Jangan Salah Kaprah! Arti Minal Aidin Wal Faizin Bukan Mohon Maaf Lahir Batin
Namun, tidak sedikit orang yang ternyata salah memahami maknanya. Pasalnya, arti minal ‘aidin wal faizin ternyata bukan mohon maaf lahir dan batin lho.
Melansir laman NU Online, secara bahasa minal ‘aidin wal faizin berasal dari bahasa Arab yang berarti semoga kita termasuk orang-orang yang kembali (fitrah) dan orang-orang yang menang. Makna ini merujuk pada harapan agar seseorang kembali suci setelah menjalani ibadah Ramadhan dan meraih kemenangan spiritual.
Kesalahpahaman ini terjadi karena penggunaan yang terus-menerus dan meluas. Banyak orang mengasosiasikan ucapan tersebut dengan tradisi saling memaafkan saat Lebaran sehingga maknanya bergeser meskipun sama sekali tidak berarti mohon maaf lahir dan batin seperti yang umum dipahami masyarakat.
Awal Mula Ucapan Minal Aidin Wal Faizin
Ilustrasi Lebaran.
Jika ditelusuri, kalimat minal ‘aidin wal faizin merupakan penggalan dari ucapan selamat (tahni'ah) para sahabat Nabi kepada sesama umat Islam yang telah berhasil menyelesaikan puasa Ramadhan. Adapun bunyi ucapannya sebagai berikut:
"Taqabbalallaahu minnaa wa minkum taqabbal yaa kariim, wa ja’alanaallaahu wa iyyaakum minal ‘aaidin wal faaiziin wal maqbuulin kullu ‘ammin wa antum bi khair”.
Artinya :
Semoga Allah menerima (amal ibadah Ramadlan) kami dan kamu. Wahai Allah Yang Maha Mulia, terimalah! Dan semoga Allah menjadikan kami dan kamu termasuk orang-orang yang kembali dan orang-orang yang menang serta diterima (amal ibadah). Setiap tahun semoga kamu senantia dalam kebaikan.
Dari rangkaian panjang inilah, frasa minal ‘aidin wal faizin sebenarnya berasal. Jadi, kalimat yang lebih tepat diucapkan saat Hari Raya Idul Fitri adalah “taqabbalallahu minna wa minkum.” Kalimat ini berarti “semoga Allah menerima amal ibadah kami dan kalian.”
Masyarakat Indonesia lebih familiar menggucapkan minal ‘aidin wal faizin dan menggabungkannya dengan tradisi saling memaafkan dan kegiatan seperti halal bihalal. Selama tidak bertentangan dengan nilai agama, tradisi ini tetap dapat diterima sebagai bagian dari kekayaan budaya.
Mengucapkan “minal ‘aidin wal faizin” tentu tidak salah, tetapi memaknainya sebagai “mohon maaf lahir batin” jelas kurang tepat. Jika ingin menyampaikan permohonan maaf, sebaiknya diucapkan secara langsung.
Memahami arti yang benar bukan untuk membatasi tradisi, melainkan untuk meluruskannya. Dengan begitu, setiap ucapan di hari raya tidak hanya menjadi kebiasaan, tetapi juga mengandung makna yang sesuai tuntunan Nabi Muhammad SAW.