4 Tanda Hubungan Penuh Kekerasan Emosional, Waspadai Sejak Awal

kekerasan emosional, 4 Tanda Hubungan Penuh Kekerasan Emosional, Waspadai Sejak Awal, 1. Love bombing di awal hubungan yang terlalu intens, 2. Ketidakkonsistenan antara ucapan dan tindakan, 3. Merendahkan dan mengikis harga diri, 4. Penyangkalan dan rasa takut mengungkapkan kebenaran

Kekerasan dalam hubungan tidak selalu berbentuk fisik. Banyak orang terjebak dalam relasi yang secara emosional dan psikologis menyakitkan, namun sulit dikenali karena dibungkus dengan kata cinta.

Psikolog berlisensi sekaligus pendiri terapi Couples Learn, Sarah Schewitz menjelaskan, kekerasan emosional dapat mencakup merendahkan pasangan, memanggil dengan sebutan kasar, memanipulasi agar pasangan merasa tidak aman, menyebutnya gila, hingga berbohong atau berselingkuh.

“Perilaku abusive sering kali merupakan hasil dari ketidakmampuan seseorang mengatur sistem sarafnya, trauma masa lalu yang belum sembuh, dan kurangnya pemahaman tentang cara mempertahankan hubungan yang sehat,” ujarnya, seperti disadur PopSugar, Rabu (4/3/2026).

Berikut empat tanda utama hubungan yang penuh kekerasan emosional.

4 Tanda utama hubungan penuh kekerasan emosional

1. Love bombing di awal hubungan yang terlalu intens

Salah satu pola yang kerap muncul adalah love bombing, yaitu ketika pasangan menunjukkan perhatian, kasih sayang, dan janji komitmen secara berlebihan di awal hubungan.

Love bombing bertujuan membangun ikatan dan kepercayaan dengan cepat. Secara ilmiah, kondisi ini membanjiri tubuh dengan dopamin, neurotransmiter yang memunculkan rasa senang dan euforia. 

Namun, sensasi ini bisa menciptakan ketergantungan emosional terhadap pasangan. Hubungan yang dimulai dengan intensitas ekstrem sering kali berubah drastis ketika fase bulan madu berakhir. 

Setelah ikatan terbentuk, pelaku dapat mulai menunjukkan perilaku manipulatif atau merendahkan, sementara korban tetap bertahan karena mengingat betapa indahnya fase awal hubungan.

kekerasan emosional, 4 Tanda Hubungan Penuh Kekerasan Emosional, Waspadai Sejak Awal, 1. Love bombing di awal hubungan yang terlalu intens, 2. Ketidakkonsistenan antara ucapan dan tindakan, 3. Merendahkan dan mengikis harga diri, 4. Penyangkalan dan rasa takut mengungkapkan kebenaran

Ilustrasi sedih.

2. Ketidakkonsistenan antara ucapan dan tindakan

Tanda berikutnya adalah inkonsistensi. Pelaku mungkin mengatakan, “Aku mencintaimu, aku tidak akan pernah menyakitimu,” tetapi tindakannya justru bertolak belakang.

Mereka bisa menjanjikan sesuatu lalu mengingkarinya, kemudian menjadi defensif atau marah ketika diingatkan. 

Dalam beberapa kasus, pelaku bahkan membuat pasangannya merasa dirinya berlebihan atau gila karena mempertanyakan hal tersebut.

Ada pula yang memilih diam dan menolak membahas masalah, sehingga perasaan pasangan menjadi tidak tervalidasi. Pola ini menciptakan kebingungan emosional dan membuat korban meragukan persepsinya sendiri.

Ketidaksesuaian antara kata dan tindakan menjadi bentuk manipulasi halus yang perlahan mengikis rasa percaya diri.

3. Merendahkan dan mengikis harga diri

Merendahkan pasangan, baik secara terang-terangan maupun terselubung merupakan ciri utama kekerasan emosional.

Pelaku bisa menyiratkan bahwa pasangannya tidak cukup pintar, tidak cukup menarik, atau tidak cukup baik. 

“Pelaku sering mengatakan kepada perempuan bahwa mereka tidak berharga, tidak layak dicintai, tidak menarik, dan sebagainya sebagai cara untuk mengontrol mereka dan membuat mereka takut bahwa tidak ada orang lain yang akan menginginkan mereka jika mereka pergi,” ungkap Schewitz.

Ucapan-ucapan tersebut bukan sekadar candaan. Lama-kelamaan, komentar negatif yang terus diulang akan membentuk keyakinan baru dalam diri korban bahwa dirinya memang tidak cukup baik.

Tak jarang, pelaku juga merendahkan keluarga atau teman korban untuk menjauhkan mereka dari sistem pendukung yang bisa membantu melihat situasi secara objektif.

4. Penyangkalan dan rasa takut mengungkapkan kebenaran

Dalam banyak kasus, korban berada dalam fase denial atau penyangkalan. Mereka fokus pada momen-momen baik dalam hubungan dan mengabaikan pola menyakitkan yang terjadi berulang kali.

Schewitz menyarankan beberapa pertanyaan reflektif, seperti apakah perasaan dalam hubungan saat ini mengingatkan pada hubungan masa lalu, apakah ada rasa malu menceritakan konflik kepada keluarga dan teman, serta apakah lebih sering merasa sedih, takut, cemas, dan marah dibanding aman dan nyaman.

Penyangkalan sering muncul karena korban takut dihakimi atau diminta meninggalkan hubungan tersebut. 

Siklus ini diperkuat oleh pola push and pull, ketika perhatian kecil dari pasangan terasa sangat berarti setelah periode pengabaian.

Menurut Schewitz, keterlibatan sekecil apa pun setelah putus, termasuk memantau media sosial mantan pasangan, dapat mengaktifkan kembali trauma bond dan mempersulit proses penyembuhan.

Mengenali tanda-tanda ini menjadi langkah awal untuk memutus siklus kekerasan emosional. 

Jika merasa berada dalam hubungan yang tidak sehat, mencari bantuan profesional melalui terapi berperspektif trauma dapat membantu memproses pengalaman dan membangun pola relasi yang lebih aman di masa depan.

KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang