Gedung Putih Rilis Video Propaganda Soal Iran Tampilkan Aktor Hollywood Tuai Kecaman
Gedung Putih kembali menjadi sorotan setelah video propaganda bertema Hollywood dirilis. Video berdurasi 42 detik menjanjikan ‘keadilan ala Amerika’ untuk Iran itu menampilkan bintang-bintang film kenamaan dari Australia, Selandia Baru dan Kanada.
Video tersebut juga menonjolkan berbagai karakter mulai dari pengacara korup, pengedar narkoba hingga pejuang kebebasan yang berani melawan kekuatan besar dari tentara asing yang menginvasi. Namun sayangnya, video tersebut menuai banyak kritikan dari publik. Lantas seperti apa isinya?
Melansir laman The Guardian, Sabtu 7 Maret 2026, video tersebut dibuka dengan cuplikan dari film Iron Man 2 yang menampilkan karakter Tony Stark (Robert Downey Jr) sebagai salah satu dari beberapa pahlawan super yang muncul.
“Bangun Ayah sudah pulang,” katanya sambil bertepuk tangan untuk mengaktifkan deretan komputer di hadapannya.
Downey Jr sendiri dikenal sebagai salah satu tokoh yang vokal mengkritik Trump. Ia bahkan aktif berkampanye untuk lawan Trump dari Partai Demokrat, Kamala Harris, menjelang pemilihan presiden 2024.
Dua aktor berikutnya yang muncul adalah Russell Crowe dalam film Gladiator dan Mel Gibson dalam Braveheart. Crowe berasal dari Selandia Baru, sementara Gibson dari Australia, meskipun ia sebenarnya lahir di New York sebelum pindah ke Sydney bersama keluarganya saat masih kecil.
Kedua film tersebut memiliki tema yang mirip yakni kisah tentang pihak yang kecil dan tampak lemah, tetapi berani melawan kekuatan besar yang berusaha menundukkan mereka. Dalam Braveheart, Gibson memerankan pejuang kemerdekaan Skotlandia, William Wallace, yang melawan invasi tentara Inggris.
Karakter berikutnya yang muncul setelah cuplikan singkat Tom Cruise sebagai pilot tempur macho Maverick dalam Top Gun adalah Jimmy McGill, seorang pengacara dengan etika yang meragukan dari serial televisi Breaking Bad dan serial prekuelnya, Better Call Saul.
Tokoh pengacara yang diperankan Bob Odenkirk ini dikenal sebagai pembela Walter White, seorang guru yang berubah menjadi produsen narkoba jenis metamfetamin. Alter ego-nya, Saul Goodman, berkembang menjadi penipu licik tanpa moral. Dalam editan video Gedung Putih itu, ia berteriak, “Kalian tidak bisa membayangkan apa yang mampu saya lakukan.”
Selanjutnya muncul Keanu Reeves, yang lahir di Beirut dan berkewarganegaraan Kanada, dengan dialog “Sepertinya aku kembali!” dari film John Wick (2014). Lalu ada Bryan Cranston, pemeran Walter White dalam Breaking Bad yang mengatakan kalimat terkenal, “Akulah bahaya itu!”
Cranston, seperti Downey Jr, juga dikenal sering mengkritik Trump. Dalam wawancara dengan Guardian pada 2017, ia mengatakan merasa “terpukul” karena Trump memenangkan pemilihan presiden. Sebelumnya ia juga pernah menyebut Trump sebagai “tokoh yang tragis sekaligus komikal seperti dalam drama Shakespeare.” Dalam pidato penerimaan penghargaan Tony Awards 2019, Cranston bahkan secara langsung menyinggung apa yang ia sebut sebagai “demagogi” Trump.
Sisa video menampilkan rangkaian pahlawan aksi berkostum dan karakter kartun—serta Menteri Pertahanan Pete Hegseth. Video itu ditutup dengan suara yang mengatakan “flawless victory” (kemenangan sempurna), frasa yang terkenal dari seri gim video dan film Mortal Kombat, di atas tulisan “The White House”.
Video propaganda itu langsung menuai banyak kritikan dan ejekan dari pengguna media sosial. Banyak pengguna media sosial yang menilai pemerintahan Trump bersikap tidak dewasa bahkan menyamakan strategi media sosialnya seperti akun yang dikelola oleh remaja.
Seperti diketahui belakangan ini pemerintahan Trump semakin sering menggunakan visual provokatif untuk menyampaikan pesan politiknya. Cara ini sejalan dengan gaya media sosial Trump sendiri yang konfrontatif, penuh ejekan, hinaan, dan trolling. Pada Januari lalu, misalnya mereka bahkan memanipulasi secara digital foto seorang perempuan yang ditangkap dalam aksi protes imigrasi agar terlihat seolah-olah ia sedang menangis.
Pemerintahan Trump juga secara terbuka memanfaatkan teknologi AI untuk membuat video maupun gambar statis yang oleh para kritikus disebut sebagai “slopaganda”. Salah satu contohnya adalah video pada Oktober lalu yang menggambarkan Trump membuang kotoran kepada warga Amerika yang menghadiri aksi protes “No Kings” pada bulan yang sama.
Selain itu, belum jelas kapan atau apakah Gedung Putih telah memperoleh izin untuk menggunakan berbagai cuplikan film tersebut dalam video terbarunya. Banyak seniman dan musisi terkenal seperti ABBA, Beyoncé, Bruce Springsteen, George Harrison, hingga The Rolling Stones sebelumnya juga pernah berselisih dengan Gedung Putih karena karya mereka digunakan tanpa izin atau tanpa konsultasi terlebih dahulu.