Siap-siap, Harga Mi Goreng Bisa Naik karena BBM dan Plastik Makin Mahal

Ilustrasi mi goreng
Ilustrasi mi goreng

Harga makanan favorit seperti mi goreng berpotensi ikut naik, seiring lonjakan biaya produksi akibat krisis energi global yang belum mereda. Konflik antara Iran vs Israel dan Amerika Serikat, yang masih berlangsung membuat harga bahan bakar, logistik, hingga kemasan makanan terus menekan pelaku usaha.

Di Malaysia, produsen mi kuning merasakan dampak paling besar dari kenaikan harga plastik kemasan berbahan dasar minyak mentah serta melonjaknya harga solar untuk distribusi dan produksi.

ADVERTISEMENT

GULIR UNTUK LANJUT BACA

Ketegangan antara Iran dan Amerika Serikat di Selat Hormuz memperpanjang krisis energi global. Jalur tersebut merupakan salah satu rute utama distribusi minyak dunia. Ketidakstabilan di kawasan itu membuat biaya pengiriman, asuransi kapal, dan pasokan bahan baku melonjak tajam.

Presiden Malaysian Bakery, Biscuit, Confectionery, Mee and Kuey Teow Merchants Association, Chaang Tuck Cheong, mengatakan biaya kemasan plastik untuk mi telah naik hampir 30 persen sejak konflik berlangsung lebih dari sebulan lalu.

Bahan utama kemasan tersebut adalah polyethylene terephthalate (PET), yaitu material yang diproduksi dari hasil olahan minyak mentah. Sementara sekitar 38 persen pasokan minyak mentah Malaysia diimpor melalui Selat Hormuz.

Selain mahal, pasokan kemasan juga datang jauh lebih lambat karena lonjakan permintaan. “Dulu, kami bisa mendapatkan kemasan dalam waktu tiga minggu setelah melakukan pembelian, tetapi sekarang beberapa produsen mi harus menunggu setidaknya enam minggu,” ujarnya, sebagaimana dikutip dari Malay Mail, Selasa, 21 April 2026.

“Beberapa pemasok juga memperpendek masa pembayaran kami, dari sebelumnya dua bulan menjadi hanya satu bulan, sehingga menimbulkan tekanan arus kas yang serius,” jelasnya.

Kondisi ini membuat produsen harus bekerja ekstra menjaga kelangsungan produksi sambil menahan tekanan biaya yang terus meningkat. Chaang menjelaskan bahwa biaya solar menyumbang hampir sepertiga dari total biaya produksi mi. Karena itu, kenaikan harga diesel sangat memukul industri ini.

Harga solar di Semenanjung Malaysia melonjak dari RM3,12 per liter pada 11 Maret menjadi rekor RM6,72 per liter pada 9 April. Meski sempat turun 75 sen menjadi RM5,97 per liter pekan lalu, angka tersebut masih jauh lebih tinggi dibanding sebelumnya.

“Beberapa usaha tradisional berskala kecil yang masih menggunakan kayu bakar untuk memproduksi mi mungkin tidak akan menaikkan harga demi menjaga daya saing mereka,” kata dia. “Tetapi, perusahaan besar yang bergantung pada solar untuk memproduksi mi tidak punya pilihan.”

Artinya, potensi kenaikan harga lebih besar akan terjadi pada produsen skala besar yang memasok pasar luas. Para pedagang pasar juga mulai merasakan dampaknya. Salah satunya Kamol Cheng Thean, pedagang di Pasar Harian Selayang.

Mulai pekan ini, ia harus membayar tambahan RM2 untuk setiap 4,5 kilogram mi kuning, kuey teow, dan kuey teow halus. “Pemasok telah menaikkan harga dari RM14 menjadi RM16 untuk setiap 4,5 kg kuey teow dan kuey teow halus.”

“Untuk mi kuning, harganya naik dari RM13,75 menjadi RM15,75 untuk setiap 4,5 kg,” ujarnya.

Kenaikan ini mulai menekan pedagang kecil yang selama ini mengandalkan margin tipis untuk bertahan. Meski biaya bahan baku naik, banyak pedagang kaki lima masih menahan diri untuk tidak menaikkan harga makanan karena khawatir kehilangan pelanggan tetap.

Presiden Malaysia Federation of Hawkers and Petty Traders Association, Datuk Seri Rosli Sulaiman, mengatakan kenaikan biaya produksi sudah memangkas hampir 20 persen keuntungan pedagang.

ADVERTISEMENT

GULIR UNTUK LANJUT BACA

Rosli mengatakan beberapa pemasok memang sudah memberi sinyal kenaikan harga mi dan kuey teow, tetapi kemungkinan masih menunggu harga solar lebih stabil.

Ia menambahkan banyak pedagang masih bisa mempertahankan harga karena pemerintah menetapkan harga tabung gas LPG subsidi 14 kg, yang biasa digunakan rumah tangga dan warung kecil. Namun jika krisis energi terus berlanjut, bukan tidak mungkin harga mi goreng juga akhirnya ikut naik.