Nemanja Matic: Sepak Bola Italia Ketinggalan Zaman
Pemain Sassuolo, Nemanja Matic memberikan kritik menohok kepada sepak bola Italia yang dianggapnya sudah ketinggalan zaman.
Dalam pernyataanya, Nemanja Matic menilai jika sepak bola Italia butuh perubahan besar-besaran agar tidak semakin tertinggal dari kompetisi elite Eropa lainnya.
Rekan setim Jay Idzes itu menyoroti kurangnya kualitas dalam pengembangan sepak bola usia dini.
Meski baru bergabung dengan Sassuolo pada awal musim ini, Nemanja Matic sejatinya sudah cukup familiar dengan sepak bola Italia.
Pemain berkebangsaan Serbia itu sempat bermain untuk AS Roma pada musim 2022-2023 usai memutuskan hengkang dari Manchester United.
Selama berkarier di Serie A, Matic mencoba melihat beberapa sisi dari sepak bola di Italia yang dianggapnya perlu dilakukan perubahan.
Terjebak di Era 1990-an
Masalah pertama yang dikritik oleh Matic adalah akademi sepak bola di Italia yang dianggap tertinggal dari negara dengan tradisi sepak bola yang kuat lainnya.
Menurutnya, Italia terjebak di era 1990-an saat ia membandingkan dengan akademi di Inggris atau Perancis.
"Sepak bola Italia masih terjebak di era 1990-an. Masalah pertama menyangkut akademi."
"Saya melihatnya pada putra saya: akademi sepak bola muda di Inggris dan Perancis jauh lebih maju," ujar Matic dikutip dari La Gazetta dello Sport.
Selain itu, pemain yang dibesarkan oleh Chelsea tersebut menilai jika taktik sepak bola Italia juga dianggap terbatas.
"Mereka mengajari Anda menggiring bola, mengembangkan teknik, dan mendorong Anda untuk bersenang-senang sambil mencari solusi yang tepat."
"Masalah lain adalah taktik, yang penting tetapi memiliki terlalu banyak keterbatasan," tambahnya.
Nemanja Matic resmi diperkenalkan sebagai pemain klub Liga Italia 2025-2026, Sassuolo, pada Selasa (26/8/2025).
Strategi Terlalu Bertahan
Sepak bola Italia dirasa terlalu fokus dalam pertahanan. Matic merasa, taktik tiga pemain belakang membuat para pemain justru terfokus di sektor pertahanan.
Menurutnya, tidak banyak tim yang menerapkan strategi menyerang dengan intensitas tinggi karena mengutamakan pertahanan.
"Di Italia, banyak tim bermain dengan pertahanan tiga pemain dan tidak banyak menyerang."
orang mengatakan tidak ada intensitas, tetapi bagaimana mungkin ada jika Anda terutama fokus pada pertahanan di separuh lapangan sendiri?" tegasnya.
Meski begitu, Matic merasa perlu adanya inovasi baru agar sepak bola Italia tidak semakin tertinggal.
Walau ia sudah menjadi bagian dari sepak bola Italia, Matic merasa ia perlu terlibat dalam perubahan tersebut.
"Kita membutuhkan proyek inovatif, jika tidak, situasinya akan lebih buruk dalam beberapa tahun ke depan."
"Dan saya minta maaf, karena saya adalah bagian dari sepak bola Italia sekarang dan saya ingin melihatnya di level yang berbeda,” tandasnya.
KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang