Iran Peringatkan Negara Teluk: Jangan Izinkan Musuh Lancarkan Serangan dari Wilayah Anda!

Presiden Iran Masoud Pezeshkian di Sidang Umum PBB
Presiden Iran Masoud Pezeshkian di Sidang Umum PBB

Presiden Iran Masoud Pezeshkian mendesak negara-negara tetangga agar tidak membiarkan musuh-musuh Teheran menjalankan perang dari wilayah mereka. Pernyataan ini kembali ia sampaikan sebagai peringatan kepada negara-negara yang menampung pangkalan militer Amerika Serikat.

“Kami sudah berkali-kali menegaskan bahwa Iran tidak melakukan serangan pendahuluan. Namun, jika infrastruktur atau pusat ekonomi kami diserang, kami akan membalas dengan keras. Kepada negara-negara di kawasan jika kalian menginginkan pembangunan dan keamanan, jangan biarkan musuh kami menjalankan perang dari wilayah kalian,” tulisnya di X, Sabtu 28 Maret dikutip dari laman Al Jazeerah.

ADVERTISEMENT

GULIR UNTUK LANJUT BACA

Pernyataan Pezeshkian ini menjadi seruan terbaru Iran kepada negara-negara sekitar agar tidak mengizinkan wilayah mereka digunakan untuk operasi melawan Iran di tengah perang yang masih berlangsung.

Sebelumnya, pada Rabu, Menteri Luar Negeri Iran Abbas Araghchi juga meminta negara-negara di sekitar Iran untuk menjaga jarak dari Amerika Serikat.

Perang ini dimulai ketika Amerika Serikat dan Israel melancarkan serangan udara ke berbagai wilayah Iran pada 28 Februari, yang menewaskan Pemimpin Tertinggi Ali Khamenei dan mengejutkan dunia.

Sebulan berlalu, konflik belum menunjukkan tanda-tanda mereda. Israel hampir setiap hari mengumumkan serangan baru yang lebih intens ke Iran, sementara Teheran terus membalas dengan menargetkan musuh utamanya, termasuk negara-negara yang menjadi lokasi aset militer AS di Timur Tengah.

Serangan baru di negara Teluk

Di Kuwait, bandara internasional negara itu menjadi sasaran beberapa serangan drone pada Sabtu dini hari. Serangan tersebut menyebabkan kerusakan cukup parah pada sistem radar, namun tidak menimbulkan korban jiwa, menurut kantor berita negara Kuna yang mengutip otoritas penerbangan sipil.

Juru bicara otoritas tersebut kemudian menyebut serangan itu dilakukan oleh Iran, kelompok proksinya, serta faksi bersenjata yang didukungnya.

Di Abu Dhabi, serangan menyebabkan puing-puing jatuh di dekat Kawasan Ekonomi Khalifa, tak jauh dari Pelabuhan Khalifa. Enam orang dilaporkan terluka dan sejumlah fasilitas mengalami kerusakan, demikian seperti dilaporkan kantor media setempat.

Tiga kebakaran yang dipicu oleh jatuhnya puing kini telah berhasil dikendalikan, demikian pernyataan resmi di X.

Sementara itu, militer Iran mengklaim telah menghancurkan depot sistem anti-drone milik Ukraina di Dubai, yang disebut digunakan untuk membantu pasukan Amerika Serikat.

“Ketika tempat persembunyian komandan dan tentara Amerika di Dubai menjadi target … depot sistem anti-drone Ukraina yang berada di Dubai untuk membantu militer AS juga diserang dan dihancurkan,” ujar juru bicara militer Iran, Ebrahim Zolfaghari.

Namun, Kementerian Luar Negeri Ukraina membantah klaim tersebut.

Dua drone juga menyerang pelabuhan Salalah di Oman, ibu kota provinsi Dhofar bagian selatan. Satu orang dilaporkan terluka dan sebuah crane mengalami kerusakan ringan, menurut kantor berita negara ONA.

Zolfaghari mengatakan pasukan Iran juga menargetkan kapal pendukung militer AS “di jarak cukup jauh dari pelabuhan Salalah”.

Perusahaan pelayaran raksasa Maersk menyatakan operasional di Salalah dihentikan selama 48 jam setelah serangan drone tersebut.

Di Bahrain, sirene peringatan beberapa kali dibunyikan untuk mengantisipasi serangan yang masuk. Kementerian Dalam Negeri setempat mengimbau warga untuk segera mencari tempat aman. Tidak ada korban jiwa dilaporkan.

ADVERTISEMENT

GULIR UNTUK LANJUT BACA

Kementerian Pertahanan Arab Saudi melaporkan adanya serangan rudal balistik dan sejumlah drone pada Sabtu, namun seluruhnya berhasil ditembak jatuh oleh sistem pertahanan udara.

Sehari sebelumnya, sedikitnya 15 tentara Amerika dilaporkan terluka setelah Iran menyerang sebuah pangkalan udara di Arab Saudi. Serangan ke Pangkalan Udara Prince Sultan itu melibatkan sedikitnya enam rudal balistik dan 29 drone. Setidaknya lima tentara AS dilaporkan dalam kondisi serius.