Rupiah Nyaris Tembus Rp17.000 per Dolar AS, Ekonom Desak BI Intervensi Pasar
Kepala Ekonom Permata Bank, Josua Pardede, mengatakan bahwa rupiah berada dalam tren pelemahan jangka pendek hingga menengah. ia menambahkan bahwa saat ini pasar menilai risiko rupiah cenderung ke arah melemah.
Josua memprediksi rupiah berpotensi anjlok melewati Rp17.000 per dolar AS bila sentimen tidak membaik. Momentum Ramadhan dan musim pembagian dividen juga berpotensi menambah permintaan dolar sehingga menekan nilai tukar rupiah.
"Dalam dua hari terakhir saja, rupiah sempat bergerak di kisaran 16.923 per dolar AS lalu menembus rekor terlemah sekitar 16.988 per dolar AS, sehingga level 17.000 menjadi jangkar psikologis yang sangat diperhatikan pasar,” ungkap Josua dikutip dari Antara pada Selasa, 20 Januari 2026.
Meski demikian, Josua melihat peluang pembalikan tren terbuka jika memenuhi tiga syarat utama. Pertama adalah tekanan global mereda, misalnya suku bunga Amerika Serikat (AS) tidak kembali meningkat atau dolar melemah.
Kedua, membaiknya kepercayaan domestik dengan adanya kejelasan langkah fiskal dan komunikasi kebijakan yang meyakinkan pasar. Ketiga, stabilitas arus dana kembali masuk.
Nilai tukar rupiah terhadap dolar AS
Oleh sebab itu, Josua menekankan pentingnya upaya intervensi oleh Bank Indonesia (BI). Langkah ini guna mencegah pelemahan yang terlalu cepat dan menjaga kepercayaan pasar.
Lebih lanjut, ia menegaskan bahwa akar masalahnya adalah premi risiko dan keyakinan pasar. Dimana BI perlu menjaga likuiditas rupiah supaya pasar tidak panik.
Stabilitas likuditas menjadi upaya memastikan instrumen pengelolaan likuiditas mendukung stabilitas, memperkuat pasokan valas melalui koordinasi kebijakan devisa dan pengelolaan arus modal. Paling krusial adalah empertegas komitmen disiplin fiskal dan independensi pengambilan keputusan moneter agar persepsi risiko turun.
"Mitigasi bank sentral tidak cukup hanya mengandalkan langkah stabilisasi rutin di pasar valuta," tambah Josua.
Dari sisi global, arah dolar dan suku bunga AS masih menjadi penentu utama karena memengaruhi arus dana ke negara berkembang, termasuk Indonesia.
Sedangkan dari sisi domestik, terdapat kekhawatiran pasar terhadap risiko pelebaran defisit dan kebutuhan pembiayaan program pemerintah. Kondisi ini ditambah kekhawatiran soal persepsi independensi bank sentral setelah muncul isu penunjukan figur dekat kekuasaan ke jajaran bank sentral.