Presiden Iran Tulis Surat Terbuka untuk Warga AS, Apa Isinya?

Presiden Iran Masoud Pezeshkian
Presiden Iran Masoud Pezeshkian

Presiden Iran, Masoud Pezeshkian, menulis dalam surat terbuka yang dirilis Rabu bahwa Israel berencana melawan Iran hingga tentara Amerika terakhir dan dolar pajak terakhir warga Amerika.

Surat Pezeshkian yang ditujukan kepada rakyat Amerika dan diterbitkan di PressTV, menyebut bahwa masyarakat Amerika telah disuguhi citra Iran yang dibentuk oleh ‘mesin disinformasi’ dan bahwa menggambarkan Iran sebagai ancaman tidak sesuai dengan kenyataan sejarah maupun fakta yang terlihat saat ini.

ADVERTISEMENT

GULIR UNTUK LANJUT BACA

“Iran tidak pernah memulai perang. Namun, negara ini selalu dengan tegas dan berani menangkis serangan yang ditujukan kepadanya. Rakyat Iran tidak memendam permusuhan terhadap negara lain, termasuk rakyat Amerika, Eropa, atau negara tetangga,” tulisnya dikutip dari laman Middle East Eye, Kamis 2 April 2026.

Pezeshkian Menyoroti Sejarah Hubungan AS-Iran

Surat Pezeshkian tampak sebagai upaya menyampaikan pandangan Teheran kepada rakyat Amerika sebelum pidato Trump. Ia menjabarkan sejarah hubungan AS-Iran yang tidak bermusuhan sejak awal dan kemudian rusak karena kudeta yang didalangi AS-Inggris terhadap pemimpin nasionalis terpilih Iran, Mohammad Mosaddegh, pada 1953.

“Kecurigaan ini makin dalam karena dukungan Amerika terhadap rezim Shah, dukungan terhadap Saddam Hussein selama perang yang dipaksakan pada 1980-an, sanksi paling panjang dan komprehensif dalam sejarah modern, serta agresi militer yang tidak provokatif dua kali, saat negosiasi sedang berlangsung,” tulisnya.

Sejarah hubungan AS-Iran jarang dibahas di media AS terkait perang, tetapi semakin banyak dibicarakan di podcast pro-kiri maupun oleh podcaster sayap kanan seperti Tucker Carlson.

Pezeshkian juga mencoba menyoroti ketidakpopuleran perang ini di publik Amerika.

“Kepentingan rakyat Amerika mana yang benar-benar dilayani oleh perang ini?  Bukankah juga fakta bahwa Amerika masuk ke agresi ini sebagai proxy untuk Israel, dipengaruhi dan dimanipulasi oleh rezim tersebut?” tambahnya.

 Menurutnya, Israel ingin mengalihkan perhatian dari kejahatannya terhadap rakyat Palestina, merujuk pada apa yang disebut PBB dan puluhan pemimpin dunia sebagai genosida di Gaza. Lebih dari 72.000 warga Palestina tewas dalam perang Israel di kawasan itu sejak Oktober 2023.

“Bukankah jelas bahwa Israel kini ingin melawan Iran hingga tentara Amerika terakhir dan dolar pajak terakhir warga Amerika?” tulisnya.

Sinyal yang Beragam dari Pemerintahan AS

Presiden AS berbicara lebih awal pada hari yang sama dengan rekan Emiratnya, Mohamed bin Zayed. Uni Emirat Arab muncul sebagai salah satu negara Teluk yang paling agresif terhadap Iran. Sebelumnya Middle East Eye melaporkan bahwa UAE siap jika perang berlangsung hingga sembilan bulan dan mendorong posisi AS yang lebih agresif.

Pada saat yang sama, negara-negara Eropa dan Bahrain sedang merancang berbagai proposal untuk mengambil kendali Selat Hormuz dari Iran. Inggris berencana menjadi tuan rumah pembicaraan tentang koalisi untuk mengamankan Selat Hormuz, sementara langkah lain sedang dibahas di Perserikatan Bangsa-Bangsa.

Para analis dan diplomat berspekulasi apakah AS bisa melancarkan invasi ke pulau-pulau Iran di Teluk. Sementara itu, AS juga mempertimbangkan rencana mengirim pasukan darat untuk mengevakuasi uranium yang diperkaya dari situs nuklir yang dibom, menurut The Washington Post, yang menyebut Trump meminta pengarahan terkait rencana ini.

Meski laporan ini menunjukkan konflik yang bisa berlangsung lama, Gedung Putih mengatakan bahwa negosiasi dengan Teheran masih berlangsung.

Situasi yang Tidak Jelas

Trump berulang kali berganti sikap, antara mengancam Iran dengan pemusnahan total jika Selat Hormuz tidak dibuka kembali, atau justru menarik diri dari perang.

“Kami akan pergi, apakah ada kesepakatan atau tidak. Itu tidak relevan,” katanya kepada wartawan pada Selasa.

Namun, laporan The New York Times Rabu menyebut bahwa AS bersiap menghadapi pertempuran yang lebih berat. Pentagon menggandakan armada pesawat tempur A-10 di Timur Tengah untuk mendukung pasukan darat. Dikenal sebagai ‘Warthogs’, pesawat ini dilengkapi senapan Gatling tujuh laras berkaliber 30 mm, rudal Maverick, dan bom berpemandu GPS.

Situasi makin rumit dengan upaya Pakistan menjadi mediator untuk mengakhiri konflik dan komentar Trump bahwa Iran meminta gencatan senjata.

Trump mengatakan pada Rabu bahwa Presiden Rezim Baru Iran lebih cerdas dan kurang radikal dibanding pendahulunya, serta meminta gencatan senjata AS. Iran sendiri tidak memiliki presiden baru, dan belum jelas siapa yang dimaksud Trump.

Sementara itu, juru bicara Kementerian Luar Negeri Iran, Esmaeil Baqaei, menolak pernyataan Trump bahwa Teheran meminta gencatan senjata, menyebutnya palsu dan tidak berdasar.

ADVERTISEMENT

GULIR UNTUK LANJUT BACA

Reuters melaporkan bahwa JD Vance berbicara dengan pihak perantara dari Pakistan, menunjukkan Trump terbuka terhadap gencatan senjata asalkan tuntutan AS dipenuhi. Namun, Vance juga menyampaikan pesan tegas bahwa Trump mulai tidak sabar, yang berarti tekanan lebih besar terhadap infrastruktur Iran.

Iran sendiri telah menetapkan lima syarat untuk mengakhiri perang, termasuk jaminan agar serangan lebih lanjut tidak terjadi, kompensasi perang, dan pengakuan atas kontrolnya terhadap Selat Hormuz.