Bukan Gara-gara Jarang Cuci Muka, Ini Akar Masalah Jerawat yang Sering Terlewat

ilustrasi jerawat meradang
ilustrasi jerawat meradang

Jerawat masih menjadi salah satu masalah kulit yang paling sering dialami masyarakat, baik remaja maupun orang dewasa. Sayangnya, hingga kini masih banyak yang menganggap jerawat muncul karena seseorang jarang mencuci muka atau kurang menjaga kebersihan kulit. 

Padahal, penyebab jerawat jauh lebih kompleks daripada sekadar persoalan kebersihan.

ADVERTISEMENT

GULIR UNTUK LANJUT BACA

Tidak sedikit orang yang sudah rajin membersihkan wajah, menggunakan berbagai produk perawatan kulit, hingga menjalani treatment tertentu, tetapi tetap mengalami jerawat yang muncul berulang kali. Kondisi ini menunjukkan bahwa ada faktor lain yang bekerja di balik terbentuknya jerawat dan sering kali tidak disadari.

Jerawat Berawal dari Produksi Minyak Berlebih

Dalam dunia dermatologi, jerawat umumnya muncul akibat kombinasi beberapa faktor. Mulai dari produksi minyak berlebih, penyumbatan pori-pori, pertumbuhan bakteri penyebab jerawat, hingga peradangan pada kulit.

Di antara berbagai faktor tersebut, produksi minyak berlebih atau sebum sering dianggap sebagai salah satu pemicu utama. Sebum sebenarnya berfungsi menjaga kelembapan alami kulit. Namun ketika diproduksi secara berlebihan, minyak dapat bercampur dengan sel kulit mati dan menyumbat pori-pori.

Kondisi tersebut menciptakan lingkungan yang ideal bagi bakteri penyebab jerawat untuk berkembang. Akibatnya, muncul komedo, jerawat meradang, hingga jerawat berukuran besar yang sulit dihilangkan.

Karena itulah, membersihkan wajah secara rutin memang penting, tetapi tidak selalu cukup untuk mencegah munculnya jerawat. Jika produksi minyak tetap berlebihan atau faktor pemicunya belum teratasi, jerawat dapat terus muncul meski seseorang sudah menjaga kebersihan wajah dengan baik.

Mengapa Jerawat Sering Kambuh?

Salah satu keluhan yang paling sering dialami penderita jerawat adalah kondisi kulit yang membaik untuk sementara waktu, lalu kembali berjerawat beberapa minggu atau bulan kemudian.

Hal ini terjadi karena banyak metode penanganan hanya berfokus pada gejala yang tampak di permukaan kulit. Misalnya mengurangi kemerahan, mengeringkan jerawat yang sedang aktif, atau membersihkan pori-pori yang tersumbat.

Padahal, apabila akar masalahnya belum ditangani, seperti produksi minyak yang berlebihan atau peradangan yang terus berulang, jerawat berpotensi muncul kembali.

Faktor hormonal juga memiliki peran penting dalam pembentukan jerawat. Itulah sebabnya jerawat sering muncul pada masa pubertas, menjelang menstruasi, atau saat seseorang mengalami stres yang memengaruhi keseimbangan hormon tubuh.

Beragam Cara Mengatasi Jerawat

Selama bertahun-tahun, penanganan jerawat identik dengan penggunaan skincare, obat oles, antibiotik, hingga obat oral. Setiap metode memiliki manfaat dan pertimbangannya masing-masing tergantung tingkat keparahan jerawat yang dialami pasien.

Salah satu obat yang cukup dikenal untuk menangani jerawat berat adalah isotretinoin, turunan vitamin A yang biasanya digunakan untuk kasus jerawat nodular atau kistik. Namun penggunaannya harus berada dalam pengawasan dokter karena berpotensi menimbulkan berbagai efek samping.

Beberapa efek samping yang sering menjadi perhatian antara lain kulit dan bibir kering ekstrem, meningkatnya sensitivitas kulit, gangguan fungsi hati, peningkatan kadar trigliserida, hingga sejumlah risiko lain yang perlu dipantau selama penggunaan. Karena itu, banyak yang mencari alternatif penanganan jerawat yang dinilai lebih minim risiko dan tidak bergantung pada konsumsi obat oral dalam jangka panjang.

Salah satunya melalui teknologi laser yang menargetkan kelenjar minyak atau sebaceous glands, yakni bagian kulit yang berperan menghasilkan sebum. Pendekatan ini dinilai berbeda karena berupaya mengendalikan salah satu penyebab utama jerawat dari dalam kulit, bukan hanya mengatasi jerawat yang sudah muncul di permukaan.

Belum lama ini, klinik BMDERMA memperkenalkan AVICLEAR, teknologi laser yang dirancang untuk menargetkan kelenjar minyak pada kulit. Teknologi tersebut disebut telah memperoleh FDA Clearance untuk penanganan acne vulgaris dengan berbagai tingkat keparahan. Hal itu diptparkan Founder sekaligus Head Doctor dr. Deasy Lius, Sp.D.V.E.

Ia mengatakan salah satu tantangan terbesar dalam menangani jerawat adalah sifatnya yang sering kambuh. “Tidak mungkin sebagai dokter kami meresepkan Isotretinoin (Accutane), karena Isotretinoin (Accutane) merupakan obat keras dengan berbagai risiko efek samping, apalagi belum ada izin edarnya," ujarnya, sebagaimana dikutip dari siaran pers, Rabu, 3 Juni 2026.

ADVERTISEMENT

GULIR UNTUK LANJUT BACA

Ia menilai kebutuhan akan metode penanganan jerawat yang minim risiko menjadi semakin penting, terutama bagi kelompok tertentu seperti remaja dan perempuan usia produktif. “Terutama pada pasien dengan acne sedang sampai berat, pasien dengan kulit sensitif, pasien usia remaja, pasien yang khawatir terhadap efek samping Isotretinoin (Accutane), hingga pasien dalam masa reproduksi aktif,” katanya.

Meski demikian, para ahli mengingatkan bahwa penanganan jerawat sebaiknya disesuaikan dengan kondisi masing-masing individu. Memahami penyebab utama jerawat dan berkonsultasi dengan dokter kulit tetap menjadi langkah penting agar terapi yang dipilih sesuai dengan kebutuhan dan kondisi kulit setiap orang.