Kerahkan Ratusan Kapal Perang di Perairan Dekat Taiwan, China Klaim Tindakan Sah
Kementerian Luar Negeri (Kemlu) China menegaskan pengerahan ratusan kapal militer di perairan Asia Timur – mmerupakan tindakan yang sah dan berada dalam koridor kebijakan pertahanan nasional China.
China dikabarkan mengerahkan sejumlah besar kapal angkatan laut dan penjaga pantai di perairan Asia Timur, bahkan mencapai lebih dari 100 kapal, dalam unjuk kekuatan maritim terbesar hingga saat ini, menurut empat sumber dan laporan intelijen yang dilaporkan Reuters.
"China berkomitmen pada kebijakan pertahanan nasional yang bersifat defensif," kata Lin Jian, juru bicara Kemlu China dikutip Sabtu, 6 Desember 2025.
Juru Bicara Kementerian Luar Negeri China Lin Jian
Menurut media, kapal-kapal militer China terlihat di perairan yang membentang dari bagian selatan Laut Kuning hingga ke bagian Laut China Selatan yang disengketakan. Pengerahan kekuatan besar-besaran itu perairan Asia Timur di tengah ketegangan diplomatik dengan Jepang terkait Taiwan.
"Pihak-pihak terkait tidak perlu bereaksi berlebihan dan menafsirkan secara berlebihan, apalagi membuat tuduhan yang tidak berdasar," kata Lin.
Dia juga menyebutkan hasil pertemuan antara Menteri Luar Negeri China Wang Yi dan Sekretaris Dewan Keamanan Rusia Sergei Shoigu di Moskow pada 2 Desember.
Tolak Fasisme Jepang
China dan Rusia, kata Lin, berkomitmen untuk terus bekerja sama mencegah tindakan provokatif kekuatan sayap kanan Jepang yang dianggap merusak perdamaian dan stabilitas di kawasan, serta berupaya menghidupkan kembali militerisme.
"China dan Rusia sepakat tegas menolak upaya kebangkitan kembali fasisme dan militerisme Jepang," katanya.
Menurut Lin, China dan Rusia juga berkomitmen pada tanggung jawab bersama sebagai negara besar dan anggota tetap Dewan Keamanan PBB untuk menegakkan perdamaian dan keamanan dunia serta membela kebenaran sejarah dan keadilan internasional.
China telah meningkatkan pengerahan kapal militer sejak 14 November setelah memanggil Duta Besar Jepang Kenji Kanasugi untuk memprotes pernyataan Perdana Menteri Sanae Takaichi bahwa Jepang bisa merespons secara militer jika Taiwan diserang.
China dikabarkan pula geram dengan pernyataan Taiwan yang berencana menambah anggaran pertahanan sebesar 40 miliar dolar AS (sekitar Rp667 triliun) untuk menghadapi China.
Bersamaan dengan pengerahan pesawat tempur, beberapa kapal perang China dikabarkan telah melakukan simulasi serangan terhadap kapal-kapal asing jika konflik benar-benar terjadi.