Harga Pertamax Naik, Ini Risiko Pakai Pertalite pada Mesin yang Butuh RON Tinggi

Pertamax, knocking, Harga Pertamax Naik, Ini Risiko Pakai Pertalite pada Mesin yang Butuh RON Tinggi

Kenaikan harga Pertamax per 10 Juni 2026 membuat sebagian pemilik kendaraan mulai mempertimbangkan beralih ke bahan bakar dengan angka oktan lebih rendah demi menekan pengeluaran.

Pertamax yang sebelumnya dijual Rp 12.300 per liter kini naik menjadi Rp 16.250 per liter atau meningkat sekitar 32 persen.

Meski dapat menghemat pengeluaran dalam jangka pendek, penggunaan BBM beroktan lebih rendah seperti Pertalite pada kendaraan yang direkomendasikan memakai RON tinggi berpotensi menimbulkan sejumlah dampak negatif.

Pakar otomotif dari Universitas Gadjah Mada, Jayan Sentanuhady, mengatakan kendaraan yang dirancang menggunakan bahan bakar beroktan tinggi (RON tinggi) sebaiknya tidak diisi BBM dengan RON lebih rendah.

Pertamax, knocking, Harga Pertamax Naik, Ini Risiko Pakai Pertalite pada Mesin yang Butuh RON Tinggi

Pada Rabu malam, antrean kendaraan masih terlihat di salah satu SPBU di Jalan Slamet Riyadi, Samarinda. Sebagian pengendara yang ditemui mengaku baru mengetahui adanya penyesuaian harga Pertamax yang diumumkan Pertamina Patra Niaga. Rabu (10/6/2026)

Jika hal itu dilakukan secara terus-menerus, performa mesin dapat menurun dan berpotensi menimbulkan kerusakan.

Menurut Jayan, mesin modern dengan rasio kompresi tinggi membutuhkan bahan bakar dengan angka oktan yang sesuai agar proses pembakaran berlangsung optimal.

Karena itu, penggunaan BBM sesuai rekomendasi pabrikan akan membantu menjaga performa sekaligus memperpanjang usia pakai mesin.

"Jika bahan bakar dengan RON lebih rendah digunakan, kemungkinan besar terjadi knocking atau detonasi dini, yang dapat merusak komponen mesin dalam jangka panjang," ujar Jayan kepada Kompas.com, belum lama ini.

Knocking merupakan kondisi ketika campuran udara dan bahan bakar di dalam ruang bakar terbakar sebelum waktu yang seharusnya.

Jika terjadi berulang dalam jangka panjang, kondisi tersebut dapat menimbulkan kerusakan pada komponen mesin.

"Nah, kalau knocking terjadi secara terus-menerus akan menyebabkan kerusakan mesin," kata Jayan.

Ia menambahkan, gejala knocking umumnya sulit dikenali oleh orang awam. Dalam banyak kasus, kondisi tersebut baru dapat dipastikan setelah kendaraan diperiksa oleh teknisi.

Selain memicu knocking, penggunaan BBM dengan RON lebih rendah dari spesifikasi kendaraan juga membuat proses pembakaran menjadi kurang sempurna.

Akibatnya, konsumsi bahan bakar cenderung lebih boros dan emisi gas buang meningkat.

Jayan menjelaskan, BBM dengan angka oktan lebih tinggi mampu menghasilkan pembakaran yang lebih sempurna sehingga energi yang dihasilkan lebih maksimal dan penggunaan bahan bakar menjadi lebih efisien.

Sebaliknya, pembakaran yang tidak sempurna akan meninggalkan residu atau kerak pada sejumlah komponen mesin yang dalam jangka panjang dapat mengganggu kinerjanya.

KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang