Menjaga Hubungan Pribadi Setelah Bercerai, Ini Peran Co-parenting

co-parenting, tips co parenting, cara co parenting, co parenting yang baik, menjaga hubungan setelah bercerai, Menjaga Hubungan Pribadi Setelah Bercerai, Ini Peran Co-parenting

Berpisah dari pasangan bukan berarti hubungan harus berakhir dengan ketegangan atau drama.

Bagi orangtua yang memilih tetap terlibat dalam kehidupan anak, pola co-parenting dapat menjadi strategi dewasa untuk menjaga stabilitas anak sekaligus hubungan pribadi yang sehat.

Psikolog Anak dan Remaja Vera Itabiliana Hadiwidjojo menjelaskan bahwa co-parenting adalah kerjasama antara dua orangtua dalam mengasuh dan memenuhi kebutuhan anak, meskipun hubungan romantis mereka telah berubah, baik karena perceraian, berpisah, atau tidak tinggal serumah.

“Fokusnya bukan pada hubungan orangtua sebagai pasangan, tetapi pada hubungan keduanya sebagai tim pengasuhan yang konsisten dan saling mendukung demi kebaikan anak,” ujar Psikolog Vera saat dihubungi Kompas.com, beberapa waktu lalu.

Dengan pendekatan ini, anak dapat merasakan rasa aman dan stabil, karena melihat kedua orangtuanya tetap hadir dan terlibat dalam kehidupannya.

Mereka juga belajar mengelola emosi dengan lebih baik, karena melihat konflik ditangani secara sehat.

Anak tidak merasa harus memilih salah satu orangtua dan hubungan dengan kedua orangtua tetap hangat, karena masing-masing tetap berperan aktif.

Selain itu, stres anak juga berkurang karena mereka tidak terjebak dalam konflik atau ketegangan keluarga.

co-parenting, tips co parenting, cara co parenting, co parenting yang baik, menjaga hubungan setelah bercerai, Menjaga Hubungan Pribadi Setelah Bercerai, Ini Peran Co-parenting

Ilustrasi gaya parenting yang bikin anak menjadi kuat dan tangguh

Manfaat co-parenting bagi orangtua

parenting yang dijalankan dengan baik juga membawa dampak positif bagi hubungan pribadi orangtua.

Psikolog Vera menjelaskan bahwa orangtua akan terdorong menjadi lebih dewasa dan fungsional, karena fokusnya bukan lagi pada masalah masa lalu atau relasi yang sudah berakhir, melainkan kebutuhan anak.

Selain itu, komunikasi yang terstruktur dan jelas membantu meredakan konflik dan mencegah pertengkaran yang bisa mengganggu hubungan pribadi.

Dengan kata lain, co-parenting tidak hanya menguntungkan anak, tetapi juga membantu orangtua tetap profesional dan menjaga kualitas interaksi antar-mantan pasangan.

Tantangan yang sering muncul dalam co-parenting

Kendati begitu, co-parenting juga tidak selalu mudah. Beberapa tantangan yang umum terjadi antara lain:

  • Perbedaan gaya pengasuhan, misalnya soal disiplin, screen time, atau pilihan sekolah.
  • Komunikasi yang tidak konsisten atau emosional.
  • Luka masa lalu yang masih terbawa, sehingga interaksi bisa tegang.
  • Masalah logistik seperti jadwal penjemputan atau pembagian tanggung jawab.
  • Batasan yang belum jelas, terutama saat salah satu orangtua mulai berpasangan lagi.
  • Psikolog Vera menekankan bahwa tantangan-tantangan ini wajar, tetapi bisa dikelola selama kedua pihak tetap menempatkan anak sebagai prioritas utama.

Tips co-parenting agar tetap sehat dan profesional

Bagi orangtua yang ingin menjalankan co-parenting dengan efektif, Psikolog Vera memberikan beberapa prinsip praktis:

  • Pisahkan emosi pribadi dari kebutuhan anak

Fokus pada apa yang terbaik untuk anak, bukan apa yang paling nyaman bagi orangtua.

  • Gunakan komunikasi yang jelas dan terstruktur

Kalau sulit menahan emosi saat berbicara langsung, gunakan pesan tertulis atau platform khusus co-parenting.

  • Terapkan prinsip negosiasi win-win

Cari titik tengah yang tetap memprioritaskan kesejahteraan anak. Ingat, yang "menang" adalah anak.

  • Minta bantuan pihak ketiga bila perlu

Mediator keluarga atau psikolog bisa membantu meredakan konflik yang sulit diatasi sendiri.

  • Kelola emosi diri sendiri

Anak butuh orangtua yang tenang, bukan perfeksionis atau reaktif.

  • Bangun komunikasi profesional seperti bekerja dengan kolega

Hargai kontribusi masing-masing orangtua, meskipun caranya berbeda.

  • Jaga fleksibilitas

Jadwal boleh berubah sesekali, selama tetap memprioritaskan kestabilan anak.

  • Libatkan anak sesuai usia

Semakin besar anak, semakin layak mereka dilibatkan dalam pengambilan keputusan yang menyangkut co-parenting.

Dengan menerapkan prinsip-prinsip ini, orangtua dapat menjalankan co-parenting tanpa drama, menjaga hubungan pribadi tetap sehat, sekaligus memberikan lingkungan yang aman, nyaman, dan penuh cinta bagi anak.

Co-parenting bukan hanya strategi pengasuhan, tetapi juga bentuk kedewasaan emosional bagi orangtua yang berpisah.

Dalam segala situasi, KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih dari lapangan. Kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme. Berikan apresiasi sekarang