Permintaan Maaf Sarwendah Cuma Gimmick? Pakar Ekspresi: Ini Pertunjukan Drama Teatrikal

Sarwendah
Sarwendah

 Video permintaan maaf yang disampaikan oleh Sarwendah setelah kemarahannya viral di media sosial masih terus menjadi bahan perbincangan publik. Alih-alih meredakan polemik yang berkembang, klarifikasi dari mantan personel Cherrybelle tersebut justru memunculkan analisis baru dari seorang pakar mikro ekspresi yang mempertanyakan ketulusan di balik pernyataannya.

Sorotan tersebut datang dari pakar ekspresi Kirdi Putra yang mengulas secara mendalam isi video permintaan maaf Sarwendah. Dalam analisis yang diunggah melalui kanal YouTube, Kirdi menilai bahwa pernyataan maaf yang disampaikan sang artis belum memenuhi unsur-unsur penting yang lazim ditemukan dalam sebuah permohonan maaf yang tulus.

ADVERTISEMENT

GULIR UNTUK LANJUT BACA

Menurut Kirdi, terdapat sejumlah aspek verbal yang menjadi perhatian utama. Ia menjelaskan bahwa permintaan maaf yang benar umumnya memiliki tiga komponen penting, yakni menyebutkan siapa yang meminta maaf, kepada siapa permintaan maaf ditujukan, serta menjelaskan secara spesifik kesalahan yang dilakukan.

Dalam pandangannya, Sarwendah memang telah memenuhi syarat pertama dengan menyatakan dirinya sebagai pihak yang meminta maaf. Namun, dua unsur lainnya dinilai tidak terlihat secara jelas dalam video tersebut.

Kirdi menyoroti bahwa Sarwendah tidak secara spesifik menyebut pihak yang menjadi sasaran dari ucapan kontroversialnya. Permintaan maaf yang disampaikan justru ditujukan secara umum kepada masyarakat, keluarga, anak-anak, hingga para penggemarnya.

Selain itu, ia juga menilai tidak ada penjelasan rinci mengenai tindakan atau ucapan yang menjadi alasan utama munculnya permintaan maaf tersebut.

"Kalau kita bicara tentang apa yang dilakukan oleh Sarwendah, Sarwendah tidak cerita, tidak ngomong, tidak mengucapkan kenapa dia minta maaf," ujar Kirdi, dikutip dari YouTube Reyben Entertainment pada Minggu 7 Juni 2026.

"Misalnya, (minta maaf) karena saya telah menyindir mengatakan dua ratus juta itu beberapa kali live doang. Terus kemudian mengatakan kata-kata makian, misalnya."

"Nah, dia gak ngomong (alasan minta maafnya karena apa). Orang yang bener-bener mengucapkan, menyampaikan 'saya minta maaf ke si A, karena ini (alasannya)' secara spesifik, itu adalah orang yang sudah menurunkan egonya untuk dia minta maaf, dia malu, dia sedih, dia takut, tapi Wendah tidak melakukan itu," jelas Kirdi.

Lebih jauh, Kirdi menilai bahwa pola komunikasi yang ditampilkan dalam video tersebut justru memperlihatkan fokus yang berbeda dari sekadar penyesalan. Ia menyoroti penggunaan kata "penggemar" yang disebut berulang kali dalam video, sementara penyebutan keluarga maupun masyarakat hanya muncul satu kali.

Menurutnya, pengulangan tersebut mengindikasikan adanya perhatian besar terhadap bagaimana citra Sarwendah dipandang oleh para pendukungnya. Karena itu, ia menyimpulkan bahwa video tersebut lebih menyerupai upaya menjaga reputasi dibandingkan bentuk penyesalan yang mendalam.

"Kalau kita mau bicara apakah kemudian dia beneran minta maaf atau tidak, saya akan bilang tidak," jelas pakar itu.

ADVERTISEMENT

GULIR UNTUK LANJUT BACA

"Ini (video permintaan maaf Sarwendah) adalah sebuah pertunjukan, sebuah drama teatrikal," tambahnya.

Analisis tersebut pun kembali memantik perdebatan di kalangan warganet. Sebagian publik setuju dengan pandangan sang pakar ekspresi, sementara yang lain menilai ketulusan seseorang tidak bisa sepenuhnya diukur hanya dari gestur maupun pilihan kata dalam sebuah video.