Menteri Perang AS Minta Tambahan Rp3,3 Kuadriliun untuk Perang Iran: Bunuh Orang Jahat Butuh Uang

Pete Hegseth, Menteri Pertahanan Amerika Serikat
Pete Hegseth, Menteri Pertahanan Amerika Serikat

 Gedung Putih mengajukan permintaan tambahan anggaran sebesar 200 miliar dolar AS (sekitar Rp3,300 triliun) untuk mendukung perang di Iran. Presiden Donald Trump menyatakan pada Kamis bahwa keputusan meminta dana tambahan kepada Kongres didasarkan pada berbagai pertimbangan.

Sebelumnya, seorang pejabat pemerintahan Trump mengatakan kepada BBC bahwa Departemen Pertahanan telah lebih dulu meminta persetujuan Gedung Putih terkait pengajuan tersebut.

ADVERTISEMENT

GULIR UNTUK LANJUT BACA

Saat ditanya mengenai pendanaan itu, Menteri Pertahanan Pete Hegseth tidak secara langsung mengonfirmasi jumlahnya, namun menyatakan kepada wartawan, "Dibutuhkan uang untuk membunuh orang jahat".

Dalam sebuah acara di Gedung Putih, Trump kembali ditanya alasan kebutuhan dana besar tersebut, mengingat ia sebelumnya menyebut "Operasi Epic Fury" akan segera berakhir. Ia menggambarkan konflik tersebut sebagai "perang yang sangat tidak stabil".

Trump menegaskan bahwa pemerintah meminta dana tambahan karena berbagai alasan, termasuk untuk pengadaan peralatan militer. "Kami sangat bijaksana," ujarnya.

"Kita ingin memiliki amunisi dalam jumlah besar, tetapi itu dikurangi dengan memberikan begitu banyak bantuan kepada Ukraina," tambahnya, merujuk pada dukungan militer AS kepada Ukraina dalam perang melawan Rusia.

Sejak invasi Rusia pada Februari 2022, Kongres telah menyetujui sekitar 188 miliar dolar AS untuk Ukraina, dengan sekitar 110 miliar dolar telah digunakan hingga Desember lalu, menurut inspektur jenderal khusus yang memantau pendanaan tersebut.

Penasihat ekonomi Trump, Kevin Hassett, sebelumnya mengatakan bahwa perang di Iran telah menghabiskan sekitar 12 miliar dolar AS. "Saya pikir saat ini kita sudah memiliki apa yang kita butuhkan," ujarnya kepada CBS News.

Namun pada Kamis, Hegseth menekankan perlunya tambahan anggaran untuk mengantisipasi langkah militer ke depan sekaligus mengisi kembali stok amunisi. "Rancangan undang-undang pendanaan semacam ini akan memastikan bahwa kita didanai dengan baik ke depannya," katanya.

Permintaan 200 miliar dolar AS ini merupakan tambahan dari anggaran tahunan Departemen Pertahanan sebesar 838,7 miliar dolar yang telah disahkan Kongres pada Januari.

Ketua DPR dari Partai Republik, Mike Johnson, menilai angka tersebut memiliki dasar yang jelas. "Jelas ini adalah masa yang berbahaya di dunia, dan kita harus mendanai pertahanan secara memadai, dan kita berkomitmen untuk melakukan itu," ujarnya.

Sementara itu, anggota DPR dari Partai Demokrat, Jim Himes, mengingatkan pentingnya keterlibatan sejak awal dalam setiap kebijakan pendanaan. "Jika Anda ingin saya ada di sana saat pendaratan, pastikan saya ada di sana saat lepas landas,"  katanya.

Dampak perang juga terasa pada perekonomian AS. Federal Reserve memutuskan untuk kembali menahan suku bunga, menyusul lonjakan harga minyak sejak konflik AS-Israel dengan Iran yang meningkatkan ketidakpastian ekonomi dan berpotensi mendorong inflasi.

Bank sentral biasanya menurunkan suku bunga untuk mendorong pertumbuhan saat pengangguran meningkat, dan menaikkannya ketika inflasi tinggi guna menekan pengeluaran.

Permintaan tambahan dana ini diperkirakan akan memicu perdebatan sengit di Kongres, terutama menjelang pemilu paruh waktu November. Meski anggaran militer umumnya mendapat dukungan bipartisan, jajak pendapat menunjukkan mayoritas publik AS tidak menyetujui perang di Iran.

Partai Demokrat juga menyoroti besarnya angka tersebut dengan membandingkannya terhadap kebutuhan domestik lain. Misalnya, perpanjangan subsidi asuransi kesehatan satu tahun diperkirakan membutuhkan 35 miliar dolar AS. Pemerintah sebelumnya juga menyebut penghematan dari pemangkasan anggaran Departemen Efisiensi Pemerintah (Doge) mencapai 175 miliar dolar AS, sementara sekitar 100 miliar dolar dihabiskan untuk bantuan pangan bagi keluarga berpenghasilan rendah tahun lalu.

ADVERTISEMENT

GULIR UNTUK LANJUT BACA

Meski Partai Republik diyakini memiliki cukup suara untuk meloloskan anggaran tambahan, langkah ini berpotensi membawa konsekuensi politik, terutama jika perang dan dampak ekonominya terus berlarut.

Pejabat Pentagon memperkirakan operasi militer AS di Iran dapat berlangsung antara empat hingga enam minggu. Hingga kini, konflik tersebut telah berjalan hampir tiga minggu.