Analis Cemas Banjir Sumatera Pengaruhi Pertumbuhan Ekonomi di Kuartal IV-2025
Tim Analis Phintraco Sekuritas menilai, adanya bencana banjir Sumatera berpotensi menghambat pertumbuhan ekonomi pada kuartal IV-2025. Meskipun, menurut mereka dampaknya tidak dahsyat.
"Bencana banjir bandang di Sumatera dikhawatirkan berpotensi akan mempengaruhi pertumbuhan ekonomi di kuartal IV-2025, meskipun tidak signifikan," demikian pernyataan Tim Analis Phintraco Sekuritas dikutip VIVA dari riset hariannya pada Kamis, 4 Desember 2025.
Beberapa ekonom memprediksi pertumbuhan ekonomi selama triwulan IV cenderung lebih rendah dari proyeksi yang ditargetkan pemerintah yang di kisaran 5,6 persen hingga 5,7 persen.
Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) melaporkann jumlah korban banjir bandang dan longsor yang melanda sejumlah wilayah Aceh, Sumatera Utara (Sumut) dan Sumatera Barat (Sumbar) lebih dari tiga ribu orang. Dikutip berita VIVA pada tanggal 2 Desember 2025, korban meninggal sebanyak 604 orang, 2,6 ribu terluka dan 464 orang dinyatakan hilang.
Bencana ini tidak hanya menjadi sorotan masyarakat tanah air saja, dunia juga menaruh perhatian ke Indonesia. Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) hingga Raja Chales turut menyampaikan duka atas bencana tersebut.
Banjir di Kabupaten Serdang Bedagai (Sergai), Sumatera Utara
Analis Phintraco Sekuritas juga menyoroti pernyataan Menteri Keuangan (Menkeu) Purbaya Yudhi Sadewa yang membantah akan menarik kembali dana senilai Rp 276 triliun yang telah ditempatkan di himpunan bank negara (Himbara). Purbaya juga memastikan seluruh dana tersebut tetap digunakan untuk mendorong ekspansi kredit dan pertumbuhan ekonomi nasional.
Dikutip dari website Kementerian Keuangan pada Kamis, 4 Desember 2025, pertumbuhan ekonomi Indonesia pada triwulan III-2025 berada pada level 5,04 persen secara year on year (yoy). Pencapaian ini ditopang permintaan domestik dan kinerja ekspor yang kuat, investasi yang resilien, serta optimalisasi belanja pemerintah.
Permintaan domestik, konsumsi rumah tangga tercatat tumbuh 4,89 persen secara tahunan seiring meningkatnya mobilitas penduduk, pertumbuhan transaksi digital, serta dukungan kebijakan pemerintah. Dari sisi konsumsi pemerintah membukukan kenaikan sebesar 5,49 persen yang disumbangkan dari belanja barang dan belanja pegawai.
Masing-masing tumbuh 19,3 persen dan 9,0 persen. Ini merupakan wujud komitmen pemerintah untuk menjaga momentum pertumbuhan ekonomi dan menopang daya beli melalui percepatan dan optimalisasi belanja.
Sampai penutupan perdagangan hari ini, nilai tukar Rupiah melemah menjadi Rp 16.653 per dolar AS. Penurunan sejalan penguatan dolar AS terhadap mata uang negara-negara di kawasan Asia.
Sedangkan, Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) mempertahankan posisi di zona hijau sampai penutupan perdagangan Kamis, 4 Desember 2025. IHSG meguat 0,33 persen atau 28,41 poin ke level 8.640,2.