Tubuh Bukan Tren: Kritik atas Euforia Olahraga Urban
DALAM beberapa tahun terakhir, kita menyaksikan geliat luar biasa dalam kultur berolahraga di Indonesia. Aktivitas fisik kini menjelma menjadi bagian dari gaya hidup urban, bahkan penanda dari identitas sosial.
Mulai dari lari pagi, bersepeda, menjadi member gym, hingga olahraga yang lebih “eksklusif” seperti padel dan hyrox. Semua hadir sebagai simbol dari gaya hidup sehat yang modern dan progresif.
Tetapi di tengah euforia ini, jika kita lihat lebih dalam, muncul kecenderungan yang layak kita refleksikan bersama.
Tidak sedikit dari masyarakat kita yang memulai hobi berolahraga bukan karena kebutuhan tubuhnya, melainkan hanya karena dorongan tren semata.
Fenomena fear of missing out (FOMO), membuat olahraga bergeser dari praktik kesehatan menjadi praktik sosial. Olahraga dilakukan sekedar agar tidak tertinggal dari yang lain.
Hasilnya, kita dihadapkan pada beragam kabar duka. Banyak korban jatuh dari praktik olahraga FOMO.
Mulai dari pingsan, hingga meninggal dunia ketika menjalani olahraga rekreasional yang dipilih. Lapangan badminton hingga jalur sepeda, dari pusat kebugaran hingga lintasan lari, tubuh yang seharusnya menjadi lebih sehat justru mengalami kegagalan.
Pertanyaannya sederhana, tetapi mendasar. Apakah kita benar-benar memahami tubuh kita sebelum memutuskan untuk berolahraga?
Tubuh yang Berbeda, Kebutuhan yang Tidak Sama
Sering kali kita memandang tubuh sebagai sesuatu yang seragam. Seolah-olah semua orang memiliki kapasitas yang sama dalam beraktivitas fisik.
Padahal, jika dianalisis dari perspektif antropologi biologis, tubuh manusia merupakan hasil dari variasi genetik dan adaptasi lingkungan yang sangat beragam.
Konsep tipologi tubuh, ectomorph, mesomorph, dan endomorph, dipopulerkan oleh William Herbert Sheldon di tahun 1940-an. Mungkin terdengar klasik, tetapi relevan sebagai cara awal memahami perbedaan tersebut.
Ada tubuh yang cenderung ringan dan cepat, atau kita sebut dengan ectomorph. Ada yang memiliki daya ledak yang kuat serta mudah meningkatkan massa otot, yaitu tipe mesomorph.
Ketiga, tipe endomorph yang cenderung menyimpan energi dalam bentuk lemak lebih besar. Perbedaan ini bukan sekadar soal bentuk, melainkan juga berkaitan dengan cara bagaimana tubuh bekerja.
Kemudian juga bagaimana energi diproduksi, bagaimana otot merespons, hingga seberapa jauh tubuh mampu menahan beban.
Dalam dunia olahraga profesional, kesesuaian antara tubuh dan cabang olahraga menjadi satu hal yang tidak dapat ditawar.
Kevin Sanjaya Sukamuljo, misalnya, kita kerap disuguhkan dengan permainan khas, di mana ia bergerak dengan lincah dan dengan reflek serta kecepatan yang eksplosif.
Kevin menunjukkan bagaimana tipe tubuh ectomorph yang ringan, lincah, dan responsif, menjadi modal utama dalam permainan cepat seperti bulu tangkis.
Sebaliknya, Cristiano Ronaldo, adalah representasi tubuh atletik mesomorph. CR7 memiliki tubuh yang berotot, terutama di area ekstremitas bawah, seperti paha dan betis.
Ronaldo juga memiliki keseimbangan otot core atau abdomen, kekuatan, kecepatan, dan daya ledak tinggi ketika berlari dan menendang bola.
Ini adalah karakter yang sangat dibutuhkan sebagai seorang pemain sepak bola modern saat ini.
Keberhasilan Kevin dan Ronaldo menjadi atlet profesional, bukan hanya karena latihan keras semata. Tetapi juga karena tubuh mereka “berbicara” selaras dengan tuntutan olahraga yang mereka tekuni.
Antara Ambisi dan Batas Biologis
Persoalan muncul ketika logika ini tidak diterapkan dalam kehidupan sehari-hari.
Banyak orang memilih olahraga hanya berdasarkan popularitas, bukan kesesuaian. Padahal, tubuh memiliki batas biologis yang tidak dapat dinegosiasikan.
Struktur otot, misalnya, berbeda pada setiap individu. Ada orang yang dominan pada serat otot endurance.
Ada pula yang unggul dalam power dan agility. Sistem metabolisme pun tidak seragam. Ada tipe yang cepat membakar energi, ada pula yang sangat efisien mekanisme penyimpanannya.
Jadi, ketika seseorang memaksakan diri pada jenis olahraga yang tidak sesuai dengan tipe tubuhnya, risiko yang muncul bukan hanya kelelahan, tetapi juga cedera hingga gangguan serius pada sistem kardiovaskular.
Dalam konteks ini, olahraga seharusnya tidak dipahami sebagai arena pembuktian diri. Melainkan sebagai proses adaptasi yang bertahap.
Tubuh membutuhkan waktu untuk menyesuaikan diri, bukan tekanan untuk mengikuti ritme yang ditentukan oleh tren semata.
Olahraga, Identitas, dan Ilusi Kolektif
Tentu menarik, ketika tren olahraga tidak lahir di ruang hampa. Olahraga dibentuk oleh dinamika sosial, seperti media, komunitas, hingga figur publik.
Dalam proses ini, olahraga mengalami pergeseran makna, dari kebutuhan biologis menjadi simbol kultural.
Jadi tidak heran, jika muncul ilusi kolektif bahwa semua orang bisa melakukan semua jenis olahraga, sedangkan realitas biologis berkata sebaliknya.
Tubuh kita memiliki sejarahnya sendiri, dilihat dari riwayat kesehatan, kebiasaan hidup, hingga kapasitas fisik yang kita bentuk selama kita hidup.
Ketika itu diabaikan, olahraga akan kehilangan esensi utamanya. Ia tidak lagi menjadi sarana merawat tubuh, tetapi justru menjadi tekanan baru bagi tubuh.
Mengikuti tren bukan hal yang salah. Namun, menjadikan tren sebagai satu-satunya dasar dalam mengambil keputusan, adalah kekeliruan.
Karena tubuh bukan sekadar alat untuk mengikuti arus, melainkan entitas biologis yang memiliki batas, potensi, serta kebutuhan yang harus dipahami.
Sehat pada akhirnya bukan tentang seberapa cepat kita ikut bergerak. Tetapi, seberapa tepat kita memahami arah gerak itu sendiri.
Dalam segala situasi, KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih dari lapangan. Ikuti terus update topik ini dan notifikasi penting di Aplikasi KOMPAS.com. Download sekarang