Pesepak Bola Putri Ini Tetap Berlatih Saat Hamil 8 Bulan

Ketlen Wiggers, bintang Santos FC
Ketlen Wiggers, bintang Santos FC

 Pemain Santos FC, Ketlen Wiggers, tetap turun ke lapangan untuk menjalani latihan meski sedang hamil delapan bulan.

Dilihat dari unggahan akun Instagram pribadinya, @katlenwiggers, striker berusia 32 tahun itu tampak dengan gigih menjalani latihan dengan perut yang terlihat buncit. 

Meski perutnya tampak besar, Katlen tidak kehilangan kemampuan mencetak golnya. Dengan kaki kanan ia berhasil mengarahkan bola ke gawang.

Pelatih kebugaran Santos FC, Isabella Silva Matos, menjelaskan bahwa pihak klub merancang program latihan khusus agar sang pemain tetap bugar tanpa membahayakan kondisi kehamilannya.

"Sejak hamil, Ketlen telah melakukan pemanasan, melatih kekuatan kaki, koordinasi, dan kemampuan merasakan bola. Namun, kami telah sepenuhnya menghilangkan kontak fisik atau latihan intensitas tinggi. Dalam sesi latihan utama, ia hanya melakukan operan individu, umpan silang, dan tembakan," ujar Matos, dikutip dari Sinar Daily Kamis 13 November 2025.

Kini, Ketlen tengah beristirahat menjelang kelahiran putra pertamanya, Lucca. Ia berencana kembali berlatih bersama tim pada awal 2026. Sebagai pencetak gol terbanyak sepanjang sejarah Santos FC, ia membuktikan bahwa cinta terhadap sepak bola bisa melampaui batas fisik dan sosial.

Apakah Aman Pesepak Bola Hamil Tetap Bermain?

Secara medis, bermain sepak bola saat hamil termasuk dalam kategori olahraga berisiko tinggi. Berdasarkan panduan Baby Centre dan Liip Care, sepak bola masuk dalam contact sport yang berpotensi menimbulkan benturan ke perut.

Benturan, tackling, atau tabrakan bisa menyebabkan trauma pada area perut, meningkatkan risiko keguguran, perdarahan internal, hingga komplikasi serius seperti solusio plasenta, kondisi berbahaya ketika plasenta terlepas dari dinding rahim. Selain itu, perubahan pusat gravitasi tubuh saat perut membesar juga meningkatkan risiko jatuh dan hilangnya keseimbangan.

Data dari American College of Obstetricians and Gynecologists (ACOG) menegaskan, olahraga intensitas tinggi sebaiknya dihentikan setelah trimester pertama. Sementara itu, FIFA Medical Assessment and Research Centre (F-MARC) juga melarang pesepak bola hamil untuk bertanding demi keselamatan ibu dan bayi.

Meski begitu, beberapa pemain profesional tetap aktif dengan latihan modifikasi tanpa kontak fisik. Contohnya, Cristiane Rozeira dan Sydney Leroux memilih jogging, yoga prenatal, dan berenang hingga trimester kedua. Bahkan, Sara Björk masih berlatih bola ringan sampai bulan kelima, tentunya dengan pengawasan dokter.

Kuncinya, setiap atlet harus selalu berkonsultasi dengan dokter kandungan dan pelatih bersertifikat kehamilan. Latihan harus disesuaikan dengan usia kehamilan, kondisi fisik, dan posisi plasenta.

Dukungan Regulasi di Indonesia

Di Indonesia, kasus pesepak bola putri yang tetap aktif saat hamil memang jarang terekspos. Namun sejak 2021, PSSI telah memiliki regulasi perlindungan atlet wanita, termasuk kewajiban klub memberikan cuti hamil berbayar selama enam bulan, tiga bulan sebelum dan tiga bulan setelah melahirkan.

Aturan ini menunjukkan bahwa kehamilan bukan akhir karier, melainkan fase transisi menuju babak baru dalam kehidupan atlet.

Kesimpulannya, meski semangat untuk terus menendang bola begitu besar, pesepak bola hamil tidak disarankan bermain dalam pertandingan resmi demi keselamatan diri dan bayi. Namun, latihan ringan dan dukungan tim medis memungkinkan mereka tetap bugar hingga persalinan.