520 SPBU di Australia Kehabisan Stok BBM Imbas Gangguan Distribusi
Dampak perang berkepanjangan di kawasan Timur Tengah mulai dirasakan sejumlah negara yang bergantung terhadap impor minyak mentah. Setelah Filipina menyatakan darurat energi, ratusan stasiun pengisian bahan bakar umum (SPBU) di Australia dilaporkan kehabisan pasokan.
Mengutip Anadolu pada Kamis, 26 Maret 2026, Menteri Energi Australia, Chris Bowen, mengungkapkan sebanyak 520 SPBU di seluruh negeri Kangguru ini menutup operasional karena stok habis. Sekitar lebih dari 500 SPBU dilaporkan kehabisan setidaknya satu jenis bahan bakar, sementara puluhan lainnya benar-benar kehabisan stok.
Di negara bagian New South Wales, situasinya bahkan lebih buruk. Dari sekitar 2.400 SPBU, tercatat 32 SPBU kehabisan seluruh jenis bahan bakar, 313 SPBU kekurangan setidaknya satu jenis BBM, dan 187 SPBU tidak memiliki stok diesel.
Otoritas setempat menyebut seluruh SPBU yang benar-benar kehabisan bahan bakar berada di wilayah regional. Kondisi ini memperlihatkan tekanan yang lebih besar terhadap masyarakat di daerah terpencil.
Ilustrasi minyak mentah.
Pemerintah federal Australia menegaskan masalah ini bukan disebabkan oleh kelangkaan pasokan secara keseluruhan, melainkan gangguan distribusi. Sebagaimana diketahui, kapal tanker pengakut minyak mentah mengalami hambatan karena Iran menutup Selat Hormuz.
Tidak tinggal diam, pemerintah pusat bergerak cepat meredakan krisis dengan melonggarkan standar bahan bakar diesel selama enam bulan guna meningkatkan pasokan di pasar domestik. Selain itu, pemerintah juga mulai melepaskan sebagian cadangan bahan bakar nasional untuk menjaga ketersediaan di tengah lonjakan permintaan.
Krisis energi ini terjadi lantaran Australia termasuk salah satu negara yang sangat bergantung pada impor bahan bakar. Ketergantungan membuat negara ini rentan terhadap gangguan pasokan global, terutama di tengah konflik yang masih berlangsung di Timur Tengah.