Jangan Tunggu Sakit! Ini Pentingnya Vaksin Dewasa dan EV71 yang Tak Boleh Dianggap Sepele
Perlindungan kesehatan keluarga tidak hanya bergantung pada pola hidup sehat dan pengobatan saat sakit. Di tengah meningkatnya kasus penyakit menular, vaksinasi menjadi salah satu langkah pencegahan yang semakin penting dilakukan, bukan hanya untuk anak-anak tetapi juga orang dewasa.
Banyak masyarakat masih menganggap vaksin hanya dibutuhkan saat masa kanak-kanak. Padahal, orang dewasa tetap memiliki risiko tertular sekaligus menularkan berbagai penyakit infeksi kepada orang di sekitarnya, terutama bayi, lansia, hingga anggota keluarga dengan kondisi kesehatan tertentu.
Dokter spesialis penyakit dalam, Visakha Revena Irawan, menjelaskan bahwa vaksin dewasa masih sering dianggap tidak penting oleh masyarakat.
“Yang sepertinya orang itu gak terlalu familiar ya. Karena kita biasanya familiar untuk vaksin anak, bukan dewasa,” jelas Dokter Visakha dalam diskusi kesehatan bertajuk Pentingnya Vaksin Dewasa dan Vaksin EV71 HFMD yang diadakan Kalventis bersama Mandaya Royal Hospital Puri di Tangerang pada Jumat, 29 Mei 2026.
Padahal, menurutnya, perlindungan dari beberapa jenis vaksin tidak berlangsung seumur hidup sehingga orang dewasa tetap membutuhkan booster atau vaksin ulang.
“Tidak semua vaksin itu bisa kasih kita proteksi seumur hidup. Mostly-nya kita perlu booster,” katanya.

Ia juga mengingatkan bahwa orang dewasa dengan aktivitas tinggi lebih rentan terpapar penyakit karena mobilitas yang besar, sering bepergian, hingga lingkungan kerja yang beragam.
“Orang dewasa itu bisa banget bawa penyakit ke rumah,” ujarnya.
Hal tersebut menjadi penting karena bayi, lansia, dan penderita penyakit kronis memiliki sistem imun yang lebih rentan dibanding orang dewasa sehat. Karena itu, vaksinasi tidak hanya melindungi diri sendiri, tetapi juga membantu menjaga anggota keluarga lain agar tidak tertular penyakit.
Selain vaksin influenza yang dianjurkan setiap tahun, vaksin lain seperti hepatitis B, pneumokokus, dengue, tetanus, hingga Japanese Encephalitis juga mulai banyak direkomendasikan sesuai kondisi dan aktivitas seseorang.
Di sisi lain, meningkatnya kasus HFMD atau Flu Singapura juga menjadi perhatian serius. Perhatian terhadap pentingnya vaksin kembali meningkat setelah kasus HFMD terus ditemukan di berbagai daerah di Indonesia. Penyakit yang banyak menyerang anak-anak ini dapat menyebar dengan sangat cepat di lingkungan sekolah maupun rumah.
Berdasarkan data Kementerian Kesehatan hingga minggu ke-18 tahun 2026, terdapat lebih dari 18 ribu kasus suspect HFMD di Indonesia, dengan Jawa Barat menjadi salah satu wilayah dengan jumlah kasus tertinggi.
Dokter spesialis anak, Handayani, menjelaskan bahwa HFMD bukan sekadar penyakit ringan dengan ruam biasa.
“HFMD bukan sekadar ruam biasa. HFMD yang disebabkan oleh virus EV71 berpotensi menimbulkan komplikasi serius,” jelasnya.
Ia menerangkan bahwa virus EV71 dapat menyebabkan gangguan serius seperti radang otak, gangguan saraf, hingga gagal napas pada anak.
“Virusnya itu lebih bandel, lebih tahan, dan bisa nembus sampai ke saraf anak,” ujar Dokter Handayani.

Gejala HFMD biasanya dimulai dengan demam tinggi, sakit tenggorokan, anak menjadi lemas, hingga muncul ruam dan lepuhan di tangan, kaki, dan sekitar mulut. Kondisi tersebut sering membuat anak sulit makan dan minum sehingga berisiko mengalami dehidrasi.
Penularannya pun sangat cepat. Dalam pemaparannya, Dokter Handayani menyebut satu anak yang terinfeksi bisa menularkan penyakit kepada banyak anak lain di sekitarnya.
“Satu anak saja yang misalnya ternyata infeksi HFMD itu bisa menular ke 12 anak di sekitarnya,” katanya.
Virus penyebab HFMD dapat menyebar lewat percikan air liur, kontak langsung, mainan, hingga permukaan benda yang terkontaminasi. Karena itu, menjaga kebersihan tangan dan lingkungan bermain anak menjadi langkah penting untuk pencegahan.
Selain menjaga kebersihan, vaksin EV71 HFMD kini menjadi salah satu upaya perlindungan tambahan yang mulai diperhatikan. Vaksin ini dapat diberikan pada anak mulai usia 6 bulan hingga sebelum usia 6 tahun.
“Vaksin itu dosisnya sudah bisa dilakukan di Indonesia mulai dari usia 6 bulan,” terangnya.
Ia menjelaskan bahwa vaksin bekerja dengan mengenalkan bagian virus yang sudah tidak aktif ke dalam tubuh agar sistem imun anak dapat mengenali dan melawan virus saat terpapar di kemudian hari.
“Jadi nanti berikutnya pas ketemu langsung bunuh,” jelasnya saat menggambarkan cara kerja vaksin terhadap virus EV71.
Dengan meningkatnya mobilitas masyarakat dan tingginya penyebaran penyakit menular, vaksinasi kini mulai dipandang sebagai salah satu investasi kesehatan jangka panjang untuk menjaga kualitas hidup keluarga.