Masih Jalani Diet Keto? Hati-hati Berisiko Masalah pada Otak, hingga Jantung
Diet keto menjadi metode diet yang masih populer di kalangan masyarakat. Diet keto sendiri adalah pola makan sangat rendah karbohidrat dan tinggi lemak, yang mengubah sumber energi utama tubuh dari karbohidrat menjadi lemak.
Namun hati-hati, diet keto ternyata bisa berisiko mempercepat proses penuaan. Dalam sebuah studi terbaru pada tikus yang dipublikasikan di jurnal Cell Reports efek ini terlihat pada tikus jantan.
Peneliti menemukan bahwa hormon estrogen melindungi tikus betina dari risiko penuaan yang lebih cepat saat menjalani diet keto. Para penulis studi menjelaskan bahwa diet keto dapat memicu stres oksidatif berlebihan, yang mempercepat penuaan sel dengan meningkatkan jumlah sel-sel senescent (sel yang sudah menua dan berhenti membelah). Namun, ketika tikus jantan diberi perlakuan dengan estrogen, estradiol, atau antioksidan, percepatan penuaan sel tersebut dapat diatasi.
Apa itu diet keto?
Ahli gizi Kardiologi dari EntirelyNourished.com, Michelle Routhenstein, MS, RD, CDCES, CDN, ,menjelaskan bahwa diet keto adalah pola makan sangat rendah karbohidrat dan tinggi lemak, yang mengubah sumber energi utama tubuh dari karbohidrat menjadi lemak.
”Dalam kondisi normal, karbohidrat adalah bahan bakar utama tubuh, terutama untuk otak,” jelas dia dikutip dari laman Medical News Today, Kamis 11 September 2025.
Saat tubuh kekurangan karbohidrat, lemak akan dipecah menjadi molekul bernama keton. Routhenstein mengatakan keton ini berfungsi sebagai sumber energi alternatif untuk otak dan tubuh.
Untuk mendukung kondisi ini, diet keto mendorong konsumsi makanan tinggi lemak dan sangat rendah karbohidrat, seperti protein hewani, produk susu full-fat, lemak sehat, dan sayuran non-tepung. Sebaliknya, makanan kaya karbohidrat seperti biji-bijian, buah, sayuran bertepung, kacang-kacangan, dan gula tambahan sangat dibatasi.
Risiko diet keto
Jika dijalani jangka panjang, diet keto memiliki sejumlah risiko. Menurut Routhenstein, diet ini membatasi konsumsi buah, biji-bijian utuh, beberapa sayuran, dan kacang-kacangan. Akibatnya, asupan vitamin, mineral, dan serat bisa berkurang, yang berpotensi berdampak buruk pada kesehatan usus, otak, dan jantung.
Ada pula risiko peningkatan kolesterol, terbentuknya plak lunak di arteri, gangguan fungsi ginjal dan hati, hingga risiko pengeroposan tulang. Selain itu, pola makan ini dapat memicu gangguan makan dan bahkan isolasi sosial.
Penelitian juga menunjukkan adanya kaitan diet keto dengan stres oksidatif yang memicu penuaan sel, seperti yang diteliti dalam studi yang telah disampaikan sebelumnya.
Studi manusia masih dibutuhkan
Sebagian besar penelitian diet selama ini lebih fokus pada respon tubuh pria. Salah satu alasannya adalah kompleksitas perbedaan tubuh pria dan wanita. Misalnya, tubuh wanita mengalami perubahan hormonal sepanjang siklus menstruasi, sementara tubuh pria relatif lebih stabil.
Meski memiliki risiko, diet keto tetap punya manfaat dalam kondisi tertentu.
“Dalam beberapa kasus, terutama untuk kondisi medis seperti epilepsi, diet keto atau pendekatan rendah karbohidrat yang dimodifikasi bisa bermanfaat jika diawasi tenaga medis,” ujar Routhenstein.
Ia menambahkan bahwa pola rendah karbohidrat yang lebih fleksibel atau siklikal mungkin cocok bagi sebagian orang, asalkan dipandu oleh ahli kesehatan.
“Secara umum, risiko diet keto lebih besar daripada manfaatnya, apalagi ketika tersedia pendekatan lain yang lebih seimbang, berkelanjutan, dan terbukti meningkatkan kesehatan jantung, mengurangi peradangan, serta mendukung umur panjang,” tutup Routhenstein.