Sergey Brin Geser Jeff Bezos di Daftar Orang Terkaya Dunia
Perkembangan kecerdasan buatan atau artificial intelligence (AI) tidak hanya mengubah lanskap teknologi global, tetapi juga memicu pergeseran besar dalam peta kekayaan dunia. Nilai perusahaan-perusahaan teknologi raksasa melonjak tajam seiring meningkatnya optimisme investor terhadap potensi AI sebagai mesin pertumbuhan baru.
Di tengah euforia tersebut, Alphabet, induk usaha Google, mencatat tonggak bersejarah dengan kapitalisasi pasar yang menembus angka US$4 triliun. Capaian ini tidak hanya mencerminkan kepercayaan pasar terhadap strategi AI Alphabet, tetapi juga berdampak langsung pada kekayaan para pendirinya, termasuk Sergey Brin.
Sergey Brin Salip Bezos dan Ellison

Sergey Brin berhasil melompati pendiri Oracle Larry Ellison dan pendiri Amazon Jeff Bezos untuk menjadi orang terkaya nomor tiga dunia. Ia kini berada tepat di bawah rekan pendiri Google Larry Page dan CEO Tesla Elon Musk.
Ini terjadi setelah saham Alphabet melonjak ke rekor terbaru. Saham Alphabet naik 1,3 persen menjadi sedikit di atas US$337 pada Selasa silam, memangkas kenaikan sebelumnya yang sempat mencapai 2,4 persen, serta melanjutkan reli 6,6 persen dalam tujuh hari perdagangan terakhir.
Sebaliknya, saham Oracle turun 1,5 persen, sementara saham Amazon melemah hampir 2 persen. Lonjakan saham tersebut mendorong nilai pasar Alphabet melampaui US$4 triliun, atau setara sekitar Rp66.800 triliun.
Alphabet menjadi perusahaan keempat yang mencapai tonggak ini, bergabung dengan Nvidia, Microsoft, dan Apple, meskipun dua nama terakhir sempat kembali turun di bawah ambang tersebut.
Dorongan tambahan bagi saham Alphabet datang dari kesepakatan baru dengan Apple. Apple menyatakan akan menggunakan Gemini, model AI milik Google, sebagai fondasi pengembangan model AI dan generasi terbaru Siri, asisten virtual dan chatbot Apple.
Menurut daftar miliarder real-time Forbes, kekayaan bersih Sergey Brin bertambah US$4,9 miliar atau 1,9 persen menjadi US$255,6 miliar, setara sekitar Rp4.268 triliun. Ia berada di bawah Larry Page dengan kekayaan US$277 miliar atau sekitar Rp4.626 triliun, serta Elon Musk yang masih bertengger di posisi teratas dengan harta US$725,3 miliar atau sekitar Rp12.107 triliun.
Jeff Bezos kini berada di peringkat keempat dengan kekayaan US$253,2 miliar atau setara Rp4.229 triliun, sementara Larry Ellison menempati posisi kelima dengan US$251,3 miliar atau sekitar Rp4.197 triliun.
Brin, yang memegang lebih sedikit saham Alphabet kelas C, diketahui lebih aktif menjual saham Alphabet dan menyumbangkan jutaan saham Alphabet serta Tesla dalam beberapa tahun terakhir untuk riset penyakit Parkinson.
Sebagai catatan, saham Alphabet melonjak 65 persen sepanjang 2025, menjadi kenaikan tahunan terbesar perusahaan sejak 2009, ketika sahamnya melonjak hampir 93 persen.
Alphabet sendiri muncul sebagai salah satu pemimpin AI global pada 2025, bahkan ketika kekhawatiran soal valuasi berlebihan saham teknologi berbasis AI semakin menguat. Google merilis Gemini 3, versi terbaru model AI-nya, pada November dan mendapat sambutan luas.
Peluncuran tersebut dilakukan beberapa pekan setelah Google memperkenalkan Ironwood, chip AI generasi ketujuh, di tengah persaingan ketat dengan Nvidia.
Analis Citi menilai Alphabet sebagai salah satu pilihan utama untuk pertumbuhan 2026. Dalam catatan risetnya, Citi menyebut sekitar 70 persen pelanggan Google Cloud menggunakan produk AI, serta menegaskan Google memiliki “chip, kapasitas infrastruktur, dan model di tengah meningkatnya permintaan.”
Analis Cantor Fitzgerald Deepak Mathivanan juga menyebut Google memiliki “jejak terkuat” di antara perusahaan AI, dengan investasi selama satu dekade yang membuat para pesaing sulit mengejar.
Di tengah euforia pasar, muncul kembali perdebatan klasik, apakah AI merupakan masa depan atau sekadar gelembung baru. Namun, menurut penulis Forbes Books Cicely Simpson, perdebatan tersebut tidak relevan.
“Tidak penting apakah AI adalah gelembung atau terobosan,” tulis Simpson, sebagaimana dikutip dari Forbes, Jumat, 16 Januari 2026. “Transformasi tidak terelakkan. Pertanyaan yang relevan adalah bagaimana Anda memimpin transformasi tersebut.”
Ia menekankan bahwa kesalahan terbesar pemimpin adalah langsung fokus pada apa yang akan dilakukan tanpa menjelaskan alasan di balik perubahan. “Kejelasan mengurangi ketakutan, dan konteks membangun kepercayaan,” ungkapnya.