Rupiah Tembus Rp 18.000-an, Kadin Optimis Dunia Usaha Bisa Adaptasi Pahami Posisi Pasarnya
Wakil Ketua Umum Analisis Kebijakan Makro-Mikro Ekonomi Kadin Indonesia, Aviliani mengatakan, pelemahan nilai tukar rupiah hingga ke level Rp 18.000-an per dolar AS, tentunya akan berdampak kepada para pelaku usaha di Tanah Air.
Namun, Dia meyakini bahwa para pelaku usaha khususnya di bawah naungan Kadin Indonesia, tentunya akan mampu beradaptasi dengan kondisi pelemahan rupiah dengan memahami posisi pasarnya masing-masing.
"Jadi sekarang kalau kita lihat, pengusaha itu pasti akan melihat bagaimana posisi pasarnya. Karena kalau posisi pasarnya dia tidak bisa melihat, itu artinya tinggal naikin harga aja gitu kan," kata Aviliani di Menara Kadin, Kuningan, Jakarta Selatan, Kamis, 4 Juni 2026.
Aviliani Malik, Waketum Kadin Bidang Analisa Kebijakan Makro-Mikro Ekonomi
"Tapi kalau saya melihat, mereka dengan berbagai cara ya, membuat kategori produk berbeda-beda, sehingga mereka juga tetap masih bisa mendapatkan keuntungan," ujarnya.
Data Kadin menurutnya telah menunjukkan bahwa sejumlah sektor usaha sampai saat ini masih terbilang baik. Misalnya seperti keuntungan dari sektor real estate yang menurutnya masih bagus.
"Itu berarti apa? Demand walaupun katanya dimana ada penurunan, tapi mereka masih tetap baik," kata Aviliani.
Karenanya, Dia mengakui bahwa pengusaha terutama para anggota Kadin, setidaknya masih bisa bertahan sampai saat ini.
"Bahkan sebenarnya, ini momentum bagus untuk pengusaha kita itu mencoba membuat program substitusi import. Karena biar bagaimanapun, itu juga yang dilakukan oleh berbagai negara," ujar Aviliani.
Meski demikian, Aviliani juga berharap bahwa pemerintah akan memberikan berbagai insentif, guna membuat kondisi ini menjadi momentum untuk mengurangi ketergantungan impor yang masih mencapai 70 persen.
"Jadi saya lihat sih sebagian pengusaha masih survive ya. Cuma nanti yang menjadi concern sekarang itu adalah terkait dengan izin-izin. Ya sawit, dengan perkebunan, dengan tambang, dan itu yang sekarang menjadi isu," kata Aviliani.
"Nah, ini yang mungkin perlu komunikasi yang baik oleh pemerintah supaya tidak terjadi stagnasi dari dua hal ini, yang sekarang tergantung ekspor kita pada dua komunikasi ini termasuk batu bara," ujarnya.