Masyarakat "Ngos-ngosan": Mengejar Tren Olahraga di Ruang Kecepatan

dromologi, Masyarakat

PAUL VIRILIO, dalam konsep Dromologinya, menganalogikan ruang siber sebagai lintasan balap.

Buku utamanya, Speed and Politics, seakan mengungkapkan model kuasa baru, yaitu siapa cepat, dia berkuasa. Masih dalam lintasan berpikir yang sama, opini dalam artikel ini berusaha menunjukkan sudut pandang lain di lintasan kecepatan ruang siber.

alih mengarahkan pandangan pada keseluruhan lintasan yang cepat ataupun aktor tercepat, opini dalam artikel ini berusaha mengarahkan pandangan pada subjek-subjek yang ngos-ngosan di ruang kecepatan. Dengan berpijak pada konsep dromologi Virilio, artikel ini berusaha berpijak pada dua argumen utama.

Pertama, selalu ada subjek yang tertinggal di ruang siber, tetapi berusaha mengejar dengan ngos-ngosan. Kedua, yang tercepat pun, pada momen tertentu, akan ngos-ngosan juga.

Maka dari itu, masyarakat siber tidak hanya menggambarkan lintasan kecepatan, melainkan menghasilkan masyarakat yang ngos-ngosan dalam mengikuti tren.

Fenomena Ghaffar dan Parodi Tren

Konten YouTube Short dari @Kidiketids, misalnya, memberikan gambaran parodi yang cukup presisi tentang bagaimana ruang siber menghasilkan masyarakat yang ngos-ngosan.

Pergeseran tren olahraga di media sosial yang begitu cepat, dari tenis ke padel, dari padel ke pickleball, dan dari pickleball ke lari maraton, tidak hanya mengindikasikan masyarakat mulai cinta olahraga, tetapi juga menghasilkan masyarakat yang ngos-ngosan dalam usaha menyesuaikan tren yang ada.

Hal ini tergambar dari tokoh Ghaffar dalam konten tersebut. Tokoh yang diceritakan telah menabung selama 6 bulan untuk bisa beli raket tenis agar bisa ikut tren olahraga tenis, tetapi ternyata tren sudah berubah ke padel. Sehingga, si Ghaffar harus kembali menabung membeli raket padel.

Setelah raket padel terbeli, seharga Rp 2.000.000, ternyata tren olahraga sudah bergeser ke pickleball. Memaksa Ghaffar harus kembali membeli raket pickleball.

Puncaknya, setelah Ghaffar berhasil membeli raket pickleball seharga Rp 3.000.000, tren olahraga justru bergeser ke lari maraton.

Untuk bisa olahraga sesuai tren, Ghaffar kembali harus menabung membeli sepatu yang aman untuk maraton seharga Rp 5.000.000.

Konten dari @Kidiketids tentu hanya parodi dan penuh hiperbola. Hanya saja, gambaran yang disajikan tidak lepas sepenuhnya dari kenyataan riil dari dunia siber yang ada.

Budaya Konsumsi dan Hilangnya Substansi

Tokoh Ghaffar adalah masyarakat kita. Masyarakat yang ngos-ngosan untuk terus mengikuti tren, tergerus dalam lintasan kecepatan dunia siber, sehingga harus terus berlari mengikuti perkembangan tren meskipun tidak sesuai dengan kapasitas dirinya.

Kondisi semacam ini, yang pada akhirnya, memunculkan cara-cara yang merugikan diri sendiri.

Terjadi konsumsi berbasis gengsi dan ledakan pinjaman online demi citra diri yang trendi. Dunia siber dalam kerangka lintasan kecepatan menggeser manusia untuk terus lari agar tidak tertinggal. Ruang siber seakan menciptakan ilusi bahaya jika kita berhenti berlari.

Berhenti berlari sama dengan terlindas dan hilang dari peredaran peradaban.

Padahal, jika kita telaah lebih kritis, tren olahraga memuat substansi yang lebih krusial daripada sekadar pergeseran atribut alat olahraganya yang mahal. Tren olahraga adalah kesehatan.

Namun, tabiat ruang kecepatan justru arah fokus yang tidak pada substansi. Ruang kecepatan adalah permukaan. Karena sifatnya yang serba cepat, maka kedangkalan adalah wajah utamanya, sedangkan substansi adalah hal yang justru lenyap.

Seperti ketika kita berlari secepat mungkin, fokusnya tidak pada pemandangan sepanjang lintasan, melainkan orang lain yang ingin kita salip atau garis finis tempat kita berhenti. Kecepatan mengaburkan substansi dan menghasilkan kedangkalan.

Hingga puncaknya, kata Virilio, gerak cepat manusia di ruang kecepatan siber, berpotensi menghasilkan kecelakaan.

Kecelakaan bukan dalam arti literal kecelakaan lalu lintas, melainkan kecelakaan yang mengarah pada lepasnya keseluruhan substansi dari sesuatu yang kita kejar.

Dalam konteks tren olahraga, ambisi untuk terus update pada olahraga terbaru membawa manusia tidak berolahraga apapun, seperti tokoh Ghaffar dalam konten @Kidiketids.

Hasilnya, kesehatan yang merupakan substansi olahraga gagal diperoleh dan rasa untuk terus trendi menguras dompet dan terus melakukan konsumsi yang tidak perlu. Inilah kecelakaan kesadaran di ruang kecepatan.

Pada akhirnya, ruang siber sebagai ruang kecepatan dalam pemikiran Virilio tidak hanya menghadirkan masyarakat yang terus berlari atau berpacu secepat mungkin, melainkan menghasilkan masyarakat yang tertinggal karena lambat, ngos-ngosan karena memaksakan diri, dan celaka karena terlalu berambisi berkuasa.

Dalam segala situasi, KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih dari lapangan. Ikuti terus update topik ini dan notifikasi penting di Aplikasi KOMPAS.com. Download sekarang