Mudah Menangis Bukan Berarti Cengeng, Di Baliknya Ada Sederet Manfaat bagi Tubuh
Kecenderungan seseorang untuk mudah menangis masih dianggap sebagai kelemahan, memiliki jiwa yang rapuh, atau memiliki emosi yang tidak stabil.
Alhasil, pada orang-orang yang cukup sering menangis, mereka merasa malu dan menyembunyikan kebiasaan itu karena takut dicap negatif. Bahkan, tidak jarang mereka menyalahkan diri sendiri karena "terlalu cengeng" lantaran mudah menangis.
Menurut psikolog yang juga menjabat asisten profesor di departemen psikiatri dan neurobiologi perilaku di University of Alabama at Birmingham Marnix E. Heersink School of Medicine, Alabama, Amerika Serikat (AS), Christina Pierpaoli Parker, PhD, pandangan miring tentang menangis sebenarnya berakar dari lingkungan masyarakat, bukan kesalahan pada diri individu tersebut.
"Rasa malu dan stigma tentu saja ada di sekitar menangis. Tetapi bagi saya, itu hanyalah dakwaan atas pemahaman budaya kita yang sangat buruk tentang emosi," tegas Parker, dikutip dari Self, Rabu (4/3/2026).
Menangis memang hal yang wajar. Namun, bagaimana jika seseorang cukup sering menitikkan air mata?
Menangis sebagai cara mengolah emosi
Psikolog klinis sekaligus profesor madya psikiatri dan psikologi di Universitas Pittsburgh, Pennsylvania, AS, Lauren Bylsma, PhD, pernah meneliti neurobiologi di balik keluarnya air mata.
Ilustrasi menangis.
Ia menuturkan, kegunaan utama dari menangis adalah menolong manusia dalam mengolah dan mengekspresikan perasaan yang sangat kuat.
Menitikkan air mata akibat luapan emosi ini secara eksklusif hanya dialami oleh spesies manusia, kata psikolog kesehatan klinis dari Cleveland Clinic, Grace Tworek, PsyD.
"Kita tidak melihat perilaku semacam ini pada makhluk hidup lain. Jadi, mengekspresikan emosi kita dengan cara ini benar-benar bagian dari apa yang membuat manusia unik," ucap dia.
"Katup" pelepas stres dan terapi diri
Kebanyakan manusia secara insting menyadari adanya efek pelepasan yang melegakan setelah menangis tersedu-sedu, dan para ahli pun membenarkan adanya khasiat psikologis dari hal tersebut.
"Menangis, terutama saat sendirian, dapat berfungsi sebagai semacam terapi diri. Itu benar-benar memaksamu untuk memikirkan apa pun yang kamu tangisi dan memprosesnya, dan itu dapat membuatmu merasa lebih baik," terang Parker.
Lebih dari itu, tangisan yang sehat turut menolong tubuh untuk melakukan penyesuaian. Ketika wujud perasaan yang dahsyat, baik positif maupun negatif, membanjiri fisik seseorang, hal tersebut akan memancing timbulnya stres.
Ilustrasi memendam emosi.
Di titik inilah menangis mengambil peran layaknya sebuah katup pelepas tekanan.
"Air mata meredakan tekanan psikologis yang menumpuk di dalam sistem saraf simpatik kita," tutur Parker.
"Riset menunjukkan, tepat sebelum kamu menangis, respons lawan atau lari sistem saraf mencapai puncaknya," tambah Bylsma.
Begitu air mata mengucur, reaksi relaksasi pada sistem saraf akan secara bertahap mengambil alih.
Hormon cinta di balik tetesan air mata
Parker menambahkan bahwa tetesan air mata turut memicu produksi zat-zat kimiawi yang menciptakan rasa nyaman, sebut saja oksitosin yang dijuluki hormon cinta, serta endorfin yang bertindak meredakan rasa sakit.
Kehadiran oksitosin terbukti memfasilitasi lahirnya kedekatan, yang mana hal ini mengantarkan pada fungsi krusial lain dari menangis.
Lewat deraian air mata, seseorang bisa mengirimkan pesan tanpa kata kepada orang lain bahwa ia membutuhkan pelukan, atau menegaskan bahwa sesuatu teramat sangat berharga baginya.
Ilustrasi memendam emosi.
"Hal itu sebenarnya menciptakan rasa koneksi dan keamanan di dalam sistem sarafmu. Kita menangis untuk mengomunikasikan kebutuhan dan nilai kita kepada orang-orang," tutur Parker.
"Kamu mungkin mendapatkan lebih banyak dukungan dari orang lain karena mereka menyadari bahwa kamu benar-benar kesulitan," imbuh Bylsma.
Faktor yang membuat seseorang mudah menangis
Menurut penuturan Parker, terdapat banyak faktor yang memengaruhi seberapa gampang seseorang meneteskan air mata, mulai dari budaya dan latar belakang keluarga tempat mereka dibesarkan, hingga perbedaan biologi dan kepribadian pada masing-masing individu.
Tworek menyebutkan, data yang terkumpul umumnya juga membenarkan stereotip yang menyebut kaum perempuan lebih banyak menangis dibandingkan kaum laki-laki, yang besar kemungkinan dipicu oleh proses sosialisasi gender dan ketidaksamaan unsur biologis.
"Kebiasaan menangis bisa sekadar menjadi sinyal bahwa individu tersebut sangat sensitif, penuh empati, dan sangat ekspresif secara emosional," tutur Bylsma.
Sementara itu, Parker melihat tingginya intensitas menangis sebagai indikasi adanya kehidupan batin yang sangat kaya.
Membangun kedekatan lewat kerentanan
Menangis membuat seseorang lebih tenang.
Parker mengatakan, kemampuan untuk menangis yang dipicu secara spesifik oleh luapan emosi positif, seperti rasa bahagia atau kekaguman, menjadi bukti nyata atas kerumitan emosional yang dimiliki oleh manusia.
"Saya rasa, dibutuhkan tingkat perkembangan emosional yang lebih lanjut untuk menangis karean sebuah karya seni," tutur dia.
Membiarkan air mata tumpah juga merupakan bukti yang baik bahwa kamu memberikan izin bagi bermacam perasaan untuk datang dan berlalu secara alami, ketimbang terus-menerus memendamnya.
Namun, Bylsma menegaskan bahwa jika seseorang jarang menangis, bukan berarti ia otomatis sedang menekan perasaannya. Ini hanya berlaku jika kamu sering merasakan dorongan untuk menangis, tetapi dengan sengaja menahannya.
Pada akhirnya, tetesan air mata sanggup melahirkan tingkat keintiman yang jauh lebih besar dalam jalinan relasimu. Menangis memberikan petunjuk kepada orang-orang bahwa kamu adalah seseorang yang bisa diajak terbuka.
"Kita benar-benar dapat terikat dengan orang lain melalui tampilan emosi yang besar karena hal itu membawa kerentanan," kata Tworek.
Ilustrasi menangis saat puasa.
"Seseorang yang sangat emosional dan menangis memberi sinyal kepada orang lain bahwa mereka memiliki kompleksitas emosional, dan bahwa mereka berpotensi menjadi orang yang aman untuk memproses hal-hal yang menyakitkan bersama-sama," tambah Parker.
Kapan harus mulai waspada?
Menjawab kekhawatiran mengenai apakah ada istilah menangis yang terlampau berlebihan, ada sebuah kabar yang sangat menggembirakan.
Kebiasaan meneteskan air mata secara terus-menerus baru akan beralih menjadi sebuah masalah serius apabila mulai memberikan dampak merusak bagi kehidupan sehari-hari, maupun suasana hati secara umum.
"Jika itu menyebabkan kesusahan dan menghalangi pekerjaanmu dan hubunganmu, mungkin sudah waktunya untuk mulai mencari tahu tentang potensi penyebab psikiatris yang mendasarinya," ucap Parker.
KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang