Kurangi Limbah Kain, Deden Siswanto Ubah Scarf Jadi Busana Tanpa Digunting
Konsep fashion berkelanjutan atau sustainable fashion makin banyak diterapkan oleh para desainer dalam koleksi mereka.
Salah satunya dilakukan oleh desainer Deden Siswanto melalui koleksinya dalam fashion show Raya Soiree di Central Park Mall, Jakarta Barat.
Dalam koleksi tersebut, Deden menghadirkan rancangan busana yang berangkat dari penggunaan scarf sebagai bahan utama.
Menariknya, proses pembuatan busana tersebut dilakukan dengan pendekatan zero waste, yaitu meminimalkan limbah kain selama proses desain. Deden mengatakan, scarf yang digunakan dalam koleksi tersebut tidak dipotong sama sekali.
“Ini dua scarf saya buat tanpa digunting,” ujar Deden saat ditemui usai pergelaran busana tersebut, Sabtu (7/3/2026).
Dengan pendekatan tersebut, bahan yang digunakan tetap utuh sehingga tidak menghasilkan limbah kain.
Mengurangi limbah dalam proses desain
Deden menjelaskan bahwa konsep zero waste menjadi salah satu cara untuk menghadirkan praktik fashion yang lebih berkelanjutan.
Alih-alih memotong kain seperti dalam proses pembuatan busana pada umumnya, ia memilih mempertahankan bentuk asli scarf yang digunakan.
“Karena kita ingin menerapkan konsep sustainable, jadi dibuat tanpa menggunting dan tidak membuang bahan,” katanya.
Cara ini membuat seluruh bahan yang digunakan tetap dimanfaatkan dalam proses desain. Jika terdapat bagian kain yang tersisa, elemen tersebut tidak dibuang, melainkan diolah kembali menjadi detail dekoratif pada busana.
Menurut Deden, sisa kain tersebut dapat dimanfaatkan sebagai ornamen tambahan, seperti bunga atau aksesori kecil yang melengkapi desain. Dengan cara tersebut, hampir seluruh bahan tetap digunakan tanpa menghasilkan limbah tekstil.
Fashion berkelanjutan tetap bisa kreatif
Koleksi antara kolaborasi Deden Siswanto dan Kisera dalam peragaan busana Raya Soiree di Central Park Mall, Sabtu (7/3/2026).
Deden mengatakan bahwa konsep sustainable fashion tidak selalu harus identik dengan teknik yang rumit atau penggunaan bahan tertentu.
Menurutnya, kreativitas desainer dapat menjadi kunci untuk menghadirkan busana yang lebih ramah lingkungan.
“Apa pun bisa dilakukan dengan kreativitas,” ujarnya.
Ia menilai bahwa konsep fashion berkelanjutan dapat diwujudkan melalui berbagai pendekatan desain, salah satunya dengan memaksimalkan penggunaan bahan yang ada tanpa menghasilkan limbah.
Selain itu, pendekatan tersebut juga membuat produk fashion memiliki fungsi yang lebih fleksibel.
Dalam koleksi yang ditampilkan di runway Raya Soiree, scarf yang digunakan tetap mempertahankan bentuk aslinya sehingga masih dapat digunakan kembali.
Jika pemakai bosan dengan bentuk busana yang dibuat dari scarf tersebut, kainnya dapat dilepas dan digunakan kembali sebagai aksesori.
Membuka kemungkinan baru dalam fashion
Menurut Deden, konsep desain yang fleksibel tersebut membuka kemungkinan baru dalam penggunaan satu produk fashion.
Scarf yang sebelumnya hanya digunakan sebagai aksesori kini dapat diolah menjadi bagian dari busana tanpa harus mengubah bentuk aslinya.
Selain memberikan variasi dalam gaya berpakaian, pendekatan tersebut juga dapat membantu mengurangi limbah dalam industri fashion.
Deden berharap eksplorasi tersebut dapat menginspirasi masyarakat untuk lebih kreatif dalam memanfaatkan produk fashion yang dimiliki.
Menurutnya, tren fashion akan terus berkembang dan menghadirkan bentuk baru dari waktu ke waktu. Maka dari itu, keberanian untuk mencoba pendekatan desain yang berbeda menjadi penting dalam dunia fashion.
“Moda itu akan terus berputar dalam bentuk yang baru,” tutupnya.
KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang