Harga Minyak Dunia Makin Mahal, Tembus US$111 per Barel

Ilustrasi Minyak Dunia
Ilustrasi Minyak Dunia

Harga minyak dunia masih menjadi perhatian pasar global di tengah meningkatnya tensi geopolitik di Timur Tengah. Konflik yang melibatkan jalur perdagangan energi utama dunia mulai memberikan dampak nyata, tidak hanya pada sektor energi tetapi juga ke pasar keuangan secara keseluruhan.

Di saat yang sama, investor terlihat masih bersikap hati-hati. Meski harga minyak melonjak, pasar saham global justru menunjukkan pergerakan yang relatif stabil.

ADVERTISEMENT

GULIR UNTUK LANJUT BACA

Berdasarkan laporan The New York Times, harga minyak jenis Brent sebagai acuan global naik sekitar 2 persen menjadi US$111 atau Rp1,72 juta per barel. Sementara itu, minyak mentah West Texas Intermediate (WTI) yang menjadi patokan Amerika Serikat juga naik 2 persen ke level sekitar US$104 atau Rp1,6 juta per barel.

Kenaikan harga ini terjadi setelah Presiden Amerika Serikat, Donald Trump, menyatakan bahwa pemerintahnya akan membantu kapal-kapal yang terjebak di Selat Hormuz. Jalur tersebut merupakan salah satu rute perdagangan energi paling vital di dunia.

Dalam pernyataannya, Trump mengatakan Amerika Serikat akan berupaya memastikan kelancaran lalu lintas kapal. “Kami akan menggunakan upaya terbaik untuk membantu kapal-kapal keluar dari selat yang tidak terlibat dalam konflik,” ungkapnya, sebagaimana dikutip dari NYT, Senin, 4 Mei 2026.

Namun, Trump tidak merinci bagaimana mekanisme tersebut akan dijalankan. Komando Pusat Amerika Serikat (U.S. Central Command) mengindikasikan bahwa peran negaranya akan fokus pada koordinasi lalu lintas kapal agar tetap aman.

Di sisi lain, Trump juga mengungkapkan bahwa dirinya tengah meninjau proposal perdamaian dari Iran, meski ia meragukan kesepakatan tersebut akan dapat diterima.

Kondisi di Selat Hormuz menjadi perhatian utama investor. Jalur sempit yang berada di antara Iran dan Oman ini merupakan rute penting yang dilalui sekitar seperlima pasokan minyak dunia. Gangguan sekecil apa pun di kawasan ini berpotensi memicu lonjakan harga energi secara global.

Meski harga minyak naik, pasar saham menunjukkan respons yang lebih moderat. Kontrak berjangka indeks S&P 500 diperkirakan akan dibuka sedikit lebih tinggi saat perdagangan di Amerika Serikat dimulai kembali.

Sementara itu, bursa saham di Asia mayoritas menguat. Pasar di Taiwan dan Korea Selatan bahkan melonjak lebih dari 4 persen, didorong oleh penguatan saham sektor semikonduktor. Adapun pasar di Jepang dan China ditutup karena hari libur.

Kenaikan harga energi juga mulai terasa di sektor hilir, terutama bahan bakar. Harga bensin di Amerika Serikat naik menjadi rata-rata US$4,46 atau sekira Rp69 ribu per galon, meningkat hampir 50 persen sejak konflik dimulai.

Meski demikian, pergerakan harga bensin tidak selalu sejalan secara langsung dengan harga minyak mentah. Umumnya, harga bahan bakar mengalami penyesuaian beberapa hari setelah perubahan harga minyak.

ADVERTISEMENT

GULIR UNTUK LANJUT BACA

Sementara itu, harga diesel tercatat berada di level US$5,64 atau Rp87 ribuan per galon, naik lebih dari 50 persen sejak awal konflik. Kenaikan ini semakin menambah tekanan terhadap biaya transportasi dan logistik.

Secara keseluruhan, lonjakan harga minyak dan bahan bakar menunjukkan bahwa dampak konflik geopolitik tidak hanya terbatas pada kawasan tertentu, tetapi juga menjalar ke ekonomi global. Jika ketegangan terus berlanjut, bukan tidak mungkin harga energi akan semakin tinggi.