Mengapa Orang yang Disukai Banyak Orang Sering Merasa Kesepian? Ini Alasannya

Mengapa Orang yang Disukai Banyak Orang Sering Merasa Kesepian? Ini Alasannya, Disukai, tapi tidak benar-benar dikenal, Terjebak dalam peran sosial, Hubungan yang cenderung dangkal, Takut menunjukkan sisi rentan, Selalu memberi, jarang menerima, Kesepian di tengah keramaian, Membangun koneksi yang lebih bermakna

Di tengah keramaian, tawa, dan percakapan yang mengalir, tidak semua orang merasa benar-benar terhubung.

Ada fenomena yang kerap terjadi namun jarang disadari: orang yang dikenal ramah, menyenangkan, dan disukai banyak orang justru bisa merasa paling kesepian, terutama saat berada di lingkungan sosial yang ramai.

Sekilas, kondisi ini tampak kontradiktif. Bagaimana mungkin seseorang yang memiliki banyak teman dan relasi sosial tetap merasa sendiri?

Psikoterapis F. Diane Barth, LCSW, menyebutkan bahwa orang lain sering kali dipahami bukan sebagai individu yang utuh, melainkan dilihat dari sudut pandang bagaimana hubungan terjalin dengan mereka.

"Sejak awal hidup kita, kita membutuhkan orang lain untuk merefleksikan kembali kepada kita bahwa mereka melihat kita dalam semua kompleksitas kita dan bahwa mereka peduli pada kita, bahkan dengan kekurangan dan keterbatasan kita," ungkapnya dikutip dari Your Tango, Senin (4/5/2026).

Disukai, tapi tidak benar-benar dikenal

Orang yang “likable” biasanya pandai bersikap hangat dan membuat orang lain nyaman.

Namun, dalam banyak kasus, mereka lebih sering menampilkan versi diri yang menyenangkan, bukan yang sepenuhnya jujur.

Akibatnya, orang lain menyukai mereka, tetapi tidak benar-benar mengenal siapa mereka sebenarnya.

Terjebak dalam peran sosial

Dalam kelompok, mereka kerap mengambil peran sebagai “pencair suasana”, yang mencairkan obrolan, menjaga dinamika tetap hidup, atau memastikan semua orang merasa nyaman.

Tanpa disadari, peran ini membuat mereka lebih fokus pada orang lain, bukan pada kebutuhan emosional diri sendiri.

Psikolog Susan David menyebut kondisi ini sebagai kurangnya emotional openness, yaitu kecenderungan menahan atau menyembunyikan emosi demi menjaga citra diri.

“Ketika kita terus-menerus menekan apa yang kita rasakan, kita justru menjauh dari diri sendiri dan orang lain,” jelasnya.

Mengapa Orang yang Disukai Banyak Orang Sering Merasa Kesepian? Ini Alasannya, Disukai, tapi tidak benar-benar dikenal, Terjebak dalam peran sosial, Hubungan yang cenderung dangkal, Takut menunjukkan sisi rentan, Selalu memberi, jarang menerima, Kesepian di tengah keramaian, Membangun koneksi yang lebih bermakna

Hubungan yang cenderung dangkal

Meski memiliki banyak interaksi, sebagian besar hubungan yang terjalin berada di permukaan, sebatas percakapan ringan atau small talk.

Tanpa ruang untuk berbagi hal yang lebih personal, koneksi emosional sulit terbentuk.

Dalam konteks ini, John Cacioppo, peneliti kesepian dari University of Chicago, menyatakan bahwa kesepian bukan tentang jumlah relasi, melainkan kualitasnya.

“Kesepian adalah kesenjangan antara hubungan sosial yang diinginkan dan yang dimiliki,” ungkapnya.

Takut menunjukkan sisi rentan

Orang yang terbiasa dianggap “menyenangkan” sering kali merasa perlu menjaga citra tersebut.

Mereka khawatir bahwa menunjukkan kesedihan, kebingungan, atau kelemahan akan mengubah cara orang lain memandang mereka.

Padahal, kerentanan (vulnerability) justru menjadi pintu masuk bagi hubungan yang lebih dalam.

Selalu memberi, jarang menerima

Mereka cenderung menjadi pendengar yang baik, tempat orang lain bercerita, dan sosok yang suportif.

Namun, tidak semua dari mereka mendapatkan ruang yang sama untuk didengar. Ketidakseimbangan ini dapat memicu perasaan kosong dalam relasi.

Kesepian di tengah keramaian

Fenomena ini sering disebut sebagai lonely in a crowd, merasa sendirian meski dikelilingi banyak orang. Kesibukan sosial bisa menutupi perasaan tersebut, tetapi tidak benar-benar menghilangkannya.

Membangun koneksi yang lebih bermakna

Mengatasi kesepian tidak selalu berarti menambah lingkar pertemanan.

Sebaliknya, yang dibutuhkan adalah membangun hubungan yang lebih jujur dan mendalam.

Ini bisa dimulai dari keberanian untuk lebih terbuka, menetapkan batasan yang sehat, serta memberi ruang bagi diri sendiri untuk didengar.

Pada akhirnya, disukai banyak orang memang menyenangkan.

Namun, kebahagiaan yang lebih dalam hadir ketika seseorang merasa dipahami, diterima, dan terhubung secara emosional, bukan sekadar hadir di tengah keramaian.

KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang