Studi Ungkap Tertawa Bersama Anak Bantu Bangun Hubungan Emosional dengan Ayah
Tertawa bersama anak ternyata memiliki peran penting dalam hubungan emosional antara orangtua dan anak.
Penelitian terbaru menunjukkan bahwa meski ibu dan ayah sama-sama mampu membuat anak tertawa, momen tersebut memiliki kaitan yang lebih kuat dengan kedekatan emosional antara ayah dan anak.
Temuan ini berasal dari penelitian yang dipublikasikan di Journal of Experimental Child Psychology (21/12/2025).
Tawa membantu membangun hubungan emosional anak
Dalam teori keterikatan, anak membangun hubungan emosional dengan pengasuh utama agar merasa aman dan terlindungi.
Hubungan yang aman ini menjadi dasar penting bagi anak untuk mengelola emosi dan mengeksplorasi lingkungan di sekitarnya.
Selama ini banyak penelitian tentang pengasuhan lebih menyoroti bagaimana orangtua merespons ketika anak menangis atau merasa takut.
Padahal, interaksi positif seperti bermain dan tertawa bersama juga memiliki peran penting dalam hubungan keluarga.
Profesor psikologi dari University of Ottawa sekaligus penulis penelitian, Jean-François Bureau, mengatakan bahwa pengasuhan tidak hanya tentang menghindari perilaku buruk.
“Menjadi orangtua yang baik bukan hanya tentang menghindari perilaku yang merugikan anak, tetapi juga membangun hubungan yang positif dan menikmati waktu bersama mereka,” kata Bureau, seperti dikutip dari PsyPost, (14/3/2026).
Peneliti mengamati cara orangtua membuat anak tertawa
Ilustrasi orangtua sedang bersenda gurau dengan anaknya. Penelitian terbaru menemukan bahwa momen sederhana seperti membuat anak tertawa dapat memperkuat hubungan emosional antara ayah dan anak.
Penelitian ini melibatkan 144 keluarga yang memiliki anak usia 3 hingga 5 tahun.
Setiap keluarga mengikuti dua sesi penelitian di laboratorium dengan jarak waktu sekitar enam bulan.
Dalam sesi tersebut, peneliti meminta orangtua mencoba membuat anak mereka tertawa selama dua menit tanpa menggunakan mainan.
Setelah itu, peneliti melakukan prosedur pemisahan dan pertemuan kembali, yaitu orangtua meninggalkan ruangan sebentar lalu kembali lagi.
Reaksi anak saat orangtua kembali digunakan untuk menilai tingkat keamanan hubungan emosional antara anak dan orangtua.
Cara orangtua membuat anak tertawa
Hasil penelitian menunjukkan bahwa ibu dan ayah biasanya menggunakan cara yang hampir sama untuk membuat anak tertawa.
Peneliti membagi cara tersebut menjadi dua kelompok utama.
Kelompok pertama adalah interaksi fisik, seperti menggelitik, mengejar anak, atau mengangkat anak sambil bermain.
Kelompok kedua adalah gerakan dan suara, seperti menari, membuat wajah lucu, bernyanyi, atau menggunakan kata-kata yang tidak masuk akal.
Cara tersebut terbukti efektif membuat anak tertawa baik ketika bermain dengan ibu maupun dengan ayah.
Meski demikian, ada sedikit perbedaan dalam pendekatan yang digunakan.
Ibu lebih sering menggabungkan gerakan tubuh dengan lagu anak-anak atau nyanyian yang menenangkan.
Sebaliknya, ayah lebih sering menggunakan kejutan atau permainan lucu yang tidak terduga.
Tawa lebih berpengaruh dalam hubungan ayah dan anak
Penelitian menemukan bahwa tawa anak memiliki hubungan yang lebih kuat dengan kualitas hubungan ayah dan anak.
Ketika ayah menggunakan permainan fisik atau gerakan lucu, anak lebih sering tertawa dan hal ini berkaitan dengan rasa aman yang lebih kuat dalam hubungan mereka.
Sebaliknya, pada hubungan ibu dan anak, jumlah tawa anak tidak secara langsung berkaitan dengan keamanan hubungan emosional.
Dalam interaksi ibu dan anak, rasa aman lebih berkaitan dengan gerakan dan suara yang menenangkan seperti lagu anak.
Para peneliti menilai temuan ini menunjukkan bahwa momen bermain dan tertawa bersama memiliki peran penting dalam membangun hubungan yang hangat antara orangtua dan anak.
KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang