Iran Siap Perang Panjang Lawan AS dan Israel, Berapapun Harganya
Iran menyatakan siap untuk perang jangka panjang dan akan memastikan musuh-musuhnya "menyesali kesalahan perhitungan mereka", kata Ali Larijani, Sekretaris Dewan Keamanan Nasional Tertinggi Iran, pada hari Senin.
Dalam sebuah pernyataan yang diunggah di platform media sosial X, Larijani menyatakan bahwa Iran, tidak seperti Amerika Serikat, siap untuk melancarkan perang jangka panjang menyusul serangan terbaru yang dikaitkan dengan Washington dan Tel Aviv.
"Berapapun biayanya, kami akan dengan tegas membela diri dan peradaban kami yang berusia 6.000 tahun," tulisnya, menambahkan bahwa Iran akan terus membela diri terhadap apa yang digambarkannya sebagai agresi.
Larijani juga menegaskan bahwa Iran tidak pernah memulai perang dalam sejarah modern, dengan menyatakan: "Seperti yang telah terjadi selama 300 tahun terakhir, Iran tidak pernah menjadi pihak yang memulai perang."
Pernyataan tersebut muncul di tengah eskalasi militer yang sedang berlangsung setelah Israel dan Amerika Serikat melancarkan serangan ke wilayah Iran mulai Sabtu pagi, menurut laporan Iran. Teheran mengatakan serangan tersebut mengakibatkan ratusan kematian, termasuk tokoh-tokoh keamanan senior.
Sebagai tanggapan, Iran telah melancarkan serangan rudal dan drone ke arah Israel dan pangkalan militer Amerika di wilayah tersebut. Beberapa serangan balasan tersebut dilaporkan telah menyebabkan korban jiwa dan kerusakan infrastruktur.
Washington dan Tel Aviv menuduh Teheran mengembangkan kemampuan nuklir dan rudal yang mengancam Israel dan negara-negara sekutu di kawasan tersebut. Iran membantah berupaya mengembangkan senjata nuklir, dan bersikeras bahwa programnya bersifat damai.
Konfrontasi ini terjadi meskipun ada upaya diplomatik baru-baru ini yang dimediasi oleh Oman, yang oleh para pejabat Iran digambarkan telah menunjukkan kemajuan sebelum pecahnya permusuhan.
AS sendiri menolak terlibat perang berkepanjangan di Timur Tengah, meskipun Presiden Donald Trump menempuh opsi militer terhadap Iran di tengah perundingan nuklir yang sedang berlangsung.
Trump menyatakan operasi militer AS terhadap Iran bisa berlangsung empat pekan atau kurang.
"Prosesnya selalu memakan waktu empat pekan. Kami memperkirakan akan memakan waktu sekitar empat pekan. Prosesnya selalu sekitar empat pekan, jadi - sekuat apa pun negara ini, akan memakan waktu empat pekan - atau kurang," kata Trump dalam sebuah wawancara dengan surat kabar Daily Mail.
Trump menambahkan bahwa kemungkinan akan ada korban jiwa baru di kalangan militer AS selama operasi di Iran.
Militer AS ditaksir telah menghabiskan sekitar $779 juta (sekitar Rp13 triliun) atau sekitar 0,1% dari seluruh anggaran pertahanan AS tahun 2026, selama 24 jam pertama serangan terhadap Iran, menurut perkiraan dan data yang dikumpulkan oleh Anadolu.
Jumlah tersebut berdasarkan pengerahan besar-besaran alutsista dalam perang Iran, mencakup pesawat pembom siluman B-2, jet tempur F-22, F-35, dan F-16, pesawat serang A-10, dan pesawat perang elektronik EA-18G. Operasi tersebut juga menggunakan drone MQ-9 Reaper, kapal induk bertenaga nuklir, kapal perusak rudal berpemandu, dan sistem pertahanan rudal Patriot dan THAAD. (Middle East Monitor)