Jangan Asal Panaskan Makanan Berulang Kali, Risiko Keracunan Mengintai

pakar gizi ipb, panaskan makanan, Jangan Asal Panaskan Makanan Berulang Kali, Risiko Keracunan Mengintai

Sebagian jenis makanan yang telah dipanaskan berulang kali akan berakibat keracunan jika dikonsumsi. 

Hal itu ditegaskan oleh Dosen Departemen Gizi Masyarakat IPB University, Dr Karina Rahmadia Ekawidyani.

Ia menjelaskan tidak semua jenis makanan aman dipanaskan berulang kali. Memang terlihat praktis, tapi justru bisa berbahaya.  

“Pada dasarnya, semua makanan yang dimasak dengan benar bisa dipanaskan kembali. Tetapi ada beberapa kategori makanan yang sebaiknya dihindari untuk dipanaskan ulang karena mengandung senyawa tertentu atau berisiko terkontaminasi bakteri,” jelas Karina seperti dilansir dari laman IPB, Senin (20/10/2025).

Apa saja makanan yang berbahaya dikonsumsi setelah dipanaskan berulang kali? Beberapa jenis makanan yang dimaksud antara lain sayuran hijau atau sayuran tinggi nitrat seperti bayam, kale, wortel, lobak, dan seledri.

Pemanasan ulang pada bahan tersebut dapat menyebabkan perubahan menjadi senyawa karsinogenik. Selain itu, makanan berbasis protein seperti ayam dan telur juga rentan karena berisiko mengandung bakteri Salmonella.

“Nasi yang sudah dingin pun dapat menjadi media berkembangnya Bacillus cereus bila dipanaskan ulang. Begitu juga dengan daging olahan yang berpotensi menghasilkan zat karsinogenik dari bahan pengawetnya,” kata Karina.

pakar gizi ipb, panaskan makanan, Jangan Asal Panaskan Makanan Berulang Kali, Risiko Keracunan Mengintai

Ilustrasi nasi

“Makanan buffet atau take away juga perlu diwaspadai karena tidak jelas kapan dimasak dan apakah memenuhi standar keamanan pangan,” tambah Karina.

Karina menyebutkan, risiko utama dari konsumsi makanan yang dipanaskan berulang kali adalah keracunan makanan (food poisoning).

Risiko ini muncul terutama jika suhu dan durasi pemanasan tidak tepat. Bakteri dapat berkembang cepat pada suhu antara 4 derajat Celcius-60 derajat Celcius.

“Pastikan suhu panas terdistribusi merata hingga ke bagian dalam makanan, bukan hanya di permukaan. Disarankan memanaskan hingga suhu bagian dalam mencapai minimal 70 derajat C selama dua menit, 75 derajat C selama 30 detik, atau 80 derajat C selama 6 detik,” paparnya.

Selain proses pemanasan, cara penyimpanan makanan juga memegang peran penting. Menurutnya, makanan yang baru dimasak, jika tidak segera dimakan atau akan dimakan di lain waktu, sebaiknya dibagi ke dalam porsi kecil dalam kontainer tertutup rapat.

pakar gizi ipb, panaskan makanan, Jangan Asal Panaskan Makanan Berulang Kali, Risiko Keracunan Mengintai

Ilustrasi buffet atau prasmanan.

Makanan sisa pun harus disimpan dalam wadah kedap udara agar aman.

“Kemudian makanan bisa disimpan dalam chiller selama 3–4 hari atau dibekukan dalam freezer hingga 3–4 bulan. Namun semakin lama disimpan, makanan berpotensi kehilangan kelembapan dan berubah rasa,” ujar Karina.

Karina juga mengingatkan agar masyarakat berhati-hati dalam memanaskan makanan yang disimpan.

Makanan berkuah disarankan direbus hingga mendidih, sementara makanan tanpa kuah dapat dikukus, ditumis, dipanggang, atau dihangatkan dengan microwave, oven, maupun air fryer.

“Perlu diingat, makanan beku yang sudah dicairkan (thawing) tidak boleh dibekukan kembali. Ini sangat utama untuk menjaga kualitas dan keamanan pangan,” kata Karina.

Dalam segala situasi, KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih dari lapangan. Ikuti terus update topik ini dan notifikasi penting di Aplikasi KOMPAS.com.