Xi Jinping Puji Kedekatan China-Rusia: Kuat dan Tak Tergoyahkan!
Presiden China, Xi Jinping memuji hubungan persahabatan antara China dan Rusia saat bertemu dengan Presiden Rusia, Vladimir Putin di Beijing hari ini. Xi bahkan menegaskan hubungan kedua negara tersebut tetap kuat dan tidak tergoyahkan.
Pernyataan Xi itu langsung menarik perhaatian publik dunia karena disampaikan hanya beberapa hari setelah kunjungan Presiden Amerika Serikat, Donald Trum ke China. Diketahui, Trump melakukan lawatan ke Beijing pekan lalu. Namun kunjungan itu dinilai belum menghasilkan terobosan besar termasuk dalam upaya membuka kembali Selat Hormuz, demikian seperti dilansir dari laman CNA News.
Di sisi lain, posisi Putin dinilai melemah akibat perang Rusia-Ukraina yang telah berlangsung selama bertahun-tahun. Sanksi dari negara-negara Barat terus menekan pendapatan energi Rusia dan membuat Moskow semakin bergantung pada China sebagai pembeli utama minyak Rusia.
Namun, perang antara AS dan Iran justru mengganggu distribusi minyak mentah dan gas dunia. Situasi ini membuka peluang bagi Putin untuk menawarkan pasokan energi Rusia sebagai alternatif.
Para analis menilai Putin kemungkinan akan memanfaatkan kunjungan ini untuk mendorong kemajuan proyek besar pipa gas alam 'Power of Siberia 2', yang akan menghubungkan Rusia dan China melalui Mongolia. Jalur darat ini dianggap sebagai alternatif bagi impor energi China yang selama ini banyak dikirim lewat jalur laut dari Timur Tengah.
Saat membuka pembicaraan di Great Hall of the People, Beijing, Putin dan Xi langsung menegaskan kedekatan hubungan kedua negara dengan memperpanjang perjanjian kerja sama persahabatan mereka.
Media pemerintah China melaporkan, Xi mengatakan bahwa Beijing dan Moskow terus memperdalam kepercayaan politik dan koordinasi strategis dengan ketahanan hubungan yang tetap kuat dan tidak tergoyahkan.
Sementara itu, Putin menyebut hubungan Rusia-China telah mencapai tingkat tertinggi yang belum pernah terjadi sebelumnya, meski menghadapi berbagai faktor eksternal yang tidak menguntungkan. Pernyataan itu disampaikan tanpa menyebut negara tertentu, menurut rekaman media Rusia.
Xi juga memperingatkan adanya arus unilateralisme dan hegemoni yang semakin kuat, yang diyakini sebagai sindiran terselubung terhadap Amerika Serikat.
Disebut 'Teman Lama'
Xi Jinping belakangan menerima kunjungan sejumlah pemimpin dunia, seiring kebijakan Amerika Serikat di bawah Trump yang dinilai semakin sulit diprediksi. Situasi perang di Iran juga disebut mempercepat tren negara-negara yang mulai memperkuat hubungan dengan Beijing.
Hubungan Rusia dan China sendiri semakin erat sejak Moskow melancarkan invasi ke Ukraina pada 2022. Sejak saat itu, Putin rutin mengunjungi Beijing setiap tahun di tengah sikap negara-negara Barat yang menjauhi Rusia.
Meski begitu, kunjungan Putin kali ini diperkirakan tidak akan semewah kunjungan Trump. Peneliti Brookings Institution di Washington, Patricia Kim, mengatakan hubungan Xi dan Putin tidak membutuhkan pertunjukan simbolis semacam itu untuk menunjukkan kedekatan mereka.
Saat terakhir kali Putin datang ke Beijing pada September 2025, Xi bahkan menyambutnya sebagai teman lama, sapaan yang tidak diberikan kepada Trump saat berkunjung pekan lalu.
Menurut Patricia Kim, baik Putin maupun Xi memandang hubungan Rusia-China jauh lebih stabil dan kuat secara struktural dibanding hubungan China dengan Amerika Serikat.
Selama ini, Beijing memang kerap menyerukan dialog untuk mengakhiri perang di Ukraina. Namun, China tidak pernah mengecam Rusia atas pengiriman pasukan ke negara tersebut dan tetap menempatkan diri sebagai pihak netral.
Di sisi lain, Rusia kini sangat bergantung pada penjualan energi ke China untuk menopang biaya perang. Karena itu, analis Asia Society, Lyle Morris, menilai Putin tidak ingin kehilangan dukungan dari Beijing.