Bentuk Karakter Sejak Dini, Ini Alasan Kualitas Daycare Sangat Menentukan Masa Depan Anak

daycare, Taman Penitipan Anak, Psikolog anak, Dhisty Azlia, Bentuk Karakter Sejak Dini, Ini Alasan Kualitas Daycare Sangat Menentukan Masa Depan Anak

Meningkatnya jumlah keluarga dengan kedua orangtua bekerja membuat kebutuhan terhadap layanan pengasuhan anak ikut meningkat. 

Di tengah perubahan sosial tersebut, kebutuhan terhadap layanan daycare, yaitu fasilitas yang menyediakan pengasuhan, perawatan, dan pendidikan bagi bayi hingga anak usia prasekolah semakin meningkat.

Saat ini di Indonesia, istilah daycare belum memiliki definisi khusus. Bahkan, daycare dan Taman Penitipan Anak (TPA) sering dianggap sama, padahal keduanya memiliki perbedaan dalam regulasi dan cakupan layanan. 

Dalam PP Nomor 17 Tahun 2010 tentang Pengelolaan dan Penyelenggaraan Pendidikan serta Permendikbud Nomor 84 Tahun 2014 tentang Pendirian Satuan PAUD, TPA merupakan layanan PAUD nonformal yang menyelenggarakan fungsi pendidikan, pengasuhan, dan perlindungan bagi anak usia 0-6 tahun.

Sementara itu, istilah daycare belum memiliki definisi khusus dalam regulasi. Dalam pembahasan ini, daycare merujuk pada layanan pengasuhan anak sementara ketika orang tua bekerja, dengan cakupan beragam. Ada yang menyertakan pendidikan, ada pula yang hanya berfokus pada pengasuhan. 

Dalam teori ekologi perkembangan manusia yang dikemukakan Urie Bronfenbrenner, anak tumbuh dalam lingkungan yang saling terhubung, mulai dari keluarga hingga kebijakan negara.

Sesuai teori tersebut, daycare menjadi salah satu lingkungan terdekat anak yang berpengaruh terhadap tumbuh kembangnya. 

Kenapa daycare penting?

Psikolog anak dan remaja Ruang Mekar Azlia dan Unit Pelaksana Teknis Daerah Perlindungan Perempuan dan Anak (UPTD PPA) Depok, Dhisty Azlia Firnady mengatakan, daycare seharusnya tidak dipandang sekadar sebagai tempat menitipkan anak ketika orangtua bekerja. 

Daycare memiliki potensi menjadi salah satu lingkungan terdekat yang memengaruhi perkembangan anak,” ujarnya dalam keterangan tertulis yang diterima Kompas.com, Senin (25/5/2026).

Oleh karena itu, Dhisty menegaskan, kualitas layanan daycare perlu dipahami bukan hanya dari aspek fasilitas, tetapi juga dari kualitas pengasuhan dan interaksi yang diterima anak setiap hari. 

Berbagai penelitian juga menunjukkan, kualitas pengasuhan di daycare berkaitan erat dengan perkembangan anak. 

Penelitian longitudinal dari National Institute of Child Health and Human Development (NICHD) menemukan, daycare yang berkualitas berkontribusi terhadap perkembangan bahasa, kemampuan kognitif, serta kesiapan sekolah anak. 

“Anak belajar melalui interaksi sehari-hari. Aktivitas sederhana, seperti makan bersama, bermain, membereskan mainan, atau berinteraksi dengan teman sebaya sebenarnya merupakan bagian penting dari proses belajar anak,” ujar Dhisty.

Ia juga menjelaskan, masih ada pemahaman yang perlu diluruskan mengenai fungsi daycare

Dhisty mengatakan, banyak orang masih melihat daycare hanya sebagai tempat “menjaga” atau bahkan “menitipkan” anak. Padahal, pengasuhan memiliki makna yang jauh lebih luas. 

Menurutnya, menjaga berfokus pada pemenuhan kebutuhan fisik dasar anak. Sementara itu, mengasuh merupakan proses aktif dan responsif untuk mendukung perkembangan anak secara menyeluruh, termasuk aspek emosi, sosial, karakter, dan kemampuan belajar anak.

Dalam pengembangan anak usia dini, interaksi yang responsif merupakan fondasi utama pembelajaran. 

Anak belajar bukan hanya melalui kegiatan akademik, tetapi juga melalui hubungan sehari-hari dengan orang dewasa di sekitarnya. 

Untuk itu, pengasuh di daycare tidak hanya bertugas mengawasi, tetapi juga membangun interaksi yang hangat, responsif, dan suportif bagi anak. 

“Relasi yang hangat dan konsisten membantu anak membangun rasa aman, percaya diri, dan keberanian mengeksplorasi lingkungan,” kata Dhisty.

Sebaliknya, lingkungan pengasuhan yang penuh kekerasan, pengabaian, atau minimnya interaksi dapat berdampak terhadap perkembangan emosi dan perilaku anak di kemudian hari.

Tips memilih daycare

Lebih lanjut, Dhisty menjelaskan hal-hal yang perlu diperhatikan orangtua ketika memilih daycare, baik lokasi, biaya, atau hal yang lebih mendasar.

Salah satu faktor yang dia tekankan adalah legalitas dan izin operasional. Menurut Dhisty, kedua hal mendasar ini perlu dipastikan. 

Selain itu, orangtua juga perlu memperhatikan kompetensi pengasuh, rasio pengasuh dan anak, program stimulasi harian, hingga sistem keamanan yang diterapkan di daycare.

“Perhatikan juga bagaimana pengasuh berinteraksi dengan anak. Apakah komunikasinya hangat dan responsif, apakah ada transparansi informasi kepada orangtua, dan bagaimana sistem perlindungan anak diterapkan di daycare tersebut,” katanya.

Dhisty juga menyarankan orangtua mencari masukan dari keluarga lain yang pernah menggunakan layanan daycare tertentu. 

Pengalaman orangtua lain, menurutnya, dapat membantu memberikan gambaran mengenai pola pengasuhan, komunikasi, keamanan, dan kenyamanan anak selama berada di daycare.

Daycare sebagai bagian dari ekosistem pengembangan anak usia dini 

Kualitas daycare tidak dapat dipisahkan dari upaya membangun pendidikan bermutu sejak usia dini. 

Untuk itu, daycare perlu dipandang sebagai bagian dari sistem pengembangan anak usia dini yang terintegrasi, bukan sekadar layanan penitipan anak. 

Penguatan kualitas daycare juga memerlukan dukungan sistem yang lebih luas, mulai dari regulasi, pengawasan, peningkatan kapasitas pengasuh, hingga dukungan bagi keluarga pekerja. 

Di sisi lain, berbagai kasus kekerasan di daycare yang belakangan muncul menjadi pengingat bahwa kualitas pengasuhan anak masih menjadi tantangan serius. 

Data Sistem Informasi Online Perlindungan Perempuan dan Anak (SIMFONI PPA) menunjukkan, kekerasan terhadap anak masih tinggi secara nasional, dengan 19.628 kasus kekerasan terhadap anak sepanjang 2020-2024. 

Dalam konteks daycare, tingginya kasus tersebut perlu dipahami sebagai pengingat bahwa anak usia dini merupakan kelompok yang sangat rentan terhadap kekerasan di lingkungan pengasuhan, terutama ketika kualitas relasi, pengawasan, dan perlindungan anak belum menjadi prioritas utama dalam penyelenggaraan layanan. 

Padahal, berbagai penelitian menunjukkan, pengalaman kekerasan pada masa kanak-kanak dapat berdampak panjang terhadap kesehatan mental maupun fisik anak di masa depan.

Dhisty menegaskan, kasus-kasus kekerasan yang muncul seharusnya menjadi momentum refleksi untuk memperkuat sistem pengasuhan anak usia dini di Indonesia. 

Daycare adalah ruang tumbuh yang ikut membentuk pengalaman awal kehidupan anak,” ujarnya. 

Maka dari itu, kebutuhan setiap anak untuk mendapatkan pengasuhan yang aman, hangat, dan berkualitas tidak bisa dibebankan hanya kepada keluarga, tetapi juga memerlukan kolaborasi dari banyak pihak. 

“Dibutuhkan dukungan yang lebih luas, mulai dari regulasi, pengawasan, peningkatan kapasitas pengasuh, hingga dukungan bagi keluarga pekerja,” tutur Dhisty.

KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang