Konflik Timur Tengah Makin Panas, Bagaimana Stok BBM di Kilang Cilacap Jelang Lebaran?

Konflik antara Iran dan Israel yang menyeret Amerika Serikat membuat situasi geopolitik di Timur Tengah memanas.
Diketahui, konflik ini berimbas ke seluruh dunia, terutama pada harga minyak mentah dunia.
Kekhawatiran akan stok bahan bakar minyak (BBM) sempat menghantui masyarakat Indonesia jelang musim mudik Lebaran.
Meski begitu, Pertamina memastikan produksi BBM dari Kilang Cilacap tetap berjalan normal untuk menjaga kebutuhan energi masyarakat, terutama menjelang Idul Fitri.
Akan operasikan kilang 24 jam
Area Manager Communication, Relations, & CSR PT Pertamina Patra Niaga Refinery Unit (RU) Kilang Cilacap, Agustiawan mengatakan, pihaknya berkomitmen menjaga produksi BBM secara maksimal selama periode Ramadhan hingga arus mudik Lebaran.
Momen Ramadhan dan Idul Fitri sendiri selalu diikuti peningkatan kebutuhan energi karena mobilitas masyarakat yang tinggi untuk pulang ke kampung halaman.
“Kami berkomitmen mengoperasikan kilang secara terus-menerus selama 24 jam nonstop untuk menghasilkan produk BBM berkualitas guna memastikan ketersediaan energi bagi masyarakat,” ujar Agustiawan, Kamis (5/3/2026), dilansir dari Tribun.
Menurut Agustiawan, Kilang Cilacap memiliki kapasitas produksi mencapai sekitar 348 ribu barel per hari yang menjadi salah satu tulang punggung pasokan energi nasional.
Dengan kapasitas tersebut, Kilang Cilacap mampu menyuplai sekitar 33 persen kebutuhan BBM nasional, khususnya untuk wilayah Jawa Tengah, Jawa Timur, Bali, juga Nusa Tenggara.
Meski geopolitik Timur Tengah memanas, namun menurut Agustiawan, hal tersebut belum memberikan dampak signifikan terhadap operasional Kilang Cilacap.
“Sejauh ini apa yang terjadi secara global belum berpengaruh secara signifikan terhadap operasional kilang kami, sehingga Kilang RU IV Cilacap masih beroperasi normal dengan kapasitas maksimal,” jelasnya.
Stok BBM aman
Meski begitu, Petamina tetap memantau perkembangan situasi global, terutama terkait suplai minyak mentah impor yang menjadi bahan baku produksi.
Ia mengakui, jika pasokan minyak mentah dari luar negeri terganggu, maka dapat berpotensi memengaruhi kapasitas produksi kilang.
Namun untuk saat ini, Pertamina memastikan kondisi stok BBM bagi masyarakat jelang Lebaran masih dalam kondisi aman.
“Kami bisa pastikan stok BBM kita sangat aman, masyarakat tidak perlu panik dengan kondisi global yang sedang terjadi,” tegas Agustiawan.
Cadangan BBM di Kilang Cilacap dipastikan cukup untuk memenuhi kebutuhan masyarakat, setidaknya hingga satu bulan ke depan.
“Harapannya tentu situasi global tetap kondusif sehingga pasokan energi untuk masyarakat tidak terganggu,” pungkasnya.
Mulai impor dari AS
Sementara itu dikutip dari Antara, Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Bahlil Lahadalia menyatakan bahwa Indonesia sudah mulai melakukan impor minyak mentah dari Amerika Serikat (AS).
Langkah ini bagian dari upaya pengalihan sumber impor minyak yang sebelumnya banyak berasal dari kawasan Timur Tengah.
“Sekarang sudah mulai berjalan. Bertahap, ya, bertahap,” ujar Bahlil ketika ditemui selepas acara buka bersama di Kementerian ESDM, Jakarta, Kamis.
Proses pengalihan impor minyak tidak dapat dilakukan secara sekaligus karena adanya keterbatasan kapasitas fasilitas penyimpanan atau storage minyak mentah yang dimiliki Indonesia saat ini.
Karena keterbatasan inilah, pemerintah mendorong percepatan pembangunan fasilitas penyimpanan minyak untuk memperkuat ketahanan energi nasional.
“Saya sudah melaporkan kepada Bapak Presiden (Prabowo Subianto) dan Bapak Presiden memberikan arahan agar segera dibangun. Supaya apa? Kita ini kan butuh survival,” ucap Bahlil.
Saat ini, kemampuan penyimpanan minyak Indonesia hanya cukup untuk sekitar 25 hingga 26 hari. Nah, storage tambahan ini direncanakan mampu menyimpan hingga 90 hari atau sekitar tiga bulan sesuai standar internasional.
Bahlil menjelaskan bahwa investasi pembangunan storage tersebut akan berasal dari kombinasi investor dalam negeri dan luar negeri.
“Investasinya dicampur dari dalam negeri dan dari luar, tetapi bukan AS. Yang membangun (storage) swasta,” ujar Bahlil.
Fasilitas penyimpanan minyak mentah itu direncanakan dibangun di wilayah Sumatera.
KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang