Mengenang 10 Pahlawan Perempuan Indonesia, Namanya Abadi di Buku Sejarah hingga Uang Kertas!

Makam pahlawan nasional asal Aceh Cut Nyak Dhien, di Sumedang, Jawa Barat.
Makam pahlawan nasional asal Aceh Cut Nyak Dhien, di Sumedang, Jawa Barat.

 Setiap memperingati Hari Pahlawan, kita sering teringat dengan kisah perjuangan para pejuang di medan perang. Tak hanya pejuang laki-laki, sejarah juga mencatat bahwa kemerdekaan Indonesia juga lahir berkat keberanian dan pengorbanan para pahlawan perempuan. 

Mereka tidak hanya angkat senjata, tapi juga berjuang lewat pendidikan, jurnalisme, hingga organisasi sosial demi mewujudkan cita-cita kemerdekaan.

Berikut sepuluh pahlawan nasional wanita Indonesia, sebagaimana dirangkum pada Senin, 10 November 2025.

1. R.A. Kartini

Di urutan pertama ada Raden Adjeng Kartini. Ia adalah sosok yang memperjuangkan hak perempuan untuk bersekolah di masa kolonial.

 Melalui surat-suratnya yang kemudian dibukukan menjadi Habis Gelap Terbitlah Terang, Kartini menyalakan semangat emansipasi dan kesetaraan.

Raden Ajeng Kartini.

Namanya diresmikan sebagai Pahlawan Nasional pada 2 Mei 1964 lewat Keputusan Presiden Nomor 106 Tahun 1964. Hingga kini, Hari Kartini diperingati setiap 21 April sebagai bentuk penghargaan atas perjuangannya.

2. Cut Nyak Dhien

Dikenal sebagai simbol keberanian perempuan Aceh, Cut Nyak Dhien memimpin pasukan dalam Perang Aceh melawan Belanda. Ia dikenal dengan strategi gerilya yang efektif dan semangat pantang menyerah meski harus kehilangan banyak hal. 

Atas jasanya, pemerintah menetapkannya sebagai Pahlawan Nasional melalui Keputusan Presiden Nomor 106 Tahun 1964 dan memberinya gelar “Ratu Aceh”.

3. Dewi Sartika

Dari Jawa Barat, lahir tokoh pendidikan perempuan bernama Dewi Sartika. Ia mendirikan sekolah khusus perempuan bernama Sekolah Kaoetamaan Isteri di Bandung pada awal 1900-an. Dewi Sartika dianugerahi penghargaan Orde van Oranje-Nassau dan dinyatakan sebagai Pahlawan Nasional pada 1 Desember 1966 berdasarkan Keputusan Presiden No. 252 Tahun 1966.

4. Rasuna Said

Dikenal lantang menyuarakan hak-hak perempuan dan kemerdekaan bangsa, Hajjah Rangkayo Rasuna Said memperjuangkan Indonesia lewat jalur politik dan pendidikan. Pidato-pidatonya yang berani melawan penjajahan membuatnya dikenang sebagai tokoh perempuan progresif. Ia dianugerahi gelar Pahlawan Nasional pada 13 November 1974 melalui Keputusan Presiden No. 084/TK/1974.

5. Nyai Ahmad Dahlan 

Siti Walidah, atau Nyai Ahmad Dahlan, dikenal karena kiprahnya dalam pemberdayaan perempuan lewat pendidikan dan sosial kemasyarakatan. Bersama suaminya, pendiri Muhammadiyah, ia mendirikan organisasi Aisyiyah untuk mendukung peran perempuan dalam masyarakat. Pemerintah menganugerahinya gelar Pahlawan Nasional pada 22 September 1971 melalui Keppres No. 042/TK/1971.

6. Maria Walanda Maramis

Di Sulawesi Utara, Maria Walanda Maramis menjadi pelopor organisasi perempuan dengan mendirikan PIKAT (Percintaan Ibu Kepada Anak Turunannya) pada 1917. Ia juga membangun sekolah rumah tangga untuk memberdayakan kaum wanita agar mandiri secara ekonomi. Maria ditetapkan sebagai Pahlawan Nasional pada 20 Mei 1969 melalui Keppres No. 012/TK/1969.

7. Martha Christina Tiahahu

Sejak usia 17 tahun, Martha Christina Tiahahu sudah ikut berperang melawan Belanda di Tanah Maluku. Ia dijuluki “Srikandi dari Nusa Laut” karena semangat juangnya yang luar biasa meski masih sangat muda. Martha diangkat sebagai Pahlawan Nasional pada 20 Mei 1969 melalui Keppres No. 012/TK/1969.

8. Roehana Koeddoes

Lahir di Koto Gadang, Sumatra Barat, Roehana Koeddoes menjadi pelopor jurnalisme dan pendidikan perempuan. Ia mendirikan Kerajinan Amai Setia (KAS) pada tahun 1911, organisasi yang memberdayakan perempuan Melayu Minangkabau. Atas dedikasi panjangnya, Presiden Joko Widodo menetapkannya sebagai Pahlawan Nasional pada 8 November 2019.

9. Cut Nyak Meutia

Satu lagi pahlawan tangguh dari Aceh, Cut Nyak Meutia, yang memimpin perlawanan bersenjata melawan Belanda setelah gugurnya sang suami. Wajahnya kini menghiasi uang kertas Rp1.000 sebagai bentuk penghormatan. Gelar Pahlawan Nasional diberikan padanya pada 2 Mei 1964 melalui Keppres Nomor 107 Tahun 1964.

10. Opu Daeng Risadju 

Perempuan Bugis bernama asli Famajjah ini memimpin perlawanan terhadap penjajahan Belanda di Sulawesi Selatan. Dikenal dengan gelar bangsawan “Opu Daeng Risadju”, ia menolak menyerah meski harus menghadapi tekanan besar. Pemerintah menetapkannya sebagai Pahlawan Nasional pada 3 November 2006 melalui Keppres No. 085/TK/2006.

Sepuluh pahlawan wanita Indonesia di atas menunjukkan bahwa perjuangan tidak hanya ditentukan oleh kekuatan fisik, tetapi juga kecerdasan, tekad, dan pengabdian. Dalam momen Hari Pahlawan, mari meneladani semangat mereka untuk terus berkarya, membela kebenaran, dan memperjuangkan kemajuan bangsa.