Menjawab Pertanyaan Mengusik Privasi Saat Kumpul Keluarga dengan Humor
Menjelang perayaan hari besar, media sosial dibanjiri oleh konten berisi "kunci jawaban" untuk menghadapi kerabat yang gemar melontarkan pertanyaan interogatif.
Banyak warganet saling membagikan trik membalas pertanyaan seputar jodoh, pekerjaan, hingga momongan, dengan taktik "asal bunyi" (asbun) atau melontarkan humor bernada sarkas demi memotong pembicaraan.
Sebagai contoh, ketika ditanya mengapa belum menikah di usia 20 tahunan, seseorang disarankan membalas dengan candaan balik menanyakan mengapa kerabat belum juga diangkat menjadi pejabat.
Lantas, apakah trik asbun dan humor seperti ini dapat dibenarkan saat menjawab pertanyaan keluarga besar, atau justru termasuk tindakan reaktif yang bisa memperburuk keadaan?
"Menjawabnya dengan humor yang kita sesuaikan kembali sama orang yang kita respons ya sebenarnya enggak ada salahnya, itu engga reaktif," terang Wenny Aidina, M.Psi., Psikolog, dalam webinar KALM Counseling bertajuk "Nelen Sabar Sampe Kenyang: Tips Biar Nggak Meledak Pas Lebaran", Sabtu (14/3/2026).
Beda "asbun" humor dan untuk menghindar
Menurut Wenny, penggunaan humor atau pun jawaban asbun harus dinilai dari niat dan konteks pembicaraannya. Jika seseorang menjawab sama sekali di luar konteks pertanyaan awal, misalnya ditanya soal pernikahan tetapi justru merespons dengan memuji baju lawan bicara, hal itu sebenarnya adalah bentuk dari mekanisme pertahanan diri yang kurang baik.
Sebab, jawaban tersebut bertujuan untuk menarik diri secara halus dan menghindari percakapan yang dianggap mengancam ketenangan batin.
"Dan biasanya, kalau terlalu sering digunakan, itu jadi tidak baik. Akhirnya kita tidak berhadapan sama situasi," papar Wenny.
Namun, situasinya akan sangat berbeda jika humor yang digunakan memang sengaja disesuaikan dengan karakter dan kondisi lawan bicara.
Memberikan balasan dalam bentuk humor setelah seseorang melalui proses jeda untuk menenangkan diri adalah sebuah bentuk tindakan merespons yang sangat adaptif dan tidak memicu stres berlebih.
Perbedaan generasi bisa bikin "asbun" gagal total
Tantangan terbesarnya adalah ketika asbun dilontarkan murni sebagai reaksi kilat tanpa pemikiran panjang, hanya demi memproteksi diri dari rasa sakit hati yang tiba-tiba muncul.
Respons lisan yang sekadar lewat tanpa dipikirkan matang-matang inilah yang dikategorikan sebagai tindakan reaktif yang berisiko memicu konflik lanjutan dengan keluarga.
Selain itu, Wenny juga mengingatkan adanya tantangan perbedaan generasi yang kerap memicu salah paham saat seseorang menggunakan trik humor media sosial di dunia nyata.
Lelucon masa kini yang sangat populer di ranah digital belum tentu bisa dipahami oleh kerabat yang jauh lebih tua, sehingga ekspektasi bahwa humor tersebut akan mencairkan suasana sering kali gagal total dan malah dianggap tidak sopan.
"Kita itu punya gap generasi yang cukup jauh mungkin sama bude-budenya kita. Mereka yang pakainya Facebook, kita yang pakainya TikTok, itu beda banget humor yang mereka tahu," ucap Wenny.
Pada akhirnya, respons verbal apa pun yang kamu katakan, baik itu berupa humor atau jawaban sekenanya, perlu disesuaikan dengan karakter lawan bicara.
Jika kerabat tersebut memang dikenal bisa diajak bercanda, terlepas dari usia dan generasinya, mereka mungkin "sefrekuensi" dengan asbun atau humor apapun yang kamu lontarkan sebagai jawaban atas pertanyaan mereka.
Jika kerabat terkenal sulit diajak bercanda, tidak ada salahnya dengan memberi jawaban yang standar. Tidak perlu menjawab dengan sinis karena hanya akan menambah masalah.
KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang