Dianggap Menguntungkan Anak yang Tidak Divaksin, Apa Itu Herd Immunity?

Di media sosial, banyak orangtua anti-vaksin yang merasa diuntungkan oleh herd immunity (kekebalan kelompok) karena anaknya tidak mudah sakit, sehingga mereka tetap teguh pada pendiriannya.
Namun, apa itu herd immunity?
“Herd immunity adalah kekebalan yang terjadi pada suatu populasi akibat pemberian vaksinasi,” terang dr. Yuni Astria, Sp.A saat ditemui di Jakarta Selatan pada Selasa (18/10/2025).
Herd immunity akan muncul ketika dalam satu populasi, sebanyak 80 persen anggota populasi tersebut, sudah divaksinasi. Namun, persentasenya berbeda-beda untuk setiap vaksinasi.
“Kalau untuk campak itu dibutuhkan sekitar 90 persen yang harus sudah divaksinasi untuk bisa menimbulkan herd immunity pada populasi itu,” ujar dr. Yuni.
Herd immunity dan anak yang tidak divaksin
Tidak semua orangtua memvaksinasi anaknya karena berbagai macam faktor, mulai dari perbedaan pendapat tentang kesehatan anak, khawatir akan efek sampingnya, sampai ragu karena bingung vaksin apa saja yang diperlukan.
Meski tidak divaksin, ada beberapa orangtua yang mengaku bahwa anaknya belum pernah sakit. Warganet pun merespons bahwa anaknya terlindungi oleh herd immunity.
Hal tersebut menimbulkan pertanyaan, benarkah anak yang tidak divaksin, tidak pernah sakit karena herd immunity atau murni karena faktor keberuntungan?
“Nanti agak sulit untuk bisa mencegah sakit pada seorang anak,” kata dr. Yuni.
Sejak lahir sampai saat ini, anak memang belum pernah sakit. Namun, bukan berarti mereka akan selamanya tidak pernah sakit.
Vaksinasi dan aspek lainnya yang menunjang tumbuh kembang anak
Vaksinasi adalah cara orangtua mencegah sang buah hati mengalami komplikasi berat dari suatu penyakit, serta anak sakit berulang.
Namun, vaksin bukan satu-satunya yang bisa menunjang tumbuh kembang anak. Ada beberapa aspek yang perlu dipenuhi agar anak tumbuh dan berkembang dengan optimal demi mencapai potensi terbaik mereka.
“Vaksinasi harus saling berkolaborasi dengan komponen-komponen lain, seperti asupan nutrisi, kemudian juga tidurnya cukup, kemudian dia lingkungannya juga sejahtera, paparan asap rokok minim, dan paparan polutan juga diupayakan minim,” tutur dr. Yuni.
Untuk asupan nutrisi, ayah dan ibu harus memenuhi kebutuhan makronutrien dan mikronutrien anak.
Makronutrien adalah karbohidrat, protein, lemak, dan serat, sedangkan mikronutrien adalah vitamin dan mineral.
Dokter spesialis anak yang berpraktik di Klinik AGP Arthakes, Jakarta Selatan ini menambahkan, bahwa kebersihan diri dan lingkungan juga diperlukan.
Misalnya adalah rumah yang bersih, dan kebiasaan mencuci tangan dengan sabun dan air mengalir sebelum makan.
“Semuanya saling berkaitan, enggak bisa semua berdiri sendiri. Harus saling berkolaborasi supaya tumbuh kembang anak bisa optimal,” kata dia.
Seputar vaksinasi pada anak
Kapan anak perlu divaksinasi?
Dikutip dari situs web Ayo Sehat yang dikelola oleh Kementerian Kesehatan Republik Indonesia (Kemenkes RI) telah menetapkan rangkaian imunisasi dasar yang bisa dimulai sejak anak berusia nol bulan.
Berikut vaksin dasar yang wajib diberikan pada bayi baru lahir sampai usia dua tahun:
Usia 0-6 bulan
- Vaksin hepatitis B berfungsi untuk mencegah penularan hepatitis B. Vaksin diberikan sebanyak empat kali, yaitu 24 jam setelah bayi lahir, serta di usia dua, tiga, dan empat bulan.
- Vaksin DPT berfungsi untuk mencegah penularan penyakit difteri, batuk rejan, tetanus, hepatitis B, meningitis, dan pneumonia. Vaksin diberikan sebanyak tiga kali, yaitu pada usia dua, tiga, dan empat bulan.
- Vaksin BCG (Bacillus Calmette-Guerin) berfungsi untuk mencegah penularan tuberkulosis dan polio. Vaksin diberikan sebanyak satu kali pada usia nol sampai satu bulan.
- Vaksin HiB (Haemophilus influenzae type b) berfungsi untuk mencegah infeksi HiB. Vaksin diberikan sebanyak tiga kali, yaitu pada usia dua, tiga, dan empat bulan.
- Vaksin polio berfungsi untuk mencegah penyakit polio dan diberikan sebanyak empat kali sebelum anak berusia satu tahun, yaitu pada usia satu, dua, tiga, dan empat bulan.
- Vaksin PCV (pneumokokus) berfungsi untuk mencegah infeksi bakteri pneumokokus yang menyebabkan pneumonia dan meningitis. Vaksin diberikan sebanyak tiga kali pada usia dua, empat, dan enam bulan.
- Vaksin Rotavirus berfungsi untuk melindungi anak dari infeksi virus penyebab diare, dan diberikan sebanyak dua kali pada usia enam minggu dan empat minggu setelahnya, atau maksimal di usia 24 minggu.
Usia 6-12 bulan
- Vaksin influenza berfungsi untuk mencegah penularan influenza atau flu. Vaksin diberikan saat anak berusia enam bulan, kemudian dilanjutkan setahun sekali saat memasuki usia 18 bulan hingga 18 tahun.
- Vaksin JE (Japanese Encephalitis) berfungsi untuk mencegah radang otak, dan diberikan satu kali saat anak berusia 10 bulan. Kemudian adalah vaksin booster saat anak berusia dua sampai tiga tahun.
- Vaksin MMR (Measles Mumps Rubella) berfungsi untuk mencegah penyakit campak, gondok, dan rubella, dan diberikan saat anak memasuki usia sembilan bulan.
Usia 12-24 bulan
- Vaksin hepatitis A berfungsi untuk mencegah penyakit hepatitis A, dan diberikan sebanyak dua kali yaitu pada usia 12 bulan dan dilanjutkan enam sampai 12 bulan kemudian.
- Vaksin Varisela berfungsi untuk melindungi anak dari virus varisela penyebab cacar air, dan diberikan sebanyak dua kali pada usia 12 sampai 18 bulan, dengan interval enam minggu sampai tiga bulan.
Untuk mengetahui lebih lanjut seputar vaksinasi anak, kamu bisa langsung mengunjungi klinik, puskesmas, atau rumah sakit terdekat.
Dalam segala situasi, KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih dari lapangan. Ikuti terus update topik ini dan notifikasi penting di Aplikasi KOMPAS.com.