FIFA Bongkar Skandal Naturalisasi Malaysia, Kakek Facundo Garces Ternyata Bukan Lahir di Penang
— Sorotan tajam datang dari media Spanyol, Marca, yang membongkar fakta mengejutkan di balik skandal naturalisasi pemain timnas Malaysia.
Salah satu nama yang jadi pusat perhatian adalah Facundo Garces, bek andalan Deportivo Alaves di Liga Spanyol, yang ternyata diduga terlibat dalam kasus pemalsuan dokumen identitas oleh Asosiasi Sepak Bola Malaysia (FAM).
Garces, yang kini berusia 26 tahun, merupakan salah satu dari tujuh pemain naturalisasi yang disebut memiliki dokumen bermasalah.
Ia sempat tampil membela Harimau Malaya dalam dua pertandingan, termasuk melawan Vietnam pada Juni 2025, yang kemudian menjadi titik awal penyelidikan kasus ini oleh FIFA.
Fakta Baru: Kakek Garces Tak Lahir di Penang
Dalam dokumen investigasi yang dirilis FIFA, ditemukan bahwa kakek Facundo Garces, bernama Carlos Reguilon Fernandez, ternyata tidak lahir di Penang, Malaysia, seperti yang tercantum dalam dokumen resmi FAM.
Keterangan terbaru menunjukkan bahwa sang kakek sebenarnya lahir di Villa Maria Selva, sebuah wilayah di Santa Fe de la Cruz, Provinsi Santa Fe, Argentina, tempat yang sama dengan kota kelahiran Lionel Messi, yakni Rosario.
Penemuan ini membuat status naturalisasi Garces dinilai tidak sah, karena FIFA hanya mengizinkan pemain membela negara jika memiliki garis keturunan langsung dari orang tua atau kakek-nenek yang lahir di negara tersebut.
Facundo Garces bawa Alaves menang lawan Levante di La Liga 2025-2026
Pemalsuan Dokumen Terungkap
Temuan serupa juga muncul dalam data enam pemain naturalisasi Malaysia lainnya: Gabriel Palmero, Rodrigo Holgado, Imanol Machuca, Joao Figueiredo, Jon Irazabal, dan Hector Hevel.
"Informasi ini berbeda dengan sertifikat kelahiran yang dicantumkan Federasi Sepak Bola Malaysia pada 20 Januari 2025," tulis Marca.
dokumen tersebut telah dipalsukan, yang berarti telah dimanipulasi untuk mengubah tempat kelahiran yang tertera di dalamnya."
Akibat temuan ini, FIFA menjatuhkan sanksi berat. Garces dan enam pemain lain terancam larangan bermain selama 12 bulan dan denda sebesar 2.000 franc Swiss, atau sekitar Rp 41 juta.
"FIFA memiliki opsi untuk menerapkan sanksi yang lebih ringan, tetapi menganggap bahwa manipulasi ini menyerang prinsip dasar sepak bola," tambah Marca.
"Sanksi tidak hanya harus menghukum pelanggaran, tetapi juga berfungsi sebagai pencegahan dan langkah edukasi bagi pemain yang terlibat serta komunitas sepak bola secara umum."
Respons FAM: Akan Ajukan Banding
Meski dikecam publik, pihak FAM bersikeras bahwa mereka tidak bersalah dan akan menempuh jalur banding ke Pengadilan Arbitrase Olahraga (CAS).
"FAM menganggap penggambaran ini tidak akurat dan tidak adil, dan masalah ini akan dibawa ke proses banding resmi," tulis mereka melalui akun resmi Facebook.
"Kami berkomitmen untuk menjaga kepentingan sepak bola negara, melindungi hak-hak pemain, dan memastikan transparansi dalam proses ini."
"FAM akan memanfaatkan semua saluran hukum yang tersedia untuk memperjuangkan kasus ini," tambah mereka.
Dampak ke Klub: Alaves Kewalahan Tanpa Garces
Sementara itu, Deportivo Alaves, klub Garces di LaLiga Spanyol, ikut terkena imbas.
Sejak pertandingan melawan Real Mallorca dua pekan lalu, Garces sudah tidak lagi masuk daftar pemain.
Tim sempat kalah 0-1 di laga itu, meski akhirnya bangkit dengan kemenangan 3-1 atas Elche di Stadion Mendizorrotza.
Menurut laporan Cadena SER, pihak klub memilih untuk tidak menurunkan Garces sampai keputusan resmi dari FIFA keluar.
Facundo Garces bahkan tidak diizinkan menggunakan fasilitas latihan klub, menandakan situasi yang sangat serius bagi kariernya.
Sebagian artikel ini telah tayang di Kompas.com dengan judul .
Dalam segala situasi, KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih dari lapangan. Ikuti terus update topik ini dan notifikasi penting di Aplikasi KOMPAS.com.