Ammar Zoni Berulang Kali Terjerat Narkoba, Mungkinkah Ada Orang yang Tak Bisa Berubah?

psikolog, kecanduan narkoba, ketergantungan narkoba, Ammar Zoni narkoba, kasus Ammar Zoni, ammar zoni sekarang, bisakah orang benar-berubah dari kecanduan narkoba, Ammar Zoni Berulang Kali Terjerat Narkoba, Mungkinkah Ada Orang yang Tak Bisa Berubah?, Mungkinkah ada orang yang tidak bisa berubah?, Peran lingkungan dan rasa harga diri, Perubahan butuh waktu dan cara yang tepat, Kembali ke dasar pemulihan

 Nama aktor Ammar Zoni kembali terjerat kasus yang sama lagi kali ini. Laki-laki berusia 32 tahun itu resmi dipindahkan ke Lapas Super Maximum Security Nusakambangan, fasilitas pemasyarakatan dengan pengamanan paling ketat di Indonesia.

Pemindahan ini dilakukan usai ia diduga terlibat dalam jaringan peredaran narkoba di dalam penjara.

“Mereka diberikan pengamanan dan pembinaan super maksimum, dan diharapkan langkah ini dapat mengubah perilaku mereka menjadi warga binaan yang lebih baik sesuai dengan tujuan sistem Pemasyarakatan,” ujar Kasubdit Kerjasama Ditjen Pemasyarakatan, Rika Aprianti, dilaporkan oleh , Kamis (16/10/2025). 

Namun sebenarnya, mengapa Ammar Zoni berulang kali terjerat kasus narkoba? Apakah memang ada orang yang tidak bisa berubah dan belajar dari kesalahan?

Mungkinkah ada orang yang tidak bisa berubah?

Prinsipnya, semua orang bisa berubah

psikolog, kecanduan narkoba, ketergantungan narkoba, Ammar Zoni narkoba, kasus Ammar Zoni, ammar zoni sekarang, bisakah orang benar-berubah dari kecanduan narkoba, Ammar Zoni Berulang Kali Terjerat Narkoba, Mungkinkah Ada Orang yang Tak Bisa Berubah?, Mungkinkah ada orang yang tidak bisa berubah?, Peran lingkungan dan rasa harga diri, Perubahan butuh waktu dan cara yang tepat, Kembali ke dasar pemulihan

Dari kasus Ammar Zoni, Bisakah orang benar-benar berubah dari kecanduan atau kambuh dari narkoba? Psikolog jelaskan.

Sani Budiantini Hermawan, S.Psi, psikolog menegaskan, pada dasarnya setiap orang bisa berubah, termasuk mereka yang terjerat kasus narkoba berulang kali. Namun, tingkat keberhasilannya sangat bergantung pada banyak faktor.

“Kalau kita prinsipnya, orang pasti bisa berubah. Cuma berapa lama, kemudian berapa tingkat keberhasilannya tuh tergantung juga dari banyak faktor,” ujar Sani saat dihubungi Kompas.com, Kamis (16/10/2025). 

Menurutnya, perubahan perilaku tidak bisa dilihat dari satu sisi saja, misalnya hanya dari keinginan individu. Ada unsur lain seperti dukungan lingkungan, keluarga, dan profesional yang kompeten.

“Orang yang punya penghargaan terhadap dirinya lebih tinggi mungkin jauh lebih mudah berhasil dibanding yang enggak. Faktor lingkungan yang mendukung juga berpengaruh besar, dibanding keluarga yang cuek-cuekan,” jelasnya.

Peran lingkungan dan rasa harga diri

Dalam kasus seperti Ammar, dukungan sosial dan keluarga menjadi penentu penting. Ketika seseorang kehilangan rasa percaya diri atau merasa tidak berharga, proses pemulihan bisa berjalan lebih sulit.

Lebih lanjut, Sani menjelaskan bahwa harga diri (self-worth) dan dukungan lingkungan bekerja saling melengkapi dalam membantu seseorang keluar dari lingkaran kecanduan.

“Bisa juga dari lingkungan profesional, ya kan. Expertise yang menanganinya apakah kompeten apa enggak gitu. Banyak faktor-faktor yang akhirnya menyebabkan seseorang itu tingkat berhasilnya lebih tinggi dibanding yang lain,” tambahnya.

Artinya, keberhasilan seseorang pulih dari kecanduan bukan hanya soal niat pribadi, tetapi juga soal sistem pendukung yang membantunya tetap stabil secara mental dan sosial.

Perubahan butuh waktu dan cara yang tepat

Kasus relapse atau kambuh, seperti yang terjadi pada Ammar Zoni, seringkali menimbulkan anggapan bahwa orang seperti dia “tidak bisa berubah”.

Namun, hal ini tidak sepenuhnya benar. Kecanduan adalah penyakit kronis yang membutuhkan waktu panjang untuk pemulihan, serta dukungan konsisten dari berbagai pihak.

Program pembinaan seperti di Nusakambangan bisa menjadi salah satu langkah strategis jika dijalankan dengan pendekatan pemulihan, bukan hanya hukuman. Dukungan emosional, konseling psikologis, hingga keterlibatan keluarga dapat memperbesar peluang perubahan.

“Kalau orangnya punya support system (dukungan) yang baik, kemungkinan dia untuk berubah juga lebih besar,” kata Sani.

Kembali ke dasar pemulihan

Kasus seperti Ammar Zoni menjadi cerminan, betapa proses pemulihan tidak bisa instan. Butuh waktu, pendampingan, dan tekad yang kuat.

Tidak ada manusia yang benar-benar “tidak bisa berubah”, tetapi tidak semua orang punya akses dan dukungan yang cukup untuk melakukannya.

Menurut Sani, kasus Ammar terbilang kompleks, ada tumpukan antara tekanan mental, hingga lingkungan yang mungkin tidak kondusif.

Namun, seperti yang disampaikan Sani, peluang untuk berubah selalu ada. Yang dibutuhkan bukan sekadar hukuman, melainkan juga ruang untuk benar-benar dipulihkan sebagai manusia.

Dalam segala situasi, KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih dari lapangan. Ikuti terus update topik ini dan notifikasi penting di Aplikasi KOMPAS.com.