capai Rp 65 T

Menteri ESDM, Bahlil Lahadalia
Menteri ESDM, Bahlil Lahadalia

 Presiden RI, Prabowo Subianto, meresmikan pabrik New Ethylene Project PT Lotte Chemical Indonesia (LCI) di Cilegon, Banten, Kamis, 6 November 2025.

Proyek strategis hilirisasi migas senilai US$4 miliar atau sekitar Rp 65 triliun ini menjadi investasi petrokimia terbesar di Asia Tenggara dan tonggak baru kebangkitan industri kimia nasional.

Pabrik yang dirancang sebagai kompleks naphtha cracker pertama di Indonesia dalam 30 tahun terakhir ini merupakan investasi asal Korea Selatan yang pembangunannya dimulai pada 2016. Namun, perjalanan proyek tersebut tak berjalan mulus.

Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM), Bahlil Lahadalia, mengungkap bahwa proyek Lotte Chemical sempat mangkrak selama 5 hingga 6 tahun akibat persoalan lahan dan hambatan perizinan.

“Proyek ini sempat mangkrak 5–6 tahun saat kami jadi kepala BKPM, setelah itu membuat Satgas Investasi. Jadi yang menyelesaikan masalah tanah ini adalah kepolisian dan jaksa,” kata Bahlil.

Tak berhenti di situ, Bahlil juga menceritakan perjuangan diplomasi panjang untuk menyelamatkan proyek tersebut.

“Pada 2020–2021, saya sampai 10 kali ke Korea Selatan untuk mengurus lobi-lobi investasi petrokimia ini,” ujarnya.

Menurutnya, konstruksi proyek akhirnya dimulai kembali pada 2022 dan selesai dalam waktu tiga tahun.

“Proyek ini waktu kita memulai, minta ampun sulitnya. Jadi di tengah-tengah kawasan ini ada tanah 2,3 hektare yang dimiliki oleh orang lain, kemudian waktu itu kita selesaikan lewat Satgas Hilirisasi, kemudian ada kendala Covid-19,” tutur Bahlil.

"Proyek ini memiliki investasi sebesar Rp3,9 miliar tapi kelihatannya ada cost of run sehingga naik menjadi USD Rp4 miliar. Kalau dikurskan sekarang sudah mencapai kurang lebih sekitar Rp 65 triliunan. Menjadikan salah satu investasi petro dunia terbesar di Asia Tenggara," sambungnya.

Ia juga menambahkan bahwa pada 2024, proyek baru mencapai 65 persen progres fisik, namun berkat dorongan Satgas Hilirisasi, pembangunan berhasil dikebut hingga rampung tahun ini.

“Jadi proyek ini terbesar di Asia Tenggara. Mereka punya juga ada Lotte di Malaysia, tapi di sini yang paling besar,” tegasnya.

Pabrik Lotte Chemical ini dirancang menghasilkan 15 jenis produk utama, seperti etilena, propilena, dan berbagai bahan baku penting untuk industri hilir: peralatan medis, karet sintetis, kabel listrik, ban kendaraan, hingga produk manufaktur lainnya.

Dari total produksi, 70 persen akan dipasarkan di dalam negeri, sementara 30 persen diekspor ke berbagai negara. Nilai proyeksi penjualan mencapai US$2 miliar per tahun.

Pabrik ini akan mengolah bahan baku naphta (3,200kTA) menjadi berbagai produk hulu dan hilir, antara lain ethylene (1,000kTA), propylene (520kTA), pyrolysis gasoline (675kTA), hingga high density polyethylene dan polypropylene, bahan penting untuk pembuatan botol plastik, kabel, bumper mobil, dan alat medis.

Sebagai proyek petrokimia terpadu kedua setelah kompleks Chandra Asri di era Presiden Soeharto, kehadiran pabrik ini menjadi simbol kebangkitan industri hilir migas Indonesia.