Meninggal Dunia di Bulan Ramadhan Tanda Khusnul Khotimah? Begini Kata Ustaz Adi Hidayat
Bulan Ramadhan dikenal sebagai masa yang sarat dengan keberkahan dan keutamaan dalam ajaran Islam. Pada bulan inilah umat Muslim berlomba-lomba meningkatkan ibadah, mulai dari puasa, salat malam, hingga sedekah dan membaca Al-Qur’an.
Tidak mengherankan jika Ramadhan kerap dipandang sebagai bulan yang istimewa, penuh ampunan, serta dilipatgandakannya pahala atas setiap amal kebaikan. Scroll lebih lanjut yuk!
Di tengah pandangan tersebut, muncul anggapan di tengah masyarakat bahwa seseorang yang meninggal dunia pada bulan Ramadhan otomatis memperoleh predikat khusnul khotimah atau akhir kehidupan yang baik.
Persepsi ini sering kali berkembang secara spontan sebagai bentuk harapan dan doa bagi almarhum. Namun, benarkah wafat di bulan suci Ramadan ini dapat dijadikan jaminan mutlak atas kebaikan akhir hidup seseorang di sisi Allah SWT?
Menanggapi hal tersebut, Ustaz Adi Hidayat memberikan penjelasan yang lebih proporsional dan mendalam. Ia menegaskan bahwa fenomena meninggal dunia di bulan Ramadhan perlu dipahami melalui dua sudut pandang utama.
“Orang yang meninggal di bulan Ramadhan, kita lihat dari dua sudut pandang,” jelasnya, dikutip Selasa 3 Maret 2026.
Sudut pandang pertama adalah aspek waktu. Dalam ajaran Islam, memang terdapat waktu-waktu yang dimuliakan oleh Allah SWT, baik dalam skala harian, bulanan, maupun tahunan.
“Dari waktu memang ada yang diistimewakan oleh Allah SWT. Berbeda dengan waktu lainnya, ada waktu harian, sepertiga malam, ada waktu bulanan, dan ada waktu tahunan seperti Ramadhan,” terangnya.
Pada bulan Ramadhan, suasana ibadah menjadi lebih kuat dan peluang untuk mengumpulkan pahala terbuka lebih luas.
Namun demikian, Ustaz Adi Hidayat menegaskan bahwa kemuliaan waktu tidak serta-merta menjadi penentu nilai akhir kehidupan seseorang.
“Apakah waktu ini bisa menjamin ketika seseorang meninggal di bulan Ramadhan menjadi pertanda kebaikan? Belum tentu,” tegasnya.
Sudut pandang kedua, yang justru dinilai paling krusial, adalah kualitas keimanan dan amal saleh semasa hidup.
“Maka ini diukur oleh bagian kedua, sebaik apa amal shaleh yang ia kerjakan. Ini yang paling penting,” ujarnya.
Ia menekankan bahwa ukuran kebaikan seseorang di hadapan Allah SWT tidak ditentukan oleh momen wafat semata, melainkan oleh konsistensi iman dan perbuatan selama hidup.
“Apa Anda bisa mengatakan kalau ada orang fasik, orang kriminal meninggal di bulan Ramadhan, apa dia istimewa? Bahkan ada orang kafir meninggal saat bulan Ramadhan, apa ini menandakan dia orang baik di hadapan Allah? Belum tentu,” ujar Ustaz Adi Hidayat.
Lebih lanjut, ia juga mengingatkan bahwa ajal sepenuhnya berada dalam ketetapan Allah SWT dan tidak dapat dipilih oleh manusia. Seseorang bisa saja dipanggil menghadap Sang Khalik kapan pun, bahkan sesaat sebelum Ramadhan tiba.
Oleh karena itu, menggantungkan harapan pada waktu tertentu tanpa diiringi upaya memperbaiki iman dan amal merupakan kekeliruan.