Xi Jinping Singgung 'Satu Keluarga' Saat Jamu Pemimpin Oposisi Taiwan, Ada Apa?

Presiden China, Xi Jinping (kanan) dan pemimpin partai oposisi Taiwan Cheng Li-wun (kiri)
Presiden China, Xi Jinping (kanan) dan pemimpin partai oposisi Taiwan Cheng Li-wun (kiri)

Jumat 10 April 2026, presiden China, Xi Jinping menerima kunjungan kenegaraan pemimpin oposisi Taiwan, Cheng Li-wun. Dalam pertemuan yang berlangsung di Beijing, kedua pihak sama-sama menekankan keinginan untuk menjaga perdamaian lintas selat. Namun di satu sisi, pertemuan tersebut juga membahas tentang soal kemerdekaan Taiwan.

Dalam pernyataan terbuka sebelum pertemuan tertutup dengan oposisi Taiwan di Great Hall of the People, Beijing, Xi mengatakan bahwa dunia saat ini tidak sepenuhnya damai dan perdamaian adalah sesuatu yang sangat berharga.

ADVERTISEMENT

GULIR UNTUK LANJUT BACA

“Sesama warga di kedua sisi selat adalah semua orang Tionghoa orang-orang dari satu keluarga yang menginginkan perdamaian, pembangunan, pertukaran, dan kerja sama,” ujarnya seperti dilansir dari laman The Straits Times, Sabtu 11 April 2026

Xi menambahkan, kedua sisi selat termasuk dalam satu Tiongkok, menurut rilis media pemerintah terpisah.

“Jika keluarga harmonis, segala hal akan berkembang. Kemerdekaan Taiwan adalah biang utama yang merusak perdamaian di Selat Taiwan, kami sama sekali tidak akan menoleransi atau membiarkannya,” katanya.

Sementara itu, Cheng yang merupakan ketua Kuomintang (KMT), menyampaikan pandangan yang sejalan dengan Xi. Dalam konferensi pers setelah pertemuan itu, ia mengatakan bahwa dengan menentang kemerdekaan Taiwan, perang bisa dihindari.

Ia juga menyampaikan kepada Xi bahwa ia berharap melalui upaya KMT dan Partai Komunis China, Selat Taiwan tidak lagi menjadi titik rawan konflik.

Cheng bahkan mengusulkan gagasan untuk bisa menjamu Xi Jinping suatu hari ketika berkunjung ke Taiwan.

“Saya, Li-wun, dengan tulus berharap bahwa suatu hari nanti di masa depan, saya akan mendapat kesempatan menjadi tuan rumah dan menyambut Sekretaris Jenderal Xi serta semua yang hadir di sini di Taiwan,” katanya.

Saluran resmi lintas selat saat ini masih beku, seiring memburuknya hubungan kedua pihak dalam 10 tahun pemerintahan Partai Progresif Demokratik (DPP) yang cenderung pro-kemerdekaan, setelah delapan tahun hubungan yang relatif hangat di bawah KMT yang lebih dekat dengan Beijing.

Di tengah meningkatnya tekanan militer China terhadap Taiwan, sejumlah analis menilai Cheng sedang memosisikan partainya sebagai satu-satunya mitra yang mungkin untuk memulihkan dialog dengan Beijing, yang pada akhirnya dapat meredakan ketegangan dan menjaga stabilitas.

Pertemuan antara Cheng dan Xi kemarin menjadi momen yang paling banyak disorot dalam lawatan enam hari bertajuk “perjalanan perdamaian” yang dilakukan Cheng ke China, yang dimulai pada 7 April.

Menjelang pertemuan puncak itu, Cheng menyerukan rekonsiliasi dan persatuan lintas Selat Taiwan saat ia memberikan penghormatan kepada Sun Yat-sen, tokoh revolusioner China yang mendirikan partainya, dalam kunjungannya di Nanjing. Di Shanghai, ia mengatakan bahwa yang seharusnya terbang di langit adalah burung, bukan rudal; dan yang seharusnya menguasai lautan adalah ikan, bukan kapal perang.

Meski merupakan pemimpin oposisi tanpa kewenangan langsung untuk mengubah kebijakan pemerintah Taiwan, Cheng mendapat perlakuan protokoler yang biasanya hanya diberikan kepada pejabat tingkat tinggi, menurut para pengamat.

Ia disambut oleh Song Tao, Direktur Kantor Urusan Taiwan, di Bandara Hongqiao Shanghai pada 7 April. Malam harinya, Song juga menjamu Cheng dalam jamuan makan malam di Peace Hall, Dongjiao State Guesthouse, Nanjing.

Sementara itu, pertemuan Cheng dengan Xi di Beijing yang menjadi penutup kunjungannya digelar di East Hall, Great Hall of the People. Lokasi ini biasanya digunakan untuk tamu negara asing dan pertemuan tingkat tinggi.

Tempat tersebut juga memiliki makna sejarah penting, karena menjadi lokasi pertemuan pemecah kebekuan pada 2005 antara Presiden China saat itu Hu Jintao dan Ketua KMT Lien Chan, yang merupakan pertemuan tingkat tinggi pertama kedua partai sejak berakhirnya Perang Saudara China pada 1949.

ADVERTISEMENT

GULIR UNTUK LANJUT BACA

Perlakuan terhadap Cheng juga dianggap sebagai peningkatan signifikan dibandingkan terakhir kali ketua KMT bertemu pimpinan Partai Komunis, yaitu ketika Hung Hsiu-chu bertemu Xi di Fujian Hall pada 2016.

“Jelas Xi sangat menaruh perhatian besar pada pertemuan dengan Cheng ini. Beijing tidak hanya memberi sinyal bahwa mereka bisa melewati pemerintah terpilih Taiwan untuk membangun jalur sendiri dalam urusan lintas Selat, tetapi juga menunjukkan bahwa mereka bisa bekerja sama dengan politisi Taiwan selama mereka menerima prasyarat politik yang ditetapkan,”kata Asisten Profesor James Chen, pakar hubungan lintas Selat dari Universitas Tamkang, Taiwan, kepada The Straits Times.