Penutupan Selat Hormuz Berlanjut, Negara Teluk Berencana Buka Jalur Pipa Baru
Negara-negara Teluk mulai menyusun strategi besar untuk mengurangi ketergantungan pada Selat Hormuz yang masih dibayangi ketegangan geopolitik. Kini, mempertimbangkan pembangunan jaringan pipa minyak baru hingga jalur logistik lintas kawasan sebagai solusi jangka panjang.
Melansir Financial Times, rencana ini tidak hanya mencakup pembangunan pipa minyak baru, tetapi juga integrasi jalur kereta api dan jalan raya. Tujuannya adalah membuka akses ekspor energi tanpa harus melalui jalur sempit yang selama ini menjadi titik rawan perang di kawasan Timur Tengah.
Salah satu opsi utama yang tengah dikaji adalah membuka rute perdagangan yang menghubungkan Semenanjung Arab ke Laut Mediterania melalui pelabuhan Haifa. Jalur ini dinilai mampu memangkas risiko gangguan distribusi minyak akibat konflik di kawasan Teluk.
Di tengah situasi ini, Arab Saudi menjadi satu-satunya negara Teluk yang relatif mampu menjaga stabilitas ekspor minyak. Keunggulan itu ditopang oleh pipa East-West yang menghubungkan ladang minyak di wilayah timur dengan pelabuhan Yanbu di Laut Merah, sehingga tidak bergantung pada Selat Hormuz.
Selat Hormuz, Iran
“Jika dilihat sekarang, pipa East-West itu seperti langkah jenius,” ujar seorang eksekutif energi senior Teluk kepada Financial Times.
Rencana baru yang sedang digodok bahkan lebih ambisius. Arab Saudi, Uni Emirat Arab (UEA), Qatar, Kuwait, Oman, dan Bahrain tidak hanya ingin membangun jalur alternatif, tetapi menciptakan sistem logistik terpadu yang memungkinkan distribusi energi berjalan tanpa hambatan dari pihak luar.
Bos Cat Group, Christopher Bush, perusahaan konstruksi Lebanon yang terlibat dalam pembangunan pipa East-West mengungkapkan pihaknya mulai menerima sejumlah permintaan proyek baru.
“Kami menerima berbagai pertanyaan terkait pembangunan sejumlah jalur pipa,” ujar Bush.
Salah satu proyek besar yang kembali mencuat adalah inisiatif IMEC (India-Middle East-Europe Corridor) yang didukung Amerika Serikat. Proyek ini bertujuan menghubungkan India ke kawasan Mediterania melalui jaringan pipa, rel, dan jalan lintas negara.
Namun, proyek ini masih menghadapi tantangan besar. Terutama terkait persetujuan Arab Saudi untuk memasukkan pelabuhan Haifa sebagai bagian dari jalur utama.
CEO NewMed Energy, Yossi Abu, menegaskan pentingnya pembangunan jalur energi menuju Mediterania agar negara-negara kawasan memiliki kendali penuh atas distribusi mereka.
“Kita membutuhkan pipa minyak dan konektivitas kereta di seluruh kawasan, di darat, tanpa memberi pihak lain titik sempit untuk mencekik kita,” ujarnya.
Perdana Menteri, Israel Benjamin Netanyahu, juga menilai solusi jangka panjang krisis Selat Hormuz bukanlah pendekatan militer, melainkan pembangunan jalur alternatif energi. Ia menambahkan, meski pendekatan militer bisa memberikan stabilitas sementara, penghilangan ketergantungan pada Selat Hormuz dinilai sebagai langkah strategis yang lebih berkelanjutan.
“Solusi jangka panjang mencakup pengalihan jalur pipa energi ke arah barat, melintasi Arab Saudi menuju Laut Merah dan Mediterania, untuk menghindari titik sempit geografis Iran,” kata Netanyahu.
Dengan meningkatnya ketegangan di kawasan, langkah negara-negara Teluk ini menandai pergeseran besar dalam peta energi global—dari ketergantungan pada jalur tradisional menuju sistem distribusi yang lebih fleksibel dan aman.