Rupiah Sempat Tembus Rp17.700, Begini Posisi Indonesia Dibanding Mata Uang Negara-negara di Asia Tenggara

Mata uang Rupiah.
Mata uang Rupiah.

Sepanjang 2026, pergerakan mata uang di kawasan Asia Tenggara menjadi sorotan. Hal ini karena tekanan dolar Amerika Serikat yang masih kuat, ketidakpastian ekonomi global, hingga arus investasi asing yang berubah.

Di tengah situasi tersebut, beberapa mata uang ASEAN mengalami pelemahan cukup tajam terhadap dolar AS. Rupiah Indonesia bahkan masuk dalam daftar tiga mata uang terlemah di Asia Tenggara secara nominal pada tahun ini. 

ADVERTISEMENT

GULIR UNTUK LANJUT BACA

Sementara itu, mata uang seperti Ringgit Malaysia dan Dolar Singapura justru mampu bertahan lebih kuat. Namun, nilai nominal tidak selalu mencerminkan kekuatan ekonomi secara keseluruhan. 

Beberapa negara memang sejak awal memiliki denominasi mata uang yang besar, sehingga kursnya tampak tinggi terhadap dolar AS. Berikut daftar mata uang Asia Tenggara dari yang terlemah hingga terkuat terhadap dolar AS pada 2026.

Daftar Mata Uang Asia Tenggara di 2026

1. Dong Vietnam (VND)

Dong Vietnam menjadi mata uang dengan nilai nominal terlemah di Asia Tenggara pada 2026. Untuk membeli 1 dolar AS, dibutuhkan sekitar 26.000 Dong Vietnam. Meski terlihat sangat lemah secara nominal, ekonomi Vietnam justru termasuk salah satu yang tumbuh pesat di kawasan ASEAN. Vietnam masih menjadi tujuan investasi manufaktur global dan memiliki aktivitas ekspor yang kuat.

2. Kip Laos (LAK)

Kip Laos berada di posisi kedua dengan kisaran sekitar 22.000 LAK per dolar AS. Mata uang Laos beberapa tahun terakhir menghadapi tekanan akibat tingginya utang luar negeri dan inflasi domestik. Kondisi ekonomi global yang belum stabil juga membuat mata uang Laos sulit menguat terhadap dolar AS.

3. Rupiah Indonesia (IDR)

Rupiah Indonesia menjadi salah satu mata uang yang paling tertekan di Asia Tenggara tahun ini. Nilainya sempat menyentuh kisaran Rp17.700 per dolar AS sebelum bergerak di area Rp17.000.

Tekanan terhadap rupiah dipengaruhi berbagai faktor, mulai dari penguatan dolar AS, keluarnya dana asing dari pasar keuangan domestik, hingga ketidakpastian ekonomi global.

Meski demikian, Bank Indonesia terus melakukan langkah stabilisasi untuk menjaga nilai tukar rupiah agar tidak mengalami pelemahan lebih dalam.

4. Riel Kamboja (KHR)

Riel Kamboja berada di kisaran 4.000 KHR per dolar AS. Menariknya, penggunaan dolar AS di Kamboja masih cukup dominan dalam aktivitas ekonomi sehari-hari.Hal tersebut membuat nilai tukar Riel relatif stabil meski secara nominal tetap terlihat lemah dibanding mata uang ASEAN lainnya.

5. Kyat Myanmar (MMK)

Kyat Myanmar berada di kisaran lebih dari 2.000 MMK per dolar AS. Ketidakstabilan politik dan ekonomi menjadi faktor utama yang menekan mata uang Myanmar dalam beberapa tahun terakhir. Situasi domestik yang belum pulih membuat nilai tukar Kyat masih sulit bergerak stabil.

6. Peso Filipina (PHP)

Peso Filipina berada di kisaran 56 hingga 61 peso per dolar AS. Mata uang Filipina masih mengalami tekanan akibat impor yang tinggi dan kebutuhan dolar AS untuk perdagangan internasional. Meski begitu, ekonomi Filipina masih didukung konsumsi domestik yang cukup kuat.

7. Baht Thailand (THB)

Baht Thailand diperdagangkan di kisaran 33 hingga 37 THB per dolar AS pada 2026. Mata uang Thailand cenderung lebih stabil dibanding beberapa negara ASEAN lain karena sektor pariwisata mulai pulih. Arus wisatawan asing yang kembali meningkat membantu memperkuat cadangan devisa Thailand.

8. Dolar Brunei (BND)

Dolar Brunei menjadi salah satu mata uang terkuat di Asia Tenggara dengan kisaran sekitar 1,34 BND per dolar AS. Kekuatan mata uang Brunei ditopang stabilitas ekonomi dan sektor energi yang masih menjadi tulang punggung negara tersebut.

9. Dolar Singapura (SGD)

Singapura memiliki salah satu mata uang paling kuat dan stabil di Asia Tenggara. Nilai tukarnya berada di kisaran 1,34 SGD per dolar AS. Stabilitas sistem keuangan, kuatnya sektor jasa keuangan, serta tingginya kepercayaan investor global menjadi faktor utama penguatan Dolar Singapura.

10. Ringgit Malaysia (MYR)

Ringgit Malaysia menjadi mata uang terkuat di Asia Tenggara pada 2026 dengan kisaran sekitar 3,9 hingga 4,3 MYR per dolar AS. Penguatan Ringgit didukung kondisi ekonomi yang membaik, peningkatan investasi asing, dan stabilitas kebijakan moneter negara tersebut.

Mengapa Mata Uang Lemah Belum Tentu Ekonominya Buruk?

Banyak orang menganggap mata uang dengan nominal besar otomatis menunjukkan ekonomi yang buruk. Padahal, hal tersebut tidak selalu benar. Vietnam menjadi contoh paling jelas. Meski Dong Vietnam terlihat sangat lemah terhadap dolar AS, negara tersebut justru memiliki pertumbuhan ekonomi yang cukup kuat dan menjadi basis produksi berbagai perusahaan global.

ADVERTISEMENT

GULIR UNTUK LANJUT BACA

Hal serupa juga berlaku untuk Indonesia. Pelemahan rupiah memang menjadi perhatian serius, tetapi kondisi ekonomi suatu negara tidak bisa dinilai hanya dari kurs mata uang semata. Faktor seperti pertumbuhan ekonomi, inflasi, investasi, hingga daya beli masyarakat juga sangat menentukan.

Sebab itu, daftar mata uang Asia Tenggara ini lebih tepat dilihat sebagai gambaran nilai nominal kurs terhadap dolar AS, bukan ukuran tunggal kekuatan ekonomi suatu negara secara keseluruhan.