Audy Item Ceritakan Sulitnya Menurunkan Berat Badan, Alami Obesitas Setelah Melahirkan

obesitas, menurunkan berat badan, Audy Item Ceritakan Sulitnya Menurunkan Berat Badan, Alami Obesitas Setelah Melahirkan

Penyanyi Audy Item masih mengingat dengan jelas titik balik dalam hidupnya saat menyadari bahwa berat badan berlebih yang ia alami, bukan sekadar persoalan penampilan, melainkan kondisi medis yang perlu ditangani secara serius.

Perjalanan itu dimulai setelah kehamilan anak pertamanya.

“Jadi memang, saya obesitas banget itu gara-gara baby. Jadi waktu hamil saya naik sekitar 30 kilogram. Berat badan melonjak drastis, sementara proses untuk kembali ke kondisi semula ternyata tidak semudah yang dibayangkan.”

Hal itu diceritakan Audy dalam acara World Obesity Day 2026, Redefining Obesity: Delivering WHO-Recognized Innovationfor Quality Weight Loss di Republic Padel, Jakarta, beberapa waktu lalu.

Saat itu, anaknya lahir dengan berat 3,7 kilogram, dan setelah persalinan, Audy mulai berjuang menurunkan berat badan.

Ia mencoba berbagai cara, mulai dari diet populer yang ramai di internet hingga olahraga yang direkomendasikan teman. Namun, hasilnya kerap tidak bertahan lama.

“Aku ikutin semuanya, ya turun memang. Cepat turunnya, tapi once saya berhenti, cepat lagi naiknya. Itu bisa tiga kali lipat,” ujarnya.

Siklus turun-naik berat badan atau yang dikenal sebagai efek yoyo membuatnya frustrasi. Ia merasa sudah melakukan banyak hal, tetapi tak kunjung menemukan metode yang benar-benar cocok untuk menurunkan berat badannya.

Tak Sadar Mengalami Obesitas

Masalahnya, seperti banyak orang lainnya, Audy mengaku sempat tidak menyadari bahwa dirinya sudah masuk kategori obesitas. Ia hanya merasakan gejala fisik seperti mudah lelah, pusing, dan tubuh terasa tidak nyaman, tanpa mengaitkannya dengan berat badan.

“Aku tuh baru tahu kalau aku obesitas itu dari dokter,” ungkap Audy.

Pemeriksaan medis membuka matanya. Dari penghitungan indeks massa tubuh (IMT) hingga evaluasi kondisi kesehatan secara menyeluruh, Audy baru memahami bahwa obesitas adalah kondisi medis yang kompleks.

Bukan sekadar soal makan berlebih atau kurang olahraga, tetapi juga melibatkan faktor hormonal dan metabolik.

Pengalaman itu membuatnya merefleksikan kebiasaan diet ekstrem yang pernah dijalani. Bahkan, ia mengaku pernah hanya mengonsumsi sebatang cokelat besar dalam sehari demi menekan asupan kalori.

Setelah mendapat penjelasan dokter, ia baru memahami bahwa upaya-upaya instan seperti itu, justru berdampak buruk bagi tubuhnya hingga beberapa kali harus bolak-balik ke rumah sakit.

“Aku juga baru paham, bahwa kondisi tubuh orang berbeda-beda, sehingga satu metode diet belum tentu cocok untuk semua orang. Jadi, kalau berhasil di orang lain, belum tentu berhasil di kita,” jelasnya.

Mencari Bantuan Profesional

Namun kondisi itu membuat Audy menyadari, bahwa kemauan keras saja tidak cukup untuk menurunkan berat badan dan memperbaiki kondisi tubuhnya. Ia membutuhkan pendampingan tenaga kesehatan, agar program penurunan berat badan yang dijalani sesuai dengan kondisi tubuhnya.

“Aku ngerasa teman-teman di luar sana juga pasti banyak yang struggle untuk lebih sehat. Alhamdulillah sekarang ada harapan yang meringankan. Kita bisa cek dokter mana yang bisa kita datangi untuk konsultasi, karena kita enggak bisa melakukan ini sendirian. Harus dengan bantuan dokter ahli,” tutur istri Iko Uwais ini.

Melalui konsultasi medis, seperti di Novocare.id, Audy mendapatkan pendekatan yang lebih terstruktur, mulai dari pengaturan pola makan, rekomendasi olahraga yang sesuai, hingga terapi medis jika diperlukan.

Pendekatan ini membantunya keluar dari siklus diet ekstrem dan efek yoyo yang melelahkan.

Sebagai informasi, Novocare.id merupakan komitmen Novo Nordisk untuk memberikan informasi berdasarkan fakta dan pengetahuan.

Selain bisa mengecek BMI (Body Mass Index), mendapatkan informasi terkini soal obesitas, hingga layanan mencari dokter terdekat untuk berkonsultasi terkait obesitas sesuai kondisi tubuh masing-masing orang.

Bukan Lagi soal Penampilan

Bagi Audy, perubahan terbesar bukan semata angka di timbangan. Ia merasakan tubuh yang lebih ringan dan kembali aktif menjalani keseharian.

“Aku merasa lebih enteng, badan lebih lincah lagi. Tadinya pas gemuk banget aku cuma diam aja, sudah mulai enggak mau pakai sepatu hak tinggi karena sakit lututnya. Itu bener-bener wake up call banget,” katanya.

Ia juga menyinggung dampak emosional yang sempat dirasakannya akibat stigma terhadap berat badan. Komentar orang lain pernah membuatnya marah dan sedih. Namun kini, ia memilih fokus pada kesehatan dan kualitas hidup.

“Jujur saja, banyak sekali netizen yang berkomentar negatif, bahkan dengan kata kasar. Awalnya tentu marah dan sedih, tapi sekarang enggak peduli lagi. Padahal kan enggak kenal juga ya, enggak tahu juga perjuangan kita seperti apa,” papar Audy.

Kini motivasi terbesarnya sederhana, yakni keluarga. Ia ingin tetap sehat agar bisa mendampingi suami dan anak-anaknya dalam jangka panjang. Perjalanan ini, baginya, bukan lagi tentang “berani mati”, melainkan tentang “rela hidup” demi orang-orang yang dicintai.

“Kalau saya kenapa-kenapa, kalau saya sakit, anak bagaimana, suami bagaimana, siapa yang mau ngurusin mereka? Jadi memang harus fokus untuk kesehatan diri kita sendiri dulu, dengan bantuan professional tentunya” pungkasnya.

KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang