Rahasia Kelezatan Daging Domba Australia, Begini Cara Memasak yang Tepat
Daging domba perlahan mulai mencuri perhatian pecinta kuliner di Indonesia, terlebih dengan meningkatnya minat masyarakat terhadap hidangan premium dan teknik memasak modern. Namun, di balik popularitasnya, masih banyak anggapan bahwa daging domba sulit diolah serta memiliki aroma menyengat.
Menurut Christian Haryanto, Chief Representative MLA Indonesia, salah satu tantangan terbesar di Indonesia adalah kurangnya pengetahuan dasar dalam menangani daging domba. Scroll lebih lanjut yuk!
"Masyarakat Indoonesia terutama ibu-ibu harus mengerti cara handle atau cara masak daging domba karena kebanyakan mungkin dari turunan-turunan kita dari leluhur kita. Mereka masak dulunya hanya ikan, ayam. Jadi memang cara masak atau cara mengelola daging domba Ini memang sangat sedikit sekali," kata Christian, dalam acara The art of Victorian Lamb: Crafted by Lambassador Chefs oleh Meat & Livestock Australia (MLA), di Jakarta, Selasa 25 November 2025.

Pernyataan tersebut menunjukkan bahwa tradisi kuliner Nusantara yang lebih banyak menggunakan ayam dan ikan membuat domba kurang familiar di dapur rumah. Akibatnya, banyak orang menganggap pengolahannya rumit, padahal dengan teknik yang tepat, daging domba dapat diolah menjadi sajian yang sangat nikmat.
Salah satu kekhawatiran umum adalah aroma khas daging domba. Christian menegaskan bahwa hal ini dapat diatasi dengan mudah selama koki memahami bahan pendamping yang tepat.
“Jadi kalau mau menghilangkan bau Itu bisa dengan cara ada bahan-bahannya Ataupun ada perasaan pedasnya Yang memang bisa digunakan untuk mengurangi dari baunya,” jelasnya.
Penggunaan rempah hangat, seperti jahe, bawang putih, kayu manis, hingga cabai, dapat membantu menetralkan aroma sekaligus memperkaya rasa. Teknik marinasi juga menjadi kunci penting dalam memasak domba.

Lebih jauh, Christian mengungkap alasan mengapa domba Australia memiliki kualitas yang konsisten dibandingkan domba lokal. Faktor lingkungan serta sistem peternakan ternyata berperan besar.
“Sebenarnya gini, dari mulai pertetakannya Jadi mereka mulai diberi makan, itu sudah beda. Jadi mereka itu kan di sana sebenarnya perbandingannya satu domba satu manusia. Lahannya besar, padang rumputnya juga bagus, lingkungannya juga bagus. Itu yang sebenarnya punya manfaat tersendiri buat domba-domba di Australia dibesarkan,” katanya.
Dengan luas lahan yang melimpah, peternak Australia dapat fokus pada kesejahteraan hewan, memastikan setiap domba tumbuh di padang rumput berkualitas. Cuaca yang stabil dan lingkungan yang terkontrol membuat domba hidup lebih nyaman, sehingga menghasilkan daging yang lebih lembut, juicy, dan minim aroma menyengat.
Christian juga membandingkan kondisi tersebut dengan peternakan di Indonesia.
“Beda dengan yang ada di sini, dengan cuaca yang panas dan segala macam Itu mempengaruhi dari kualitas daging. Termasuk juga makanannya makanan-makanan di sana juga mereka memberinya dengan yang bagus-bagus. Jadi memang berbeda," jelasnya.
Cuaca tropis, ruang peternakan terbatas, dan jenis pakan yang bervariasi membuat kualitas domba lokal lebih fluktuatif.
Daging domba Australia hadir bukan hanya sebagai alternatif protein, tetapi juga sebagai pengalaman kuliner yang lezat dan bernilai gizi tinggi. Dengan pemahaman pengolahan yang benar, siapa pun dapat menikmati hidangan domba yang empuk, tidak berbau, dan kaya rasa.
Meat & Livestock Australia (MLA) Indonesia, dengan dukungan dari Victorian Government Trade and Investment, menggelar acara makan malam Lambassador di Jakarta. Acara ini menyambut kehadiran Her Excellency Professor the Honourable Margaret Gardner AC, Governor of Victoria sekaligus merayakan hubungan erat antara Victoria dan Indonesia melalui kecintaan bersama terhadap kuliner berkualitas.
Dalam acara ini, para tamu diajak menikmati perjalanan kuliner yang menghadirkan lima chef Lambassador terkemuka yang mengolah daging domba terbaik dari Victoria menjadi hidangan istimewa. Chef A.S Windoe, Chef Rizqi Pradana, Chef Victor Taborda, Chef Bayu Timur dari Indonesia, serta Chef Alysia Chan dari Singapura, masing-masing menyajikan kreasi khas mereka menggunakan potongan Australian lamb leg, lamb rack dan lamb shoulder, potongan yang menantang kreativitas sekaligus menunjukkan keunggulan dalam fleksibilitas.