Belajar dari Para Seleb yang Terapkan Co-parenting, Ini Manfaatnya bagi Anak

Sejumlah pasangan selebritas di Indonesia memilih untuk tetap menjaga hubungan baik demi anak meski rumah tangga mereka sudah berakhir.
Pola ini dikenal sebagai co-parenting, yaitu kerja sama antara dua orangtua dalam mengasuh dan memenuhi kebutuhan anak meskipun hubungan romantis mereka sudah berubah.
Beberapa selebritas yang menerapkan co-parenting ialah Natasha Rizky dan Desta, Gading Marten dan Gisella Anastasia, Acha Septriasa dan Vicky Kharisma, hingga Ben Kasyafani dan Marshanda.
Menurut Psikolog Anak dan Remaja Vera Itabiliana Hadiwidjojo, co-parenting menempatkan kepentingan anak di atas dinamika mantan pasangan.
parenting adalah kerjasama antara dua orangtua dalam mengasuh dan memenuhi kebutuhan anak, meskipun hubungan romantis mereka sudah berubah, baik itu bercerai, berpisah, atau tidak tinggal dalam satu rumah, ujarnya saat dihubungi Kompas.com, Rabu (26/11/2025).
Fokusnya bukan lagi pada relasi orangtua sebagai pasangan, tetapi pada peran mereka sebagai satu tim pengasuhan yang konsisten, terstruktur, dan saling mendukung.
Pendekatan ini dapat memberi banyak manfaat bagi anak, mulai dari rasa aman yang lebih stabil, regulasi emosi yang lebih baik, hingga mengurangi stres akibat konflik keluarga.
Selama komunikasi terjaga dan aturan jelas, co-parenting dapat menjadi cara dewasa untuk memastikan tumbuh kembang anak tetap optimal meski orangtua tidak lagi bersama.
Ilustrasi gaya parenting yang bikin anak menjadi kuat dan tangguh
Manfaat co-parenting bagi anak
Psikolog Vera menjelaskan, co-parenting yang dijalankan dengan baik dapat membawa dampak positif signifikan bagi anak, antara lain:
- Rasa aman dan stabil
Anak merasa kedua orangtua tetap hadir dan terlibat, sehingga merasa dicintai dan dihargai oleh keduanya.
- Regulasi emosi yang lebih baik
Anak belajar bahwa konflik bisa dikelola secara sehat, sehingga tidak terjebak dalam ketegangan keluarga.
- Hubungan lebih dekat dengan kedua orangtua
Karena masing-masing orangtua tetap berperan aktif, anak tidak merasa harus memilih salah satu pihak.
- Mengurangi stres
Minimnya konflik atau drama keluarga membuat anak lebih nyaman dan fokus pada aktivitas sehari-hari.
Tantangan yang sering muncul dalam co-parenting
Meski bermanfaat, co-parenting tidak selalu mudah dijalankan. Beberapa kendala yang biasa muncul antara lain:
- Perbedaan gaya pengasuhan, misalnya soal disiplin, screen time, atau pilihan sekolah.
- Komunikasi yang tidak konsisten antara orangtua.
- Luka atau emosi masa lalu yang masih terbawa dalam interaksi.
- Masalah logistik seperti jadwal, penjemputan, atau pembagian tanggung jawab.
- Boundary yang belum jelas, terutama ketika salah satu orangtua mulai berpasangan lagi.
Tips co-parenting yang sehat dari psikolog
Bagi yang sedang menerapkan co-parenting, Psikolog Vera menyarankan beberapa prinsip penting agar co-parenting berjalan efektif:
- Pisahkan emosi pribadi dari kebutuhan anak, fokus pada "apa yang terbaik untuk anak".
- Gunakan komunikasi yang jelas, singkat, dan terstruktur; bisa lewat pesan tertulis bila bicara langsung sulit menahan emosi.
- Terapkan prinsip negosiasi win-win, sehingga anak menjadi pihak yang "menang".
- Minta bantuan mediator keluarga atau psikolog jika konflik sulit mereda.
- Bangun regulasi emosi diri sendiri, anak butuh orangtua yang tenang, bukan perfeksionis.
- Fleksibel dan realistis dalam aturan, sambil tetap memprioritaskan kestabilan anak.
- Libatkan anak dalam pengambilan keputusan sesuai usianya, sehingga merasa dihargai.
Co-parenting bukan hanya tren selebritas, tetapi juga strategi pengasuhan yang dewasa dan bermanfaat bagi anak.
Dengan komunikasi yang baik, aturan yang jelas, dan fokus pada kepentingan anak, orangtua dapat menjaga hubungan profesional dan fungsional setelah berpisah.
Anak juga dapat tumbuh dengan aman, nyaman, dan tetap dekat dengan kedua orangtuanya.
Dalam segala situasi, KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih dari lapangan. Kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme. Berikan apresiasi sekarang